Benteng Marlborough Saksi Persaingan Dagang Lada di Bengkulu

Benteng Marlborough, Bengkulu
Gerbang utama Benteng Marlborough, September 2014. (Foto Silvia Galikano)

Selain markas militer, Benteng Marlborough juga berfungsi mengamankan jalur perdagangan lada Inggris di pantai barat Sumatera.

Oleh Silvia Galikano

Benteng Marlborough dikenal penduduk Bengkulu dengan pelafalan lokal Malabero. Pasar ikan di dekat benteng ini bernama Pasar Malabero.

Benteng Marlborough berbentuk segi empat, dengan bastion di tiap sudut. Luasnya 2,7 hektare yang berdiri di lahan 4,4 hektare. Pintu masuknya berada di arah barat daya, berbentuk melengkung dengan daun pintu dari kayu.

Baca juga Bermula dari Nanas Penangkal Bajak Laut

Tinggi dinding benteng 8 sampai 8,5 meter dengan ketebalan 1,85 sampai 3 meter. Sedangkan tebal batu batanya 50-180 sentimeter.

Benteng Marlborough, Bengkulu
Plang depan Benteng Marlborough, September 2014. (Foto Silvia Galikano)

Jenis adukannya terdiri dari kapur, pecahan bata merah, semen merah (bata tumbuk) menjadikan Benteng Marlborough salah satu benteng Inggris terkuat di kawasan Timur, kedua setelah Benteng St. George di Madras, India.

Gempa Enggano pada 2000 dengan magnitudo 7,9, serta gempa pada 2007 yang disusul tsunami setinggi 3,5 meter, tak berefek pada kekuatan bangunan benteng.

Baca juga Joseph Johannes, Pria Armenia dari Bukit Simongan

Benteng Marlborough dilengkapi dengan 72 meriam dan sekelilingnya dilindungi ravelin, yakni parit kering di luar tembok benteng.

Tiga jembatan kayu melintang di atas ravelin menghubungkan bangunan utama dan bangunan depan, berukuran panjang 12,8 meter, lebar 3,2 meter, dan tinggi 3 meter.

Benteng ini didirikan East India Company (EIC, Kantor Dagang Inggris) saat dipimpin Gubernur Joseph Collet dengan masa pembangunan lima tahun, sepanjang 1714-1719.

Benteng Marlborough dibangun untuk memperkuat pertahanan Inggris di pesisir barat Sumatera dari serangan Belanda (VOC) yang ingin menguasai Bengkulu sebagai pusat perdagangan lada, cengkih, dan hasil hutan.

Pasalnya, 50 tahun sebelum pembangunan Marlborough, pada 1664, VOC, sebagai perwakilan dagang kerajaan Belanda, membuka Kantor Pelelangan Lada di Bengkulu guna menguasai Bengkulu untuk menyaingi bandar perdagangan lada di Banten. Saat itu Inggris belum masuk Bengkulu.

Baca juga Gereja Sion, Dari Rumah Ibadah Portugis Hitam

Ketika Kesultanan Banten di bawah Sultan Ageng Tirtayasa mengembangkan Bandar Internasional Transaksi Lada, VOC pun meninggalkan Bengkulu dan memutuskan membantu pemberontakan Sultan Haji terhadap Kesultanan Banten.

Benteng Marlborough, Bengkulu
Gerbang Benteng Marlborough, 1934-1937 (Dok KITLV)

 

Keberadaan Inggris di Bengkulu bermula dari Belanda mengungguli Inggris membuat kesepakatan dengan kerajaan Banten pada 1682 tentang monopoli perdagangan rempah-rempah.

Hal ini memaksa Inggris keluar dari Jawa dan harus mencari pangkalan baru. Pilihan jatuh kepada Bengkulu, salah satu pemasok lada untuk Banten. Sesampai di Bengkulu, Inggris melobi penguasa-penguasa lokal untuk mendapatkan izin menjalin hubungan dagang.

Baca juga Dari Data, Bicara Sejarah

Pada masa itu, di Bengkulu berdiri Kerajaan Sungai Lemau, Kerajaan Sungai Itam, Kerajaan Selebar (Silebar), dan Kerajaan Muko-muko yang semuanya berada di bawah pengawasan Kesultanan Banten.

Begitu menginjakkan kaki di bumi Bengkulu pada1685, Inggris berusaha mendekati Kerajaan Selebar. Lalu didirikanlah Benteng York (Fort York) pada 1685 guna melindungi kepentingan Inggris.

Satu dekade kemudian, pada 1695, Inggris membuat perjanjian dengan Pangeran Jangalu dari Kerajaan Selebar dengan pokok perjanjian:

  1. Kerajaan Selebar memberikan konsesesi tanah, yaitu tanah yang terletak di dekat Pelabuhan.
  2. Inggris berhak atas cukai impor-ekspor.
  3. Semua lada dan cengkih rakyat harus dijual kepada Inggris.
  4. Kedua belah pihak saling membantu pertahanan.
  5. Inggris memberi gaji 400 dolar setahun kepada Pangeran Selebar.

Mulai saat itulah kolonialis Inggris berubah menjadi imperialis.

Benteng Marlborough, Bengkulu
Pemandangan Kota Bengkulu dari atas dinding Benteng Marlborough, September 2014. (Foto Silvia Galikano)

Hampir 30 tahun berdiri, Fort York menjadi kritis. Sebagian besar prajurit garnizun sakit, umumnya disentri dan malaria.

Baca juga Langgam Eklektik Hotel Trio Solo

Pada 1712, Joseph Collet, Deputi Gubernur yang baru ditunjuk, meminta izin kepada pemerintah Inggris untuk menghancurkan Benteng York dan mendirikan benteng baru di tempat yang berbeda. Bangunan pertahanan yang baru ini harus luas untuk menyediakan sarana akomodasi dan fasilitas bagi tentara dan pegawai sipil benteng.

Gubernur Collett akhirnya mendapat izin membangun benteng baru di Bengkulu pada 1714 di Ujung Karang, sekitar 3 kilometer dari benteng lama.

Benteng Marlborough, Bengkulu
Ruang di dalam Benteng Marlborough, Bengkulu, September 2014. (Foto Silvia Galikano)

Pembagian bangunan dan ruang di dalam Benteng Marlborough, sebagaimana tertulis di dokumen bertanggal 27 Februari 1712: Gerbang Besar, dua gerbang kecil, Rumah Besar, ruang penjaga, penginapan petugas, penginapan penjaga, penginapan bagi dewan yang sudah menikah, penginapan bagi dewan dan kapten Eropa, penginapan bagi makelar dan penulis, gudang, staf bendera di bastion sisi laut, sumur, toko mesiu, serta Dewan Penasihat.

Baca juga ROEMBOER, Tentang Cerita Modiste Legendaris Tangerang

Pembangunannya mengerahkan tenaga kerja serta narapidana setempat. Selama periode tersebut, para petugas sipil dan garnisun militer dibagi dua, ke benteng lama dan benteng baru.

Benteng Marlborough, Bengkulu
Ruang bawah tanah di Benteng Marlborough, Bengkulu, September 2014. (Foto Silvia Galikano)

Nama Benteng Marlborough (Fort Marlborough) dipilih untuk menghormati John Churchill (1650-1722) bergelar Duke of Marlborough Pertama yang saat itu menjadi pahlawan dalam perang Inggris-Prancis. Selain Benteng Marlborough, Inggris juga mendirikan Benteng Anna di daerah Muko-muko pada 1718.

Benteng berukuran 240 x 170 meter itu didirikan di atas bukit buatan, menghadap ke arah Kota Bengkulu dan memunggungi Samudera Hindia.

Collet kemudian mengundang pedagang Tiongkok masuk ke Bengkulu dan memberikan mereka beragam kemudahan.

Pada April 1715, Gubernur Collet mengirimkan salinan rencana pertama Benteng Marlborough. Rencana tersebut menunjukkan bahwa benteng itu berdinding tanah dan berparit, dengan tempat meletakkan meriam di bastion-bastion. Pembangunannya lambat.

Benteng Marlborough direncanakan untuk menghadapi ancaman-ancaman dari Kerajaan Banten, Belanda, maupun dari pribumi. Kala itu kedudukan VOC menguat, dan pada 1714 VOC kembali ingin memperkuat kekuasaan monopoli perdagangan ladanya di Bengkulu. Niat ini tidak terlaksana, karena Inggris sudah mendirikan Benteng Marlborough.

Baca juga Dari Istana Panglima hingga Markas Kodam Siliwangi

Selain benteng pertahanan Benteng Marlborough adalah pusat kendali Bengkulu sebagai ibukota wilayah residensi Inggris di pesisir barat Sumatera.

Karena kekuasaan Inggris di Bengkulu makin kuat, lambat laun benteng Marlborough berubah fungsi menjadi pusat perdagangan dan pengawasan jalur pelayaran dagang yang melewati Selat Sunda. Di sana, Inggris bisa memantau kelancaran pasokan lada hitam bagi EIC.

Pada 1719 terjadilah pemberontakan rakyat Bengkulu yang membuat penghuninya mengungsi ke Madras. Salah seorang pemimpin perlawanan adalah Pangeran Mangku Raja dari Kerajaan Sungai Lemau.

Pemberontakan itu berkaitan dengan perjanjian 1695 dengan Kerajaan Selebar yang ditandatangani pada 16 Agustus 1695. Di dalamnya memuat perjanjian khusus untuk Pangeran Selebar, bahwa Kompeni Inggris akan memberi tunjangan kepada putera Pangeran Selebar apabila kelak menggantikannya, dengan syarat setia kepada Kompeni Inggris.

Baca juga Langkah Awal Konservasi Rumah Raden Saleh di Cikini

Para pengungsi dari Madras baru bisa kembali ke benteng pada tahun 1724 setelah diadakan perjanjian. Benteng selesai seluruhnya tahun 1741.

Monument Thomas Parr, Benteng Marlborough, Bengkulu
Monumen Residen Inggris di Bengkulu Thomas Parr, 1880. (Dok. KITLV)

Pada 1792 terdapat 90 orang pegawai sipil dan militer tinggal dan bekerja dalam Benteng Marlborough. Para petinggi atau perwira senior tinggal dalam lingkungan benteng bersama keluarga.

Benteng ini menyerupai hunian dalam kota kecil dengan tembok tebal. Seperti layaknya kehidupan bermasyarakat, catatan-catatan menyangkut perkawinan, pembaptisan, dan kematian “penduduk” benteng ini pun masih tersimpan.

Baca juga Cerita Gemilang Industri Gula Pasuruan

Insiden kembali terjadi pada 1793 yang menewaskan seorang Kapten Angkatan Laut Inggris Robert Hamilton.

Menyusul kemudian, 23 Desember 1807, Residen Thomas Parr tewas dalam serangan rakyat. Tewas juga dalam peristiwa tersebut pegawainya, Charles Murray, yang berusaha menyelamatkan Parr.

Pembunuhan terhadap Thomas Parr ini disebabkan akumulasi rasa tidak puas rakyat Bengkulu atas kebijakan Parr terhadap pribumi. Kebijakan itu antara lain pemberlakuan tanam paksa kopi dan perubahan besar-besaran dalam peradilan pribumi tanpa persetujuan dan tanpa meminta nasihat para Kepala Adat Rakyat Bengkulu.

Makam Inggris, Benteng Marlborough, Bengkulu
Makam Inggris di Bengkulu, September 2014. (Foto Silvia Galikano)

Robert Hamilton, Thomas Parr, dan Charles Murray dimakamkan di Benteng Marlborough untuk menghindari dihancurkan rakyat Bengkulu.

Inggris mengenang tewasnya Thomas Parr dengan mendirikan Monumen Thomas Parr setinggi 170 meter di Kota Bengkulu, di sebelah tenggara benteng, pada 1808.

Baca juga Thio Thiam Tjong dan Arus Politik Sang Penerus

Sekitar seabad setelah benteng ini didirikan, Thomas Stamford Raffles datang sebagai pemimpin kolonial Inggris di tanah Bengkulu (1818-1824) dan kemudian membuat Bengkulu semakin populer.

Bengkulu akhirnya diserahkan Inggris kepada Belanda melalui Perjanjian Inggris-Belanda (Anglo-Dutch Treaty atau Traktat London) pada 17 Maret 1824. Dalam perjanjian yang mengatur wilayah-wilayah milik Inggris dan Belanda itu, Belanda menyerahkan Singapura (bagian dari Kerajaan Malaka) kepada Inggris.

Baca juga Melongok Kejayaan Siak

Benteng Marlborough, Bengkulu
Tukang sulut meriam, September 2014.

Selama 140 tahun berada di Bengkulu, banyak orang Inggris yang meninggal dunia disebabkan malaria dan disentri, serta tewas dalam konflik-konflik dengan rakyat Bengkulu. Orang-orang Inggris yang meninggal di Bengkulu pada masa itu tercatat sebanyak 709 orang. Sebagian dimakamkan di Pemakaman Inggris di Jitra, Bengkulu.

Marlborough tetap berfungsi sebagai benteng pertahanan hingga masa Hindia Belanda, tahun 1825-1942; dilanjutkan Jepang tahun 1942-1945, hingga pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia.

Setelah Kemerdekaan hingga 1948, Benteng Marlborough menjadi markas Polri. Dan pada masa Republik Indonesia Serikat 1949-1950, Benteng kembali diduduki Belanda.

Baca juga Rumah Cilame, Jendela Zaman Emas hingga Masa Kelam

Setelah Belanda pergi, benteng ini menjadi markas TNI-AD hingga tahun 1977 ketika diserahkan kepada Depdikbud untuk dipugar dan dijadikan bangunan cagar budaya.

***

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.