Mausoleum Thio Sing Liong, Abadinya Sang Taipan

Thio Sing Liong
Mausoleum Thio Sing Liong dan Goei Kwan Nio, 28 Maret 2019. (Foto Silvia Galikano)

Setelah wafat, Thio Sing Liong tidak dimakamkan, melainkan disimpan di mausoleum bersama istri kesayangan. Dipakaikan pakaian terbaik, ditempatkan di peti marmer hitam, beberapa centimeter dari permukaan tanah.

Oleh Silvia Galikano

Mausoleum Thio Sing Liong berada di Jalan Sriwijaya, Peterongan, Semarang, tak jauh dari pertigaan Jalan Wonodri Sendang Raya dan Jalan Sriwijaya. Mausoleum ini adalah bagian dari Makam Keluarga Thio Sing Liong dan termasuk dalam daftar cagar budaya kota Semarang.

Baca juga Rumah Kranggan dan Kisah Jaya Thio Sing Liong

Area ini semula merupakan pemakaman Tionghoa bernama Tegalwareng. Luasnya konon mencapai 5 hektare, menyatu dengan Makam Besar Bangkong. Desakan pendirian bangunan komersil menyebabkan tergusurnya  pemakaman Tegalwareng, kecuali Makam Keluarga Thio Sing Liong.

Thio Sing Liong
Altar tempat peziarah kulonuwun sebelum masuk kompleks Makam Keluarga Thio Sing Liong, 28 Maret 2019. (Foto Silvia Galikano)

Thio Sing Liong (1871 – 1940) adalah pengusaha besar di bidang properti dan pengekspor rempah-rempah di bawah firma NV Thio Sing Liong. Propertinya sampai sekarang tersebar di Semarang.

Dua di antaranya gedung bekas perusahaan asuransi Lloyd Indonesia yang berdampingan dengan bangunan yang dikenal instagrammers dengan julukan “Rumah Akar” di Kota Lama, serta gedung yang ditempati Toko Oen di Jalan Pemuda.

Baca juga Kapitan Tionghoa dan Cerita Seruas Jalan

Mausoleum terletak di ketinggian, sekitar 3 meter lebih tinggi dari jalan. Dari luar, bangunan mausoleum tampak seperti rumah ibadah Tionghoa atau klenteng. Tinggi dindingnya sekira 5 meter. Jika sampai puncak atap bisa mencapai 7 meter.

Thio Sing Liong
Mausoleum Thio Sing Liong, 28 Maret 2019. (Foto Silvia Galikano)

Tiga sisi mausoleum adalah dinding solid. Satu sisi lain, yakni yang menghadap jalan (utara), adalah sepasang pintu angin tinggi berbahan rangka besi yang diapit dua pintu angin.

Antara gerbang dan pintu utama terdapat semacam altar batu tempat peziarah sembahyang menghadap timur untuk “kulonuwun” dahulu sebelum masuk.

Baca juga ROEMBOER, Tentang Cerita Modiste Legendaris Tangerang

Di dalam bangunan tinggi itulah diletakkan dua peti marmer hitam besar masing-masing berukuran 220 x 100 x tinggi 80 cm, yang dindingnya dipahat karakter Mandarin nama keduanya. Bahannya dari marmer hitam Italia berkualitas tinggi yang biasa dipesan bangsawan Eropa.

Thio Sing Liong
Mausoleum Thio Sing Liong dan Goei Kwan Nio, 28 Maret 2019. (Foto Silvia Galikano)

Di sinilah jasad Thiong Sing Liong dan istri ke-3 sekaligus terakhir, Goei Kwan Nio (1878–1954), dibaringkan. Di dalam peti kayu yang dimasukkan ke dalam peti marmer yang tidak dibenamkan ke tanah.

Penutup masing-masing peti berupa patung marmer putih berbentuk sosok Thio Sing Liong dan Goei Kwan Nio. Keduanya dalam posisi bangun tidur, duduk di atas tempat tidur menghadap utara, dengan selimut masih ada di pangkuan.

Thio Sing Liong berjas dan berdasi. Goei Kwan Nio mengenakan cheongsam dan rambutnya digelung.

Baca juga Surat untuk Kwee Ing Hok (2)

Di sisi peti Thio Sing Liong dan Goei Kwan Nio berdiri dua foto bocah Goei Thuan Hwat sedang dipeluk masing-masing oleh kakek dan neneknya itu.

 

Di dinding mausoleum dipajang foto pemakaman Thio Sing Liong yang dihadiri banyak kerabat dan karangan bunga.

Sejumlah karangan bunga berbahan tembaga masih terpasang di dinding. Cat warna-warninya tetap tampak walau sudah kusam. Salah satu pengirimnya Societeit Hwa Yoe Hwee Kwan. Tertulis di karangan bunga itu angka 1940, tahun kematian Thio Sing Liong.

Baca juga Hotel Besar, Cerita Tumbuhnya Purwokerto

Makam istri pertama Thio Sing Liong, Tan Tien Nio (sebelum 1900– sebelum 1905), ada di belakang mausoleum. Makam inilah yang jadi cikal bakal dijadikannya Tegalwareng sebagai tempat pemakaman keluarga Thio Sing Liong.

Thio Sing Liong
Pemakaman Thio Sing Liong tahun 1940. Perhatikan lahan di belakangnya yang masih terbuka luas. (Dok. Meis Djoeachir)

Beberapa waktu setelah wafatnya Tan Tien Nio akibat kecelakaan delman pada 1906, Thio Sing Liong memperluas areal makam dengan membebaskan lahan milik orang lain di pemakaman itu seluas 72 meter persegi. Dengan izin Wali Kota Semarang Hadisoebeno Sosrowardojo, pada tahun 1955, lahan pemakaman milik Thio Sing Liong diperluas lagi menjadi 500 meter persegi.

Baca juga Warisan Ternama di Pecinan Jakarta

Ketika Thio Sing Liong wafat, tahun 1940, jenazahnya disimpan di peti mati yang kemudian dimasukkan dalam peti marmer, tidak dibenamkan ke tanah. Mausoleum ini membelakangi makam istri pertamanya.

Thio Sing Liong
Karangan bunga dari tembaga di mausoleum Thio Sing Liong, 28 Maret 2019. (Foto Silvia Galikano)

Empat belas tahun kemudian, istri ketiga dan paling disayang, Goei Kwan Nio, menyusul menemani suami. Jenazahnya juga diabadikan di samping Thio Sing Liong.

Baca juga Merawat Marwah Rumah Tjoa

Istri kedua, Tjoa Kwat Nio (sebelum 1910–1967), lain lagi ceritanya. Perkawinan yang tak direstui istri pertama membuat jenazah istri kedua tidak dimakamkan di Tegalwareng. Tjoa Kwat Nio dimakamkan di pemakaman Tionghoa di daerah Kobong, Semarang.

Pemakaman Kobong kemudian pada 1970-an digusur pemerintah untuk dijadikan pasar ikan bernama Pasar Kobong. Makam Tjoa Kwat Nio akhirnya dibongkar, jenazahnya dikremasi.

Thio Sing Liong
Deretan makam di belakang mausoleum. (Ki-ka) makam Tan Tien Nio (istri pertama Thio Sing Liong), bongpay Thio Thiam Tjong, makam Goei Hoen Yang, dan makam Goei Thuan Hwat, 28 Maret 2019. 28 Maret. (Foto: Silvia Galikano)

Di belakang mausoleum disiapkan juga makam untuk anak laki-laki Thio Sing Liong dari istri pertama, yakni Thio Tiam Tjong. Namun karena Thiam Tjong meninggal di Belanda, makam itu kosong. Hanya ada bongpay bertuliskan nama Thio Thiam Tjong dan dua istrinya: Goei Hoen Yang (1902 – 1945) dan Goei Lee Ging (1903 –1985).

Baca juga Untuk Lasem, Roemah Oei Buka Gerbangnya

Goei Hoen Yang yang wafat akibat sakit dimakamkan di sini. Thiam Tjong kemudian menikahi adik iparnya, Goei Lee Ging. Dari dua istrinya, Thio Thiam Tjong tak berketurunan.

Agak berjarak dari makam istri Thio Thiam Tjong adalah makam Goei Thwan Hwat (kira-kira 1925 – 1950). Goei Thwan Hwat sebenarnya anak dari puteri Thio Sing Liong dari istri pertama, Tan Tien Nio. Sang puteri, Thio Kiong Nio, menikah dengan Goei (Goey) Ing Liat.

Thio Sing Liong
Makam Goei Thwan Hwat terpisah dari deretan makam lain, 28 Maret 2019. (Foto: Silvia Galikano)

Goei Thwan Hwat menjadi cucu kesayangan Thio Sing Liong dan Goei Kwan Nio yang tak berketurunan, sampai-sampai fotonya ikut menemani sampai di makam kakek dan neneknya itu.

Padahal, menurut kepercayaan Tionghoa, adalah sebuah pantangan meletakkan foto orang yang masih hidup, di kuburan. Karenanya kematian sang cucu yang dianggap tidak wajar kemudian dikaitkan dengan kepercayaan itu. Goei Thwan Hwat meninggal setelah jatuh dari sepeda motor di Jalan Mataram Semarang  pada tahun 1950.

Baca juga Jalan Leluhur Rumah Kopi Semarang

Perawatan terus dikerjakan di Makam Keluarga Thio Sing Liong, antara lain mengecat dinding dan rutin memeriksa agar atap tidak bocor. Keturunan Thio Sing Liong masih menziarahi kompleks makam ini, terutama pada hari Ceng Beng (hari ziarah kubur). Masyarakat umum juga dapat berziarah dengan menemui penjaga makam terlebih dahulu yang tinggal di belakang kompleks makam.

Bersambung ke Thio Thiam Tjong dan Arus Politik Sang Penerus

Thio Sing Liong
Saya di depan peti marmer hitam Goei Kwan Nio, istri ketiga Thio Sing Liong, 28 Maret 2019.

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 19 Januari 2020

 

2 Replies to “Mausoleum Thio Sing Liong, Abadinya Sang Taipan”

  1. Saya pernah masuk ke dalam dan takjub dengan mausoleum teresbut. Kemegahannya mengingatkan saya pada mousoleum KGPAA Mangkunegara IV di Giri Layu. Thanks for share, mbak Sil. ^^

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.