ROEMBOER, Tentang Cerita Modiste Legendaris Tangerang

Bangunan di Pasar Lama Tangerang ini unik karena bagian utamanya bergaya Tionghoa abad ke-18, dan bagian sampingnya bergaya kolonial.

Oleh Silvia Galikano

ROEMBOER Tangga Ronggeng, Pasar Lama Tangerang
ROEMBOER Tangga Ronggeng, Pasar Lama Tangerang. (Foto: Silvia Galikano, 2019)

Ada dua hal yang menggelitik tentang bangunan ini. Yang pertama, namanya. Yang kedua, bangunannya. Namanya, ROEMBOER – Tangga Ronggeng, itu juga dari dua sejarah yang berbeda.

Rumah di Jalan Cilangkap No.44, Pasar Lama, Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang ini dahulu milik modiste kebaya encim, lantas dijadikan sarang burung walet, sebagaimana beberapa rumah lain di Pasar Lama. Dari sanalah nama Roemboer (Roemah Boeroeng) didapat.

Baca juga Tentang Cokek dan Geolnya

Sedangkan nama Tangga Ronggeng berasal dari keberadaan rumah judi di tepi Cisadane yang kerap mendatangkan ronggeng pada awal abad ke-20. Sehingga disebutlah tepian sungai tempat mereka mandi itu sebagai Tangga Ronggeng. Untuk informasi, sekira 100 meter dari Tangga Ronggeng ada Tangga Jamban, yang dahulu adalah tangga yang digunakan masyarakat turun menuju jamban (MCK umum) di tepi Cisadane.

Roemboer dimaksudkan sebagai Museum Kuliner. Namun karena sekarang masih dalam tahap menghimpun materi dan biaya untuk menutup operasionalnya, untuk sementara, Roemboer hanya digunakan untuk kegiatan-kegiatan budaya, seperti Sincia, Capgome, Pehcun serta menerima tamu-tamu khusus.

Lantai 1 Roemboer adalah lobi, ruang registrasi, dan dapur. Lantai 2 dinamakan Ruang Retro untuk memamerkan kamera kuno dan untuk demo kaligrafi. Sedangkan lantai 3 adalah Restoran yang menyediakan menu Peranakan.

Baca juga Rumah Cilame, Jendela Zaman Emas hingga Masa Kelam

Karena letaknya hanya terpisahkan jalan dengan Sungai Cisadane (bangunan membelakangi sungai), maka pemandangan dari jendela adalah sungai bersejarah ini dengan sampan kayu yang membawa penumpang menyeberang.

Pemilik Roemboer, Udaya Halim (Lim Tjin Pheng, 66 tahun), adalah juga pemilik Museum Benteng Heritage di Pasar Lama Tangerang. Benteng Heritage, yang sebelumnya rumah tinggal milik keluarga Loa, direstorasi dan kini difungsikan sebagai museum Tionghoa Benteng.

Udaya, yang lahir hingga dewasa di Pasar Lama, menyebut Rumah Cilangkap 44 yang asalnya dua lantai tersebut adalah salah satu bangunan unik di kawasan Pasar Lama sewaktu dia kecil. Pasalnya bagian utamanya bergaya Tionghoa abad ke-18, dan bagian sampingnya bergaya kolonial yang ditambahkan pada akhir abad ke-19.

Persis di depan rumah nomor  44 adalah rumah penulis buku silat terkenal Oey Kim Tiang (OKT, 1903 – 1995).

Baca juga Pintu Candra Naya di Rumah Tionghoa Peranakan

Pemilik semula Rumah Cilangkap 44 adalah keluarga Pee. Istrinya dikenal dengan panggilan “Encim Pon”, adalah seorang modiste terkenal di Tangerang yang khusus membuat bordir kerancang kebaya.

Pada 1973 Rumah Cilangkap 44 dijual ke orang Jakarta pengusaha burung walet untuk dijadikan sarang burung walet. Harga sarang walet tahun 1980-an bisa mencapai US$5 ribu per kilogram, tak heran jika banyak terjadi kasus pencurian sarang walet. Untuk mencegah pencuri, pemilik rumah ini mengecor dinding rumah dan atap yang membuat bagian dalam rumah hancur.

“Coba Anda lihat, isi bangunan semua betonan dan seperti rumah hantu yang menyeramkan,” ujar Udaya sambil menunjukkan foto-foto sebelum rumah direstorasi. “Sayang tidak ada sepotong pun barang Encim Pon yang tertinggal setelah dijadikan sarang burung walet.”

Baca juga Warisan Ternama di Pecinan Jakarta

Udaya membeli Rumah Cilangkap 44 lantas merestorasinya sepanjang sepanjang awal 2013 hingga akhir 2014 dengan mengembalikan ke bentuk semula sepanjang masih ada jejaknya. Semua kayu dan genting digunakan kembali.

ROEMBOER Tangga Ronggeng, Pasar Lama Tangerang
Proses restorasi rumah Cilangkap 44. (Dok. Udaya Halim)

Keunikan rumah ini menjadi tantangan saat merestorasi, yakni tinggi atap dan kontur lantai di lantai 2 tidak rata.

“Cukup memakan otak untuk mencari solusi. Mungkin bila orang lain akan memutuskan untuk membongkar total, tetapi saya tetap berpegang pada prinsip pertahankan semaksimal mungkin dan mengganti seminimal mungkin (maximum retaining and minimum replacing),” ujar Udaya.

Udaya dan tim restorasi akhirnya menambah satu lantai lagi dengan menyingkap sedikit atap wuwungan untuk mendapatkan ketinggian. Tepian atap dibuka serta ditambah balkon dari beton cor di lantai 3. Dibuat juga pendopo di tempat yang tadinya beratap lebih rendah.

Baja yang dikamuflase pun terpaksa digunakan untuk menurunkan 60 cm langit-langit di bagian Ruang Retro lantai 2 untuk memberi ruang dan ketinggian lantai atasnya. Itu sebab di lantai 2 ada tiga kontur lantai yang masing-masing dihubungkan dengan tangga-tangga pendek tiga anak tangga.

Untuk memperingati nasib Rumah Cilangkap 44 yang pernah dijadikan sarang burung walet, Udaya memberi nama baru Roemboer atau Rumah Burung. Hiasan burung dipasangkan di atapnya, juga di bagian muka lantai 2 dipasang keramik berbentuk burung walet.

Sejak 2015, Roemboer menggelar acara-acara budaya Peranakan. Perayaan Pehcun tahun 2019, misalnya, dengan tema cabe sebagai lambang kejujuran dan kesetiaan, Roemboer membuat lomba merangkai dan mendekorasi cabe, lomba membuat gado-gado dan sambal, pameran pohon dan bibit cabe, serta bazaar makanan pedas.

***
Dari menghadiri Festival Cabe, rangkaian Festival Perahu Naga, di ROEMBOER – Tangga Ronggeng, Sabtu, 15 Juni 2019.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.