Gereja Bethel, Jejak Pekabaran Injil di Tanah Sunda

Gereja Protestan Bethel, Bandung
Gereja Protestan Bethel, Bandung. (Foto Silvia Galikano, 2017)

 

GPIB Bethel, Bandung
Jalan Wastukencana, Bandung.

Dibangunnya Gereja Bethel tak lepas dari giatnya pekabaran Injil di Tanah Sunda pada abad ke-19. Saat itu banyak orang Belanda datang dan menetap di Bandung sebab udaranya yang sejuk.

Oleh Silvia Galikano

Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Bethel berada di simpang Jalan Braga, Jalan Perintis Kemerdekaan, dan Jalan Wastukencana, Bandung. Bangunan seluas 459 meter persegi yang berdiri di lahan 4000 meter persegi ini mampu menampung 450 jemaat.

Baca juga Gereja Katedral St. Petrus, Bandung

Gereja Bethel berlantai satu, memiliki orientasi timur-barat dengan bagian depan menghadap timur. Di dinding pintu selatan terdapat batu peringatan terbuat dari marmer yang bertuliskan tanggal peresmian dan ayat-ayat dari Alkitab.

Di atas pintu utama berbentuk lengkungan membusur dengan kaki-kaki berupa tiga kolom corinthian di sisi kanan dan kiri. Di lengkungan itu tertulis bahasa Latin yang menyatakan bahwa rumah ini persembahan bagi Tuhan.

Baca juga OLVEH dan Jeniusnya Schoemaker

Di sisi luar kolom  corinthian adalah sepasang jendela jalusi di kiri dan sepasang di kanan.

Gereja Protestan Bethel, Bandung
Gereja Protestan Bethel, Bandung. (Foto Silvia Galikano, 2017)

Secara garis besar Gereja Bethel memiliki dua ruangan, yaitu ruang jemaat dan ruang konsistori. Ruang jemaat berada paling depan dari arah gerbang dan merupakan ruang paling luas. Di sinilah semua jemaat berkumpul bersama majelis dan pendeta untuk beribadah bersama.

Ruang jemaat dihiasi jendela patri berbingkai membusur dengan 10 lubang angin, lambang 10 perintah Tuhan kepada Nabi Musa. Jendela terdiri dari dua bagian atas dan bawah.

Baca juga Gereja Sion, Dari Rumah Ibadah Portugis Hitam

Jendela atas berbentuk setengah lingkaran dan bagian atasnya dapat dibuka. Sedangkan jendela bawah berbentuk persegi panjang vertikal. Di bawah jendela terdapat lubang-lubang ventilasi berbentuk persegi empat.

Denah ruang jemaat berbentuk salib berlengan sama panjang (salib Portugis). Di ruang ini terdapat pintu penghubung dengan menara di sisi selatan ruang jemaat. Di bagian atas menara dipasang jam dinding di setiap sisinya.

Ruang paling belakang adalah ruang konsistori yang berdenah persegi panjang. Jika ruang jemaat dan ruang konsistori digabung akan membentuk denah salib dengan satu sisi lebih panjang.

Ruang konsistori adalah ruang untuk persiapan para majelis dan pendeta sebelum melaksanakan ibadah.

Baca juga Warisan Ternama di Pecinan Jakarta

Di tengah ruang konsistori terdapat meja panjang dan bangku sebagai tempat untuk berkumpul serta empat lampu gantung berbentuk bola. Di sisi timur ruangan ada lemari yang terhubung dengan orgel pipa di ruang jemaat.

Gereja Protestan Bethel, BandungGereja Protestan Bethel, Bandung
Gereja Protestan Bandung, 1925. (Dok. KITLV)

Dibangunnya gereja ini tak lepas dari giatnya pekabaran Injil di Kota Bandung sekitar tahun 1870-an oleh Nederlandsche Zendingsvereeniging (NZV, Asosiasi Misionaris Belanda) yang sudah melepaskan diri dari induknya Nederlandsche Zending Genootschap (NZG, Serikat Misonaris Negeri Belanda, berpusat di Rotterdam, Belanda).

Pendeta yang pertama ditugaskan di Bandung adalah J.F.N. Brouwer pada 1885, disusul A. Buys (1887), J. C.Pool (1890-1893), dan J.A. Tijdeman (1893-1897).

Baca juga Isola dan Misteri Raja Media

Sepanjang 1893-1897 semakin banyak orang Belanda yang datang ke Bandung, sehingga semakin banyak pula jemaat di kota ini. Pendeta Tijdeman mencetuskan pembangunan tempat ibadah.

Rumah ibadah sederhana dengan ukuran yang cukup menampung semua jemaat rampung dibangun pada 11 April 1897.

Jemaat terus saja bertambah. Hingga pada 1916, sidang jemaat sepakat membangun gereja baru. Pada Februari 1917, Dewan Gereja menyetujui salah satu gambar yang ditawarkan pemborong di Semarang, Harmsen en Plagge. Sketsa ini berbentuk salib Portugis yang berlengan sama panjang.

Baca juga Dari Data, Bicara Sejarah

Dari beberapa pilihan untuk lahan gereja baru, antara lain Insulinde Park (sekarang Taman Lalu Lintas), Pieters Park (sekarang gedung Balai Kota Bandung), dan lahan dekat gereja lama, lokasi gereja baru akhirnya diputuskan di lahan milik jemaat bernama T.J. Jaski di dekat gereja lama.

Pembangunan gereja dianggarkan sekitar 40 ribu gulden. Pada 1922 terkumpul sumbangan jemaat sebesar 5000 gulden. Setahun kemudian, pada masa Pendeta N. Klassen, jumlah itu bertambah menjadi 14 ribu gulden, dan pada tahun 1924 menjadi 20 ribu gulden.

Pada 1 Mei 1924 dimulai pembangunan gereja baru dengan sketsa gambar yang diberikan secara cuma-cuma oleh arsitek C.P.Wolff Schoemaker yang memilih gaya romanesque (juga arsitektur gothic untuk Gereja Katedral St. Petrus yang juga karyanya), pengaruh citra bangunan gereja di Eropa.

Baca juga Observatorium Bosscha

Wolff Schoemaker
CPW Schoemaker

Anggaran pembangunan membengkak karena penambahan bangunan utama berupa ruang koster, ruang katekisasi, gudang, parkir sepeda, dan menara setinggi 16 meter.

Albertus Napitupulu dalam skripsi berjudul Bentuk dan Gaya Gereja GPIB Bethel di Bandung (2009) menuliskan bahwa sumbangan yang bersifat pribadi diberikan bangsawan Von Klitzing-Baud sebesar 10 ribu gulden dan orgel pipa sebanyak 3.000 pipa.

Nyonya Von Freiburg-Hardeij menyumbang lampu hias berukuran besar yang digunakan untuk ruang utama. Nyonya Monceau menyumbang satu mimbar khotbah.

Baca juga Mengantar Ging Ginanjar (1)

Penyumbang yang berasal dari instansi antara lain dari Javaansche Handel Maatschappij menyumbang pintu depan, Firma Bunning & Co dari Cirebon menyumbang batu alam, serta sumbangan besi dari murid-murid Ambachtsschool (Sekolah Pertukangan).

Gedung lama akhirnya dirubuhkan pada 20 Mei 1924, dan awal Juli 1924 dilaksanakan peletakan batu pertama gereja baru. Selama 10 bulan jemaat beribadah secara berpindah-pindah, salah satunya di Hoogere Burgerschool (HBS, sekarang Santa Ursula).

Gedung gereja baru selesai dibangun di akhir Februari 1925 dan diresmikan pada 1 Maret 1925 bertepatan dengan Minggu Advent pertama. Saat inilah menara lonceng yang melambangkan keagungan Tuhan didentangkan pertama kali, pukul 09.15 WIB.

Lewat keputusan Dewan Gereja, gedung gereja baru diberi nama De Nieuwe Kerk.

De Nieuwe Kerk kemudian pada 1964 berganti nama menjadi Bethel berdasar keputusan Sidang Pleno Majelis Jemaat GPIB Bandung. Nama Bethel merujuk pada Kitab Kejadian, bermakna rumah Tuhan atau pintu gerbang surga.

Baca juga Mengiring Cetak Saring Sunaryo

Setelah Indonesia merdeka terjadi pengambilan aset bangsa asing oleh pemerintah Indonesia. Nama-nama asing pun diganti menjadi bahasa Indonesia. Sidang paripurna majelis jemaat gereja pada 1964 memutuskan mengubah nama gereja ini menjadi Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Bethel.

Gereja Bethel dinyatakan sebagai bangunan cagar budaya lewat Perda Kota Bandung Nomor 19 tahun 2009 tentang Pengelolaan Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.