JAUH SEBELUM ADAIK BASANDI SYARAK

Sejarah Minangkabau yang diglorifikasi selama ini menghasilkan kesan Minangkabau lahir dari keberadaan Imam Bonjol berikut perang (dan pembantaian oleh gerombolannya) pada 1803 – 1838. Padahal kejadian itu baru “kemarin sore”.

Bagaimana dengan Minangkabau Pra-Islam?

Jika ini benar, akan menjungkirbalikkan alur “sejarah” yang sudah berurat-berakar selama ini di Minang.

Tulisan berikut saya copas dengan sedikit editing tanpa mengubah makna kalimat, dari Fan Page Facebook Spiritual Andalas:

==

dublan, hulubalang perang padri
Dublan, hulubalang, perwira Melayu di pihak Belanda saat Perang Padri. (Dok. KITLV, 1830)

Saya (NN) hanya keturunan kaum Bangsawan Istano Basa Pagaruyung yang lari terbirit-birit dari Darek Alam Minangkabau (Tanah Asal, yakni Batu Sangkar, Kabupaten Tanah Datar saat ini) ke pedalaman, kaki Gunung Kerinci (sekarang Provinsi Jambi). Berjalan kaki sejarak 400-an kilometer menembus belantara pedalaman Sumatera untuk mencari suaka.

Waktu berlalu, 600 tahun sudah terlewati. Abad ke-14 Masehi tragedi itu dimulai. Mereka generasi awal Kaum Paderi (istilah Paderi mungkin belum ada). Tuanku Imam Bonjol belum lahir. Belanda pun belum datang ke Indonesia.

Kisah itu masih dituturkan turun temurun oleh tetua adat kampung kami. Kami selalu diceritakan tentang “Istana di atas bukit yang menghadap matahari terbit”. Di sana terdapat altar sesaji di tengah-tengah halaman.

Baca juga Pernah Azan Berkumandang Sayup di Musajik Usang

Yaa… kami “Penyembah Matahari”, manifestasi Tuhan itu sendiri.
Itu yang saya lakukan tiap pagi, saat ini. Itulah yang leluhur saya ajarkan, berabad-abad lalu. Jauh lagi, sebelum itu, yang diajarkan leluhurnya leluhur saya.

Lalu cerita dibakar dan dibumihanguskannya Istana “Matahari” di atas bukit itu lalu diganti Istana “Silindung Bulan” yang artinya di bawah lindungan Bulan Sabit, lambang tentara Usmaniyah. Itulah Istano Basa Silindung Bulan yang ada di Batu Sangkar saat ini.

Baca juga Indonesia Meniti Garis

Dalam Tambo (silsilah), saya adalah keturunan ke-11 dari Puti Salido Pinang Masak, keponakan Datuk Prapatih Nan Sabatang, peletak dasar adat Minangkabau.

Saat itu “Inyiak” Puti Salido Pinang Masak dan adiknya Puti Selaras Pinang Masak hendak ditawan, dijadikan gundik/harem oleh kaum Paderi, yang bersekutu dengan tentara Turki Usmani.  Keduanya kemudian dibawa kabur oleh paman beliau, Datuk Prapatih Nan Sabatang, didampingi hulubalang dan abdi dalemnya.

Dengan lobi yang alot, demi mendapatkan suaka, Puti Salido Pinang Masak dinikahkan dengan penguasa Kerinci bagian Hilir Sigindo Sri Segerinting yang seorang bujangan tua.

Nah… kami inilah keturunannya.

Baca juga Tari, dari Tradisi hingga Mengindonesia

Sisa-sisa peradaban Pagaruyung Pra-Islam sangat kental di kampung saya, Kerinci. Adat Minang yang murni tanpa ada bau-bau Arab justru adanya di Kerinci.

Adat basandi ka alam
(Adat bersandi ke alam)
Alam basanda ka Nan Aso
(Alam bersandar ke Tuhan yang Maha Esa)
Adat manuruik Alua jo Patuik
(Adat berdasar Keselarasan dan Kepantasan)
Lareh Aka Budhi Caniago
(Keselarasan Alam dan Fikiran)

Baca juga Emi Rose Sang Pembaca Ampas Kopi

Nama-nama kampung tempat “pengungsi” di Kerinci ini pun dibuat nyaris sama dengan Darek (Daerah Asal).

Di sana Batu Sangkar, di sini Pulau Sangkar,
di sana Lubuk Paraku, di sini Lubuk Paku,
di sana Talang Paung, di sini Salang Paung,
di sana Gunung Marapi, di sini Gunung Merapi (sebelum menjadi Gunung Kerinci sekarang).

Ninik mamak masih sebagai Ninik mamak layaknya Darek.
Belum lagi bahasa asli Minangkabau yang diserap di sini.
Belum lagi masakan, seni budaya, arsitektur….

Baca juga Melongok Kejayaan Siak

Kami masih mengunjungi daerah asal kami di Batusangkar sebelum acara adat digelar di sini (kami masih mengantarkan sirih dan pinang sebagai penghormatan)

Yaaaa.., saya ini “hanya” secuil turunan bangsawan Minangkabau yang leluhurnya selamat dari pembunuhan atau perbudakan pemuasan nafsu seks.

“Terbit matahari dari timur. Ayam berkokok di tengah malam menjelang fajar. Kebangkitan akan dimulai,” pesan/pituah Datuk Prapatih Nan Sabatang sebelum beliau batarak maragan/samadhi menuju moksa/niskala.

***

One Reply to “JAUH SEBELUM ADAIK BASANDI SYARAK”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.