Makam Kehormatan Belanda Ereveld Pandu

ereveld pandu, kerkhof pandu, Pandoekerkhof, makam wolff schoemaker
Monumen Umum di dekat pintu masuk Ereveld Pandu, 2018. (Foto Silvia Galikano)

Ereveld (Makam Kehormatan Belanda) Pandu di Jalan Pandu, Cicendo, Bandung adalah satu dari tujuh Makam Kehormatan Belanda di Indonesia. Diresmikan pada 7 Maret 1948 dan dikelola oleh Yayasan Makam Kehormatan Belanda (Oorlogsgravenstichting, OGS).

Di sini dimakamkan lebih dari 4000 korban perang (orang Belanda dan Indonesia) melawan tentara Jepang saat Perang Dunia II (1941 – 1945) dan selama masa revolusi setelah PD II (1945 – 1949).

Baca juga Maktuo Cengkareng

Dimakamkan juga orang Indonesia yang berdinas sebagai tentara Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL, Angkatan Darat Kerajaan Belanda di Hindia Belanda), orang-orang Belanda—laki-laki, perempuan, dan anak-anak—yang meninggal di kamp konsentrasi Jepang semasa PD II.

Antara tahun 1960 – 1970 banyak korban perang dari ereveld di luar Pulau Jawa, seperti Muntok, Palembang, dan Makassar dimakamkan kembali di sini. Tujuannya mengurangi jumlah ereveld yang tadinya 22 menjadi tujuh ereveld.

Di Ereveld Pandu terdapat beberapa monumen khusus, seperti Monumen Umum di dekat pintu masuk, Monumen KNIL, Monumen Tjiater, dan Monumen Padalarang.

Monumen Padalarang adalah penanda kelompok makam anggota grup musik yang diundang untuk menghibur tentara Belanda. Mereka datang bersama yang lain, namun tewas dalam kecelakaan pesawat militer KNIL di Padalarang, 10 Februari 1948.

Baca juga Joseph Johannes, Pria Armenia dari Bukit Simongan

Dengan merawat Makam Kehormatan Belanda di Indonesia, Yayasan Makam Kehormatan Belanda ingin memastikan agar para korban dan cerita di balik mereka bisa tetap dikenang dan penggalan sejarah ini mendapatkan pengakuan yang selayaknya.

ereveld pandu, kerkhof, pandoekerkhof, TPU pandu, makam wolff schoemaker
Monumen Padalarang di Ereveld Pandu, 2018. (Foto Silvia Galikano)

 

 Makam Schoemaker

Charles Prosper Wolff Schoemaker adalah salah satu arsitek pelopor gedung-gedung bersejarah di Bandung, dengan peninggalan sekitar 25 gedung di Bandung.

Gedung-gedung itu antara lain Gedung Merdeka (1921), Gereja Katedral Bandung (1921), Bioskop Majestic (1922), Landmark (1922), Gereja Bethel (1925), Observatorium Bosscha (1928), Hotel Preanger (1927), Villa Isola (1932), Masjid Cipaganti (1933), Villa Merah (1933), dan Penjara Sukamiskin (1935).

Baca juga Dari Istana Panglima hingga Markas Kodam Siliwangi

Karya-karyanya didominasi gaya Art Deco (berkembang tahun 1910 – 1930-an) dengan mengadopsi unsur-unsur lokal serta sumbu utara-selatan. Di budaya Timur, tempat-tempat sakral umumnya dijadikan sumbu, misalnya Tangkuban Parahu bagi masyarakat Sunda.

Meskipun terkenal sebagai arsitek, Schoemaker tidak pernah secara khusus mengenyam pendidikan arsitektur. Dia lulusan HBS te Nijmegen dan Koninklijke Militaire Academie Breda (KMA, Akademi Militer Breda) jurusan Teknik Sipil dan lulus dengan pangkat letnan zeni militer.

Sempat menjadi anggota KNIL yang berdinas di Cimahi, Jawa Barat, dia kemudian mengundurkan diri pada 3 Februari 1911 untuk bekerja di Burgerlijke Openbare Werken (BOW atau Pekerjaan Umum Sipil) di Batavia hingga menjabat Kepala BOW.

Baca juga Observatorium Bosscha

Setelah itu dia memilih keluar dan bergabung dengan adiknya, Richard Leonard Arnold Schoemaker yang saat itu guru besar pertama di Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandung), yang menjadi cikal bakal ITB.

Ketika adiknya ditarik menjadi guru besar di Delft University of Technology, Wolff Schoemaker diangkat menjadi guru besar luar biasa/tidak tetap di TH Bandung.

ereveld pandu, kerkhof, pandoekerkhof, TPU pandu, makam wolff schoemaker
Gerbang TPU Pandu, 2018. (Foto Silvia Galikano)

Di sinilah dia bertemu pemuda Sukarno, mahasiswa cerdas berwawasan luas yang mulai berkuliah di THB pada 1 Juli 1921.

Wolff Schoemaker yang pelukis dan pematung, ditambah kariernya yang cemerlang sebagai guru besar, membuatnya memiliki pengaruh di banyak komunitas seni, antara lain Bandung Art Circle. Tak heran pula jika dia menjadi arsitek langganan sosialita Bandung.

Ketika Jepang datang, tahun 1942, Schoemaker menikahi sekretarisnya, Jetty van Burgen, sebagai istri kelima (terakhir).

Baca juga Bentang Bagak Arsitek F. Silaban

Invasi Jepang sekaligus menjadi penanda berakhirnya kehidupan mewah Schoemaker walau dia tidak pernah ditangkap Jepang.

Gejala keuangannya berantakan sudah dimulai dari salah urus penghasilan Schoemaker oleh istri sebelumnya, Corona “Croontje” Aveline Hilgers, berdarah Belanda-Jawa. Perabot dan harta bendanya dijual sedikit demi sedikit.

ereveld pandu, kerkhof, pandoekerkhof, TPU pandu, makam wolff schoemaker
Makam-makam di TPU Pandu, 2018. (Foto Silvia Galikano)

Pada periode Bersiap (1945 – 1947), rumah Schoemaker di Van Gallenweg (kini Jl. Lamping) disewakan kepada Palang Merah Swedia. Rumah ini kemudian terbakar habis. Dia tinggal di lantai atas bangunan Hellerman di Bragaweg.

Sukarno beberapa kali membantu masa sulit Schoemaker dengan membeli lukisan karya dosennya itu walau tak berhasil mengembalikan kenyamanan seperti sebelum perang.

Sementara itu berbagai penyakit terus menggerogoti hingga penglihatannya memburuk dan sulit berjalan. Perutnya pernah sakit akut yang kemudian dioperasi ketika dia berada di Belanda.

Baca juga Gereja Bethel, Jejak Pekabaran Injil di Tanah Sunda

Kondisi fisik yang payah ini diperparah dengan kondisi psikisnya usai mendapat berita sang adik, R.L.A. Schoemaker, tewas di tengah Perang Dunia II di Eropa. Dalam sebuah surat antara Jetty dengan janda Richard, diceritakan tentang Schoemaker yang kebingungan secara mental.

Kehidupan morat-marit dan serba kekurangan Wolff Schoemaker berlangsung hingga akhir hayatnya, 22 Mei 1949. Schoemaker dimakamkan secara Katolik di Pandoekerkhof, Bandung, dihadiri keluarganya di Hindia Belanda, teman-teman, dan pejabat tinggi.

ereveld pandu, kerkhof, pandoekerkhof, TPU pandu, makam wolff schoemaker
Bersama bu Hani di makam Wolff Schoemaker di TPU Pandu, 2018.

Di nisan Wolff Schoemaker, yang didesain Sukarno, tertulis:

“Hier Rust

Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker

Ridder in de orde van de Nederlandse leeuw in leven officier van de genie hoogleraar aan de Technische Hoogeschool te Bandoeng

Geb: Te Banjoebiroe-Ambarawa 25 Juli 1882

Overl: Te Bandoeng 22 Mei 1949″

***

Foto-foto diambil pada 11 Agustus 2018

ereveld pandu, kerkhof, pandoekerkhof, TPU pandu, makam wolff schoemaker
Peserta Historical Trips di depan bus Bandung Tour on Bus (Bandros) di Ereveld Pandu, 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.