Perihal Anak Angkat Sultan Siak

Paleis van de sultan Sjarif Kasim Abdul Djalil Saifoedin van Siak te Siak Sri Indrapoera 1905

Istana Siak 1905. (Dok. KITLV)

 

Sebuah pesan Whatsapp (WA) masuk pada 24 Mei 2017 malam. Pengirimnya memperkenalkan diri dengan nama Tengku Syarifah Rita Al Jufri, 56 tahun, dari Kualalumpur, Malaysia. Pesan WA itu kami tindak lanjuti dengan berbincang di telepon.

Saya memutuskan menuliskan hasil perbincangan tersebut di blog pribadi semata-mata menampung informasi, tanpa ingin turut campur dalam permasalahan keluarga Kerajaan Siak, jika memang ada. Saya menghormati betul Sultan Syarif Hasyim dan Sultan Syarif Kasim II. Suatu hari nanti, jika malah memperkeruh suasana, bisa saja saya hapus atau gembok tulisan ini.

***

 

Rita memberi informasi lain dari yang saya tuliskan tentang anak angkat Sultan Syarif Kasim II.  Saya tuliskan di artikel Melongok Kejayaan Siak, berdasar silsilah yang dipasang di Istana Siak, nama anak angkat Sultan adalah Tengku Syarifah Mariam bte Fadyl. Anak ini dipelihara, disekolahkan, hingga dinikahkan di istana pada 1942. Selain itu ada sejumlah anak yatim yang juga dipelihara Sultan. Semuanya perempuan.

Rita memberi informasi bahwa satu-satunya anak yang menjadi anak angkat Sultan dan Tengku Agung adalah Tengku Syed (Sayyid) Machdar (Siak, 25 Mei 1931 – Dumai, 1991) yang masih kerabat Tengku Ratu dan Sultan. Begitu lahir, Syed Machdar langsung dibawa ke istana, dan pada 1936 dikukuhkan dengan surat pernyataan bercap Kerajaan.

 

 

Pernyataan yang dikeluarkan Kerajaan Siak itu berisi “Menerangkan: Bahwa jang memegang soerat ini TENGKOE MAHDHAR, anak saudara dari kita.” Syed Machdar tak lain ayah kandung Rita.

“Sebenarnya cuma ada seorang yang diambil secara sah pada tahun ’36. Ada cap Kerajaan Siak. Banyak yang tahu tapi tidak mau mendedahkan kebenaran,” tulis Rita di pesan WA.

Selain satu anak angkat sah, lanjutnya, Sultan juga memelihara banyak anak lain, perempuan dan laki-laki, mengingat Sultan terkenal kebaikan hatinya.

“Bapak sangat disayang almarhum,” Rita merujuk pada Sultan. “Kaki bapak itu pincang. Walau bisa diperbaiki, tapi almarhum tidak mau. ‘Biarlah, ini anugerah dari Allah.’”

Rita lahir di Dumai. Saat belum lagi masuk TK, beberapa kali dia diajak ayahnya ke Istana Siak, bertemu Sultan. “Saya kecil paling comel, dayang-dayang gendong, didudukkan, dipangku almarhum.”

 

 

Saat berusia 9 tahun, Rita pindah ke Malaysia, sedangkan ayahnya bolak-balik Dumai – Kualalumpur.

Rita menyebut tak tahu persis apa jabatan ayahnya selain pernah jadi ketua Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) di Dumai, dan saat pemilu selalu keliling Indonesia. Setelah wafat pada 1991, ayahnya dimakamkan di pemakaman Pertamina Medang Kampai, Dumai.

Simpang-siurnya informasi tentang kerabat kerajaan, menurut Rita, sebab surat-surat Kerajaan Siak, dahulu ditunjukkan jika ada yang ingin melihat, sedangkan sekarang hanya disimpan, tidak dibuka. Sebagian surat bahkan hilang, bisa jadi bersama barang-barang yang dijarah begitu Sultan menyatakan Kerajaan Siak bergabung dengan NKRI.

Isola dan Misteri Raja Media

Bumi Siliwangi menghadap selatan, Foto Silvia Galikano (5)

Lahannya berkontur, yakni bagian selatan lebih rendah dari utara, membuat jumlah lantai berbeda ketika dilihat dari utara dan selatan. Dari utara, Bumi Siliwangi memiliki empat lantai, sedangkan dari selatan ada lima lantai.

 

Oleh Silvia Galikano

Berretty yang tajir melintir punya cara  “elegan”untuk memilih mobil yang akan digunakan ketika hendak pergi. Ada dua lampu yang dipasang di kanan dan kiri tiang penyangga payon di luar pintu utama. Lampu itu mengarah ke garasi luas berjarak beberapa puluh meter di seberang halaman depan ke arah utara.

Jika Berretty menyalakan lampu kanan artinya dia meminta sopir menyiapkan mobil Mercedes. Jika lampu kiri yang menyala, berarti hari itu dia ingin naik mobil Aston Martin.

 

 

 

Berretty yang bernama lengkap Dominique Willem Berretty (Yogyakarta 20 November 1890 – Suriah 20 Desember 1934) adalah pendiri dan pemilik awal Villa Isola, bangunan yang sekarang bernama Bumi Siliwangi dan berfungsi sebagai Gedung Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Inilah salah satu landmark Bandung yang berdiri di pinggir Bandung Utara menuju Lembang.

Bumi Siliwangi

Sebuah kesempatan berharga ketika Historical Trips, komunitas pencinta sejarah di Bandung, diizinkan melihat bagian dalam Bumi Siliwangi pada akhir April 2017. Rektor UPI Prof. Furqon Ph.D., saat itu baru saja berpulang, sehingga suasana gedung rektorat lengang masih berkabung dan tak ada kegiatan yang berarti.

 

 

 

 

Bumi Siliwangi menghadap utara, ke arah Museum Pendidikan Indonesia yang juga di kompleks UPI. Taman, kolam, dan pohon beringin besar di halaman depan. Lahannya berkontur, yakni bagian selatan lebih rendah dari utara, membuat jumlah lantai berbeda ketika dilihat dari utara dan selatan. Dari utara, Bumi Siliwangi memiliki empat lantai, sedangkan dari selatan ada lima lantai.

Lantai 2 (atau lantai 1 jika dilihat dari utara) adalah ruang tamu yang berjumlah dua ruang. Satu di antaranya ruang tamu VIP. Menurut petugas keamanan yang bertugas di Bumi Siliwangi, Sutisna, baru pada 1999, saat jadi UPI, ruang ini disekat-sekat. Sedangkan saat masih bernama IKIP Bandung, satu lantai ini luas tanpa sekat. “Dulu dipakai untuk mahasiswa sidang,” ujar Sutisna.

Lantai 3 dan 4 adalah ruang kerja Rektor dan Wakil Rektor UPI, lantai 5 adalah ruang rapat berkapasitas 30 orang, sedangkan lantai 1 yang berada di belakang adalah ruang administrasi. Galibnya bagian belakang bangunan, tak ada pintu lebar di lantai 1, hanya ada empat pintu kecil, namun hanya satu yang difungsikan.

Kolam di halaman utara Bumi Siliwangi, Asalnya kolam ini memanjang ke halaman selatan dan dihuni angsa hitam, Foto Silvia Galikano

Kolam di halaman utara Bumi Siliwangi. Asalnya kolam ini memanjang ke halaman selatan dan dihuni angsa hitam. (Foto Silvia Galikano)

 

Villa Isola

Satu pintu kecil itu tak lepas dari peruntukan lantai 1 saat masih bernama Villa Isola, yakni sebagai service area, seperti kamar mandi, kamar cuci, gudang, dan dapur. Di sini pula dahulu terdapat ruang pendingin wine, kamar tidur sekretaris, ruang olahraga, dan tangga menuju bawah tanah. Ini berbeda dengan tren masa itu yang memisahkan service area dari bangunan utama.

 

 

 

Lantai 2  adalah ruang lobi, ruang tamu, ruang makan, kantor, perpustakaan, dan toilet. Kamar-kamar tidur ada di lantai 3 dengan koridor membentang barat dan timur. Kamar tidur di kedua ujung koridor dilengkapi teras terbuka berbentuk seperempat lingkaran. Sedangkan kamar tidur utama menghadap selatan dilengkapi balkon setengah lingkaran yang dilindungi tritisan kaca dari Paris, Prancis dan disangga batang-batang baja.

Lantai 4 adalah kamar tidur tamu, ruang duduk, ruang pesta, kamar proyektor film, dan bar. Di atas lantai 4 adalah rooftop, teras terbuka dengan pemandangan gunung Tangkubanparahu di utara, dan Kota Bandung di selatan.

Bergaya art deco

Sebagai pemilik ANETA (sekarang Antara), kantor berita pada zaman Belanda, Berretty punya kekayaan yang tidak main-main. Untuk mendirikan Villa Isola, pada 1932, tak kurang 500 ribu hingga 600 ribu gulden (setara Rp250-350 miliar sekarang) dia keluarkan, padahal saat itu sedang resesi dunia. Bangunan seluas 12 ribu meter persegi berikut taman 6,3 hektare dia bangun di lahan 7,5 hektare di tengah persawahan dan tanah kosong yang luas.

 

 

 

 

 

Arsitek ternama pada masa itu, C.P. Wolff Schoemaker, yang menggarap dan merupakan vila terakhir yang dia rancang. Pelaksana pembangunan adalah Biro Arsitek dan Kontraktor Algemeen Ingenieur Architectenbureau atau Algemeen Ingenieur Architecten (AIA).

“Schoemaker sepertinya terpaksa menerima pesanan Berretty karena dia tidak pernah fixed maunya apa, menolak juga tidak enak karena sesama sosialita Bandung. Tiap hari Berretty datang ke rumah Schoemaker. Hari ini minta ada kolam renang di atap rumah, besok minta kolam renangnya di basement,” kata Koordinator Historical Trips yang juga Ketua Tim Riset Sejarah Lembang Malia Nur Alifa.

Akhirnya diputuskan gaya arsitektur Villa Isola adalah streamline modern dengan elemen art deco. Atapnya datar dan fasad berbentuk lengkungan, yang saat itu belum begitu dikenal. Gaya art deco dengan lengkungan streamline baru marak pada akhir 1930-an.

ruang kerja

Ruang kerja.

 

Dijelaskan dalam buku Dari Villa Isola ke Bumi Siliwangi (2015) yang ditulis Sudarsono Katam dan Lulus Abdi, Villa Isola berarsitektur modern yang memasukkan konsep tradisional sumbu kosmik utara-selatan dalam falsafah arsitektur Jawa. Diperkuat juga dengan keberadaan taman memanjang di depan bangunan yang mengarah ke Gunung Tangkubanparahu. Fasadnya kaya dengan garis-garis lengkung horizontal yang merupakan ciri arsitektur Timur seperti yang banyak terlihat di candi.

Tak kurang 700 pekerja dikerahkan, sehingga pekerjaan rampung dalam waktu lima bulan saja (Oktober 1932 – Maret 1933).

Wartawan berbintang terang

Berretty lahir dari pasangan Dominique Auguste Leonardus Berretty yang berdarah Italia- Prancis dan Marie Salem yang berdarah Jawa. Selulus dari HBS di Surabaya dan MULO di Yogyakarta (1908), Berretty bekerja di Hoofdbureau Post, Telegraaf en Telefoondienst (Kantor Pos, Telepon, Telegraf – PTT) Batavia. Walau tak lama bekerja di sini, dia mendapat pengetahuan tentang jaringan dan posisi kabel telegraf bawah laut, hal yang menentukan nasibnya di masa depan.

 

 

 

Pada 1910, Berretty bekerja sebagai korektor, kemudian wartawan di koran Bataviaasch Nieuwsblad. Lalu pindah ke koran Java Bode (1915) sebagai redaktur. Bermodal uang pinjaman, Berretty mendirikan perusahaan jasa berita dan telegraf Algemeen Nieuws en Telegraaf Agentschap (ANETA – Kantor Berita dan Telegraf Umum) di Batavia pada 1 April 1917.

Sejak hari pertama ANETA beroperasi, Berretty selalu berupaya mendapatkan berita lebih cepat daripada pesaingnya, Nederlandsch Indisch Persagentschap (NIPA) dan Reuters.  Salah satu caranya, telegraf dari luar negeri didapatkan dengan cara memotong jalan. Jika telegraf lain masuk ke Hindia Belanda melalui Singapura yang antreannya panjang, telegraf untuk ANETA masuk lewat jalur Afrika Selatan – Perth – Hindia Belanda. Alhasil, ANETA sudah dapat bocoran penggantian Gubernur Jenderal Hindia Belanda, dua hari sebelum surat resminya tiba.

Pada 1919, Berretty mengambil alih NIPA dan Reuters Batavia. Monopoli pengadaan berita oleh ANETA pun dimulai. Berretty mengadakan kontrak pengadaan berita bagi koran-koran Hindia Belanda. Kesepakatan ini menjadikannya lebih kaya lagi. ANETA mendirikan kantor-kantor cabang di beberapa kota utama di Hindia Belanda.

 

 

 

 

 

Masa cemerlang Berretty berakhir ketika penyidik yang dibentuk Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge, pada 1931 menemukan indikasi adanya korupsi di ANETA. ANETA juga telah menyalahgunakan wewenang, melakukan pelecehan terhadap koran-koran Hindia Belanda, serta memonopoli pengadaan berita.

Berretty terpukul dan merasa kesepian. Dia pergi ke tempat terpencil antara Bandung dan Lembang, membeli seluasan tanah, membangun rumah  untuk mengucilkan diri, dan memberinya nama Isola, kata Italia yang berarti pulau terpencil. Di bagian dalam bangunan, di atas foyer, dia tuliskan M’Isolo E Vivo yang berarti saya mengasingkan diri dan bertahan hidup.

 

 

Berpindah tangan

Berretty berangkat ke Eropa pada 1934 untuk menjual kantor beritanya. Dalam penerbangan pulang dari Amsterdam ke Batavia pada 19 Desember 1934, pesawat Uiver milik KLM yang ditumpanginya jatuh di gurun pasir Suriah, dekat perbatasan Irak, akibat cuaca buruk. Tak ada yang selamat. Jenazah korban dimakamkan di Irak. Berretty tidak meninggalkan harta yang berarti bagi keluarganya kecuali beberapa surat dan dokumen.

Sepanjang 1912 hingga 1934, Berretty enam kali menikah, lima kali bercerai, punya lima anak (empat perempuan, satu laki-laki). Anna, anak perempuannya, bunuh diri dengan cara gantung diri di salah satu pohon besar di halaman Villa Isola.

 

TM-60027758

Berretty (duduk) di tangga selatan.

 

 

Istri terakhir yang tercatat adalah Coquita, mereka tidak memiliki anak. Tidak ada data yang menyebutkan nama istri atau status pernikahannya ketika Berretty meninggal. Selain itu, dia disebut-sebut sempat menghamili dua perempuan yang tidak dinikahinya.

Setelah Berretty wafat, ahli waris menjual Villa Isola kepada Rr. J. van Es, pemilik Hotel Homann, pada 1936, untuk dijadikan Hotel Homann. Rumah-rumah berlanggam senada dengan Villa Isola ditambahkan di sekeliling sebagai bungalow.

Pada zaman Jepang bangunan ini dijadikan, antara lain, markas tentara Jepang dan tempat penyimpanan peralatan perang sitaan dari Belanda. Setelah Jepang menyerah, pada Masa Bersiap (1945—1947), Villa Isola dikuasai laskar pejuang Bandung hingga kemudian sebagai markas Sekutu dan Belanda. Pada masa inilah bangunan Villa Isola mengalami kerusakan parah sebab jadi lokasi pertempuran tentara Belanda dan Sekutu melawan laskar pejuang Bandung dan Tentara Rakyat Indonesia (TRI).

 

Beringin besar di halaman utara Bumi Siliwangi

Beringin di halaman utara Bumi Siliwangi ditanam Nyonya M. Yamin saat peresmian Bumi Siliwangi. (Foto: Silvia Galikano)

 

Pada pertengahan 1954, lahan seluas 7,5 hektare, termasuk Villa Isola di dalamnya, dibeli Pemerintah (Kementerian Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan – PP&K) seharga Rp1,5 juta untuk tempat perkuliahan dan perkantoran Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Bandung. Saat upacara pembukaan PTPG, 20 Oktober 1954, nama Bumi Siliwangi diresmikan pengganti nama Villa Isola oleh Menteri PP&K Mr. M. Yamin menggantikan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo yang berhalangan hadir.

Perbaikan dan pembangunan dimulai. Ruangan-ruangan yang luas disekat-sekat. Pada masa ini, rooftop diberi dinding dan atap sehingga menjadi lantai 5 Bumi Siliwangi, juga teras-teras samping di lantai 3 ditambahi dinding dan atap.

Pada 1961, PTPG dimasukkan ke dalam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unpad dan Institut Pendidikan Guru yang digabung menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). Pada 7 Oktober 1999, IKIP resmi menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

 

 

Setelah Villa Isola berpindah-pindah ke banyak tangan, peninggalan Berretty hanya tersisa satu, yakni grand piano Steinway & Sons yang dipercaya sering berbunyi sendiri pada malam hari. Setelah menjadi UPI, piano tersebut dipindah dari Gedung Rektorat ke Prodi Seni Musik untuk digunakan mahasiswa, dan kini dalam keadaan baik.

Peninggalan lain adalah senjata tajam dan senjata api milik laskar pejuang Bandung pada Masa Bersiap yang kini dipajang di lantai 4 Museum Pendidikan Indonesia. Senjata-senjata yang dikumpulkan dari Villa Isola itu sebelumnya disimpan TNI-AD dan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Pintu bunker di halaman selatan sudah lama ditutup dengan pertimbangan keamanan. Ada anak tangga melingkar menurun menuju pintu bunker yang tersamarkan dengan dinding dari batu alam. Konon, bunker ini tersambung ke bunker di Gedung Sate, Gedung Pakuan, dan De Vries yang ada di Kota Bandung.

IMG_1227

 

***
Dimuat di majalah SARASVATI edisi Juni 2017

Cover_Edisi_43 kecil

Rumah Singa di Pasuruan

IMG_4389

Rumah keluarga Kwee di Pasuruan. (Foto: Silvia Galikano)

 

Kejayaan industri gula Pasuruan memberi kekayaan dan kekuatan penting bagi kelompok pengusaha Tionghoa melalui manajemen ladang tebu dan penggilingan tebu.

Tombe, pengelana asal Prancis yang mendatangi kota ini pada 1803 mengatakan kawasan Pecinan Pasuruan sangat luas dan penduduknya mencapai sepertiga dari isi kota.

Baca juga Daroessalam, Rumah Gula di Pasuruan

Sepanjang paruh kedua abad ke-18, beragam bupati menyewakan tanah ke orang-orang Tionghoa yang menjalankan penggilingan tebu. Di antara mereka adalah Han dari Surabaya dan Kwee (Guo) dari Semarang yang menjadi pengusaha terkemuka di Jawa Timur.

Han Jilang atau Han Kik Long atau Han Kik Ko (1766-1813, sumber Barat kerap salah tulis menjadi Han Tik Ko), putra Kapiten Tionghoa Surabaya Han Bwee Kong, adalah salah satu tuan tanah pertama yang mulai membuat perkebunan tebu.

 

Claudine Salmon dalam Chinese Epigraphic Materials in Indonesia (1997) menulis, Han Kik Ko punya tanah hingga ke bagian selatan Surabaya dan menyewa lahan di dekat karesidenan Pasuruan. Dia juga kemungkinan menjadi Kapiten Pasuruan sebelum menjadi Mayor Probolinggo.

Menurut R. E. Elson seperti dikutip Salmon, “Pada 1808 tak kurang 12 desa dan 2.538 penduduk, yang disewakan pemerintah ke Han.”

Pada awal abad ke-20, Antoine Cabaton mencatat, “Rumah-rumah bagus yang dibangun orang Eropa akhirnya dihuni masyarakat Tionghoa. Itu sebab Pecinan di kota ini punya penampilan mewah, beda dengan di tempat lain.”

Baca juga Cerita Gemilang Industri Gula Pasuruan

Orang-orang Tionghoa kaya di Pasuruan juga membangun rumah-rumah megah yang memasukkan elemen Tionghoa dan gaya Indis yang saat itu sedang tren.

Hubungan dengan luar negeri pun cukup lancar. Pelabuhan Pasuruan digunakan untuk mengekspor hasil perkebunan selama Cultuurstelsel sampai akhir abad ke-19.

Lewat pelabuhan ini pula semua bahan bangunan dari luar negeri didatangkan, kecuali pasir, bata, dan kapur. Sebagian besar digunakan untuk membangun rumah-rumah mewah di Kota Pasuruan.

 

Salah satu peninggalan kejayaan gula Pasuruan adalah rumah keluarga Kwee yang dikenal dengan sebutan Rumah Singa karena di depan rumahnya terdapat dua patung singa. Letaknya di Jalan Hasanudin No. 11-14 Pasuruan, di lahan seluas satu hektare, berseberangan dengan Gedung Pancasila

Rumah yang dibangun pada 1825 itu berlanggam Indis. Awalnya milik orang Belanda, lalu pada 1840-an dibeli Tan Kong Seng, seorang Kapiten Tionghoa.

 

 

Renovasi dilakukan pada 1860 dengan mendatangkan lantai marmer dan pagar besi dari Italia. Kolom-kolom berbahan bata diganti dengan besi tuang yang mulai populer pada akhir abad ke-19.

Pada awal abad ke-20, rumah tersebut ditempati keluarga Kwee. Patung singa pun ditambahkan di halaman depan dengan harapan rumah akan selalu aman terjaga.

Sekarang, fungsinya masih tetap rumah tinggal. Walau termasuk bangunan cagar budaya, namun karena milik perorangan, bukan milik Pemkot Pasuruan, bangunan bersejarah ini tertutup untuk aktivitas wisata. Wisatawan hanya dapat melihat dari luar pagar.

***
Dari perjalanan ke Pasuruan, 18 Agustus 2015

Tapak Pendekar Kunthaw di Parakan

Omah Tjandie Gotong Rojong didirikan pada 19 Januari 1919, Foto Silvia Galikano (6)

Omah Tjandie Gotong Rojong didirikan pada 19 Januari 1919. (Foto: Silvia Galikano)

Rumah ini identik dengan nama pendekar kunthaw kenamaan awal abad ke-20, Louw Tjeng Tie. Jejaknya tersebar di sini, sampai sekarang, walau warisan kunthaw-nya tak kuasa melawan zaman, terkikis sedikit demi sedikit.

Oleh Silvia Galikano

Nama resminya tertulis di atas gerbang, “Omah Tjandie ‘Gotong Rojong’”, berdiri di Jalan Demangan 16 Parakan, Kabupaten Temanggung, menghadap selatan ke arah gunung Sumbing.

Baca juga Rumah Dua Langgam di Lereng Sindoro-Sumbing

Di dua daun pintu utama terdapat karakter Mandarin yang artinya Bulu Burung Phoenix (mewakili sifat feminin) dan Telapak Kaki Qilin (mewakili sifat maskulin). Dua karakter itu adalah lambang harmoni antara keperkasaan dan keindahan.

pintu

Pintu utama Omah Tjandi, yang menghadap luar (kiri) dan menghadap dalam. (Foto: Silvia Galikano)

Rumah beratap pelana dengan dua kolom di teras depan ini didirikan Hoo Tiang Bie (1870-1922) pada 19 Januari 1919 di lahan seluas 2000 meter persegi. Pada 1990-an, keluarga Go membelinya setelah keluarga Hoo pindah ke Jakarta dan mengosongkan rumah di Parakan. Itu sebabnya, foto-foto lama keluarga Hoo dan keluarga Go dipasang di dua dinding terpisah.

Di halaman, masih berdiri gelang-gelang besi setinggi 2,5 meter untuk melatih otot tangan dan perut. Foto Louw Tjeng Tie bertopi baret hitam duduk memegang tongkat dipasang di dinding ruang dalam. Juga foto Tan Tik Sioe Sian alias Rama Moortie van Java (1884-1929), sang pertapa di gunung Wilis, Jawa Timur yang pernah singgah ke rumah ini dalam perjalanan ke Dieng karena mendengar ada jago silat tersohor di Parakan. Rama Moerti memberi Tjeng Tie kenang-kenangan tongkat kayu cendana yang sekarang dipajang di lemari kaca.

 

Dalam dua rak, dijajarkan senjata peninggalan Tjeng Tie yang digunakan untuk berlatih, yakni tombak, trisula, dan toya; serta tongkat rotan yang dulu selalu dibawa Tjeng Tie. Juga ada golok bernama “13 Pengawal” yang memiliki 13 lubang—uniknya tak boleh dihitung, menyimbolkan 13 pengawal yang melarikan diri dari Dinasti Song  (960 – 1279) di Tiongkok. Lubang terbesarnya melambangkan kepala pengawal.

Baca juga Ashadi, Artisan Pisau dari Parakan

Kakus tempat Louw Tjeng Tie bermeditasi

Kakus tempat Louw Tjeng Tie bermeditasi. (Foto: Silvia Galikano)

“Senjata ini aslinya memiliki cincin-cincin di tiap lubang, sehingga tiap kali digerakkan akan menimbulkan bunyi gemerincing. Sekarang, cincin-cincin itu sudah hilang semua,” ujar Eko Wardojo (Go Ik Hoa), 50 tahun, saat dijumpai di kediamannya di Parakan, awal Maret 2017. Tiap bulan Suro, Eko memandikan senjata-senjata yang berunsur Kejawen, seperti keris, tombak dari Keraton Yogyakarta, dan tongkat peninggalan Rama Moerti.

Kakus tempat Djing Tie meditasi juga masih ada, hanya saja sekarang dilapis keramik dan diberi penerangan cukup. Selain untuk buang air, di kakus ini juga Tjeng Tie melakukan meditasi. Bukan kakus leher angsa, melainkan sekadar lubang yang di bawahnya langsung ke selokan yang airnya mengalir deras karena posisi rumah di kemiringan.

Sang Garuda Mas

Louw Tjeng Tie/ Louw Djing Tie (1855-1921) adalah pendekar kunthaw dengan kemampuan bela diri yang tinggi, namun rendah hati. Dia lahir di Kampung Khee Thao Kee dekat Kota Hayteng/Haiting, Hokkian, Tiongkok, sekitar 1855 sebagai anak ke-2 dari tiga bersaudara. Karena sejak kecil anak yatim piatu ini suka berkelahi dan hidup mereka susah, Tjeng Lian sang kakak perempuan, mengirimnya ke kuil Shaolin.

Pada tahun pertama di biara Shaolin, tugas Tjeng Tie hanya menggotong dua ember air dari gunung dengan tujuan memperkuat otot-ototnya. Setelah 6-7 tahun berguru di Shaolin, dia pulang dengan mengantongi keahlian silat, tenaga dalam, dan ilmu pengobatan.

 

Tjeng Tie melanjutkan berguru ke pendeta tua yang juga lulusan Shaolin, Biauw Tjien, cara menggunakan barang di sekitar sebagai senjata rahasia. Contohnya, melemparkan uang logam ke kening lawan, meniup jarum dan kacang hijau hingga menancap di sasaran, serta tipu muslihat dengan selendang ikat pinggang yang jika dibanting, akan muncul hewan berbisa dari tanah.

Kepada guru ketiga, Kang Too Soe, Tjeng Tie belajar ilmu menyumpit, totok jalan darah, mengalirkan chi (tenaga murni) ke seluruh tubuh, serta ilmu pengobatan yang berhubungan dengan tulang.

Setelah 15 tahun keluar-masuk padepokan, Tjeng Tie muda mencari penghidupan di Hok Ciu, ibukota Hokkian. Saat itu, pemerintah setempat mengadakan seleksi guru kunthaw untuk dijadikan pelatih tentara dengan syarat mampu mengalahkan jawara mereka.

Adik seperguruan Tjeng Tie, Lie Wan, mendapat giliran menantang seorang guru kunthaw dari Shantung yang sudah mengalahkan lima orang lawan. Lie Wan terdesak oleh serangan berbahaya. Demi melindungi adik seperguruan, Tjeng Tie segera masuk arena dan menendang kemaluan si guru kunthaw hingga tewas.

 

Tjeng Ti, Liem Wan, serta Tjeng Lian kakak Tjeng Ti melarikan diri ke selatan. Si kakak berpisah jalan menuju Thailand, sedangkan Tjeng Ti dan Liem Wan ke Singapura, tinggal di sebuah toko obat sambil mengajar kunthaw. Liem Wan memutuskan menetap di negeri ini menjadi tabib, sedangkan Tjeng Tie meneruskan pelarian ke Batavia, dan jadi pedagang keliling di Toko Tiga, Glodok.

Tjeng Tie terus mencari penghidupan yang lebih baik dengan pindah ke Semarang, Kendal, Ambarawa, Wonosobo, baru kemudian ke Parakan. Dia diberi tempat tinggal oleh pedagang tembakau bernama Hoo Tiang Bie di Jalan Demangan 16 Parakan, menempati rumah kecil di sudut halaman.

Di halaman rumah ini Tjeng Tie membuka perguruan kunthaw Garuda Mas dan segera menarik belasan orang untuk jadi murid. Salah satunya adalah Hoo Tik Tjaij dengan nama panggilan Suthur, putra Hoo Tiang Bie. Hoo Tik Tjaij jadi murid kesayangan dan diangkat anak oleh Tjeng Tie, diberi nama Hoo Liep Poen.

Memikul karma

Louw Tjeng Tie memiliki tiga sumpah, yakni berumur pendek, hidup miskin tapi tetap bisa makan, dan tidak berkeluarga. Namun di masa tua, Tjeng Tie terpaksa melanggar sumpah untuk tidak menikah. Dia menikahi seorang janda dari Wonosobo.

Louw Tjeng Tie dan murid-muridnya, Repro Silvia Galikano (2)

Louw Tjeng Tie dan murid-muridnya. (Dokpri Eko Wardojo)

“Murid-muridnya yang mendesak kong Tjeng Tie menikah agar ada yang ‘ngurus,” ujar Eko. Setelah sang istri meninggal, Tjeng Tie menikah lagi namun kemudian istri kedua ini berselingkuh. Istri ketiga pun sakit jiwa. Usahanya, yakni membuat obat-obatan Cina bermerk  Garuda, payah di pasaran. Dia pun lamur (rabun) setelah jadi pemadat.

Tjeng Tie menganggap kesialan demi kesialan tersebut adalah hukuman Tuhan atas kesalahannya di arena pertarungan di Hok Ciu dahulu dan dia tak henti menyesali perbuatan yang dianggapnya tak ksatria.

Suthur merawat Tjeng Tie di akhir masa hidupnya hingga wafat di Parakan pada 1921 dalam usia 66 tahun dan tak berketurunan. Konon, ilmu yang mampu menyembunyikan kemaluannya saat bertarung, membuat Tjeng Tie mandul. Dia dikubur bersama tongkat dan selendang ikat pinggang kesayangannya, di kaki gunung Manden, di pinggir Parakan.

Sewaktu makam Tjeng Tie dipindahkan dari kaki ke puncak bukit pada 1979-1980, konon, kerangka dan tongkatnya masih utuh. Banyak kalajengking besar dan merah keluar dari kuburan yang diyakini merupakan pertanda ilmu ikat pinggangnya sudah mulai punah.

Sepeninggal sang guru, Garuda Mas bubar. Suthur mengajarkan ilmu yang didapat dari Tjeng Tie ke dua anaknya, Hoo Kiong Nio dan Hoo Han Bien. Eko yang merupakan putra dari pasangan Go Kiem Tong (1937-2005) dan Tjan Khing Ay Ribkah (1939-2015) adalah cicit Suthur. Anak perempuan Suthur, Hoo Kiong Nio menikah dengan Go Ping Koei, yang kelak melahirkan Go Kiem Tong, ayah Eko.

silsilah2

Sepenuturan Eko, dahulu senjata untuk berlatih kunthaw jauh lebih banyak dari yang sekarang dipajang di Omah Tjandie. Penyebab pertama berkurangnya senjata adalah tiap kali selesai berlatih, murid-murid Tjeng Tie dan Suthur meminjam senjata untuk dibawa pulang dan tidak dikembalikan.

Penyebab kedua, pada zaman Jepang, Suthur mengubur senjata-senjata di halaman karena Jepang melarang penduduk menyimpan senjata tajam. Seorang karyawan tetangga yang sedang membetulkan genting melihat Suthur menggali tanah dan membenamkan senjata. Dia melaporkan peristiwa itu ke pejabat Jepang yang membuat Suthur diinterogasi dan senjata-senjatanya dirampas.

Omah Tjandie

Di halaman belakang yang tadinya digunakan untuk produksi Jamu Garuda, pada 1930 dibangun rumah menghadap Jalan Gambiran. Di rumah ini, ibunda Eko memproduksi bolu kering cap Tomat yang masih diproduksi sampai sekarang walau dua tahun lalu sang ibu berpulang.

Omah Tjandie Gotong Rojong sebelum renovasi, Repro Silvia Galikano (2)

Omah Tjandie Gotong Rojong sebelum renovasi. (Dokpri Eko Wardojo)

 

Pada 1980, rumah leluhur direnovasi, sekadar memperbaiki eternit serta mengecat dinding, pintu, dan jendela. Baru pada 2013 keluarga Go membuat renovasi besar-besaran tanpa mengubah bentuk rumah. Lantai yang asalnya semen, dilapis keramik; kamar-kamar ditambahkan jendela dengan bukaan ke samping; serta tripleks yang sebelumnya jadi dinding membentuk kamar depan, dicopot, sehingga lapang.

Setelah renovasi rampung, 12 Juni 2015, Eko memberinya nama Omah Tjandie “Gotong Rojong”. Omah Tjandie berarti rumah utama tempat berkumpul keluarga besar, sedangkan Gotong Rojong diambil dari penggalan nama dua bersaudara yang membeli rumah ini, yakni Go Kiem Tong dan Go Kiem Jong.

Seluruh pintu rumah kini sengaja dibuka 24 jam dan lampu menyala kala malam agar tak seram dan lembap, mengingat rumah pernah bertahun-tahun kosong. Tiap Sabtu-Minggu, gerbang pun dibuka 24 jam.

 

Tempat tinggal Louw Tjeng Tie di sudut depan halaman masih ada, hanya saja kini masih dikontrak orang lain sebagai rumah tinggal selama 10 tahun sampai Agustus 2019.

Ilmu bela diri Louw Tjeng Tie masih diteruskan Eko dan dua sepupunya. Parem dan minyak gosok bermerk Garuda dengan foto Louw Tjeng Tie sudah berhenti diproduksi pada 2015. Pasalnya, belakangan, semakin banyak bahan yang sudah diganti, tak seasli resep Tjeng Tie, akibat kesulitan mendapatkan bahan selain banyak bahan yang belakangan jadi punah dan terlarang digunakan, misalnya tulang macan, yang terpaksa diganti minyak cengkih.

Sebagai kenang-kenangan bahwa pernah ada obat-obatan merk Garuda, di lemari kaca, dipajang minyak gosok, pastilles, dan parem produksi terakhir tahun 2015. Di sana disimpan pula alat-alat membuat jamu serta botol-botol untuk menyimpan bahan jamu. Eko juga masih menyimpan buku resep asli tulisan Suthur dari ucapan Tjeng Tie.

Untitled

Di makam Louw Tjeng Tie di Gunung Manden, pinggir Parakan.

***

Dimuat di majalah SARASVATI edisi Mei 2017

Cover_Edisi_42 kecil