Refleksi Indonesia di 100 Tahun Otto Djaya

jaka-tarub-dan-tujuh-bidadari-1995

“Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari” karya Otto Djaya (1995). (Foto: Silvia Galikano)

Jika Otto Djaya masih hidup, tahun ini usianya genap 100 tahun. Dia dikenal lewat tema lukisan yang menyentil melalui karakter lucu dan tak menyinggung.

Oleh Silvia Galikano

Untuk menandai tahun istimewa tersebut, digelar pameran bertajuk “100 Tahun Otto Djaya” di Gedung A dan C Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 30 September hingga 9 Oktober 2016. Pameran ini diinisiasi Inge-Marie Holst dan Hans Peter Holst, pencinta seni sekaligus kolektor lukisan Otto Djaya yang sejak 10 tahun terakhir membuat penelitian tentang pelukis ini.

Dari 200 karya lukis yang dibawa pasangan asal Denmark tersebut ke Galeri Nasional, 172 karya yang dipamerkan, dengan dikurasi Rizki A. Zaelani dan Inge-Marie Holst. Ini adalah pameran kedua karya Otto Djaya setelah pameran pertama pada 1995.

“Kami menemukan keindahan karya seni Otto Djaya pada tahun 2007 di Jakarta. Lukisan Otto Djaya yang pertama kami lihat adalah Pertunjukan Seni Sunda, sebuah lukisan cat minyak yang dibuat pada tahun 1988,” ujar Inge-Marie saat pembukaan pameran, 30 September 2016.

Pertunjukan Seni Sunda memperlihatkan penari berikut pemain musik pengiring serta penonton, yang digambarkan secara elok, anggun, dan sensual. “Energi dari para penari ini begitu gamblang terpancar dalam sapuan kuas Otto. Tentu ini menunjukkan pesona kepiawaian sang pelukis,” kata Inge-Marie.

Otto Djaya (1916-2002) adalah salah satu master dalam sejarah seni rupa Indonesia. Dia pernah menjadi pejuang kemerdekaan; mengalami masa kolonial Belanda, masa Perang Dunia II, masa revolusi, masa pemerintahan Sukarno dan Soeharto, hingga masa demokrasi.

Bersama abangnya, Agus Djaya, mereka pernah pergi untuk belajar dan bekerja sebagai seniman di negeri Belanda pada 1947-1950 dan beberapa kali berpameran di Eropa.

master-landscape

Otto Djaya

Otto seorang pelukis sekaligus pendongeng cerita, bohemian, non-konformis yang tidak pernah mengikuti arus tren seni mana pun. Dia memiliki gaya estetika dan reflektif khas; sangat analitik terhadap kemanusiaan, termasuk dirinya sendiri; serta mampu mensintesis keindahan alam, mitos, cerita rakyat, dan sindiran.

Kecenderungan visualnya dapat dikenali, yakni mengeksplorasi dan mengekspresikan jiwa rakyat Indonesia, khususnya orang Jawa, dengan selalu berkarikatur, tak pernah mengolok-olok.  Alam dan lingkungan Banten telah menghidupkan pokok penggambaran Otto yang bersifat kultural ketimbang tema renungan yang menyuruk pada persoalan-persoalan yang bersifat personal.

“Dia menunjukkan berbagai kejadian sehari-hari yang umum dikenal masyarakat di Indonesia, khususnya di pulau Jawa,” Rizki A. Zaelani, merinci. “Seperti tema tentang pasar, warung, pedagang asong, perayaan perkawinan, pertunjukan kesenian tradisi, perjalanan dengan kendaraan bermotor, sepeda, hingga kereta kuda.”

Karya-karya tipikal Otto Djaya itu dijajarkan di ruang depan Gedung A, antara lain Rumah Judi (1995), Bercengkrama di Warung (1989), Kerokan (1998), Waktu Demonstrasi (1999), dan Pasar Rakyat (1999) hingga membentuk narasi yang mengalir.

waktu-demonstrasi-1999

“Waktu Demonstrasi” (1999) karya Otto Djaya. (Foto: Silvia Galikano)

Banyak lukisan Otto yang menjadi khusus karena dia memasukkan karakter Punakawan, yakni Petruk dan Gareng, dalam situasi hidup keseharian. Ambil contoh lukisan Waktu Demonstrasi yang menggambarkan para perempuan berkebaya memanggul bakul berisi botol jamu, menyunggi bakul berisi buah, menggendong bayi, dan memanggul buntelan kain bertuliskan “Dana bantuan alias utang”.

Lalu di mana Petruk? Dia duduk nyaman gendongan seorang perempuan muda, di dalam barisan itu, dengan ekspresi wajah girang. Di Pasar Rakyat, Petruk ditampilkan seperti sedang menggoda perempuan di tengah ramainya pasar namun sepertinya sang perempuan tak mengindahkan.

Alih-alih bagian dari solusi, Petruk malah jadi “beban” bagi perempuan (-perempuan) ini. Dan Otto menempatkan perempuan sebagai subjek, bukan objek, lukisan-lukisannya. “Petruk itulah Otto. Satu lagi (Gareng, red.) mungkin Agus Djaya,” ujar Rizki.

Dunia pewayangan dan mitologi tradisi menjadi salah satu gagasan sentral yang dia munculkan secara khas, spontan, dan alamiah, seakan-akan kita memang hidup dalam bentangan kisah pewayangan dan mitologi. Misalnya penggambaran Arjuna, Ramayana, Dewi Kwan Im, Dewi Sri, Roro Kidul, dan Jaka Tarub.

otto-djaya-1944

Otto Djaya, 1944. (Foto: Istimewa)

Namun uniknya, Otto tak selalu menggambar tujuh bidadari seperti yang diceritakan dalam mitologi Jaka Tarub, terkadang hanya lima bidadari. Lima bidadari ini, menurut Rizki, kemungkinan simbol molimo, lima perbuatan yang terlarang dilakukan, yakni madat (narkoba), madon (main perempuan), minum (mabuk-mabukan), main (berjudi), dan maling (mencuri).

Ketertarikan Otto pada tema mitologi, menurut Rizki, tak lepas dari pengaruh zaman pendudukan Jepang di Indonesia. “Seniman yang mengalami pendudukan Jepang umumnya tertarik pada identitas Timur. Itu yang membuat Agus Djaya dan Otto Djaya dikenal.”

Pada malam pembukaan pameran, disajikan juga buku berjudul The World of Otto Djaya (1916–2002) yang ditulis Inge-Marie Holst. Buku yang juga tersedia versi digitalnya ini menceritakan Otto Djaya sebagai salah satu pelukis Indonesia yang karyanya dikoleksi Presiden Sukarno.

Walau menonjol dibandingkan dengan rekan-rekan sejawatnya yang telah terkenal  dan  memiliki  karya-karya  yang   lebih  terekspos  dan  terpublikasikan, namun informasi tentang Otto Djaya terbilang minim. Biografi tentangnya tidak pernah dituliskan.

Pencarian Inge-Marie dan Hans Peter Holst berlanjut ke investigasi arsip di Belanda dan pertemuan dengan para sejarawan seni di sana. Inge-Marie pun mengunjungi rumah tempat Otto dan Agus Djaya tinggal di Belanda. Pada masa itu Otto sempat membuat pameran yang terbilang besar tapi tak banyak diketahui di Indonesia karena perhatian masyarakat sedang tertuju pada kemerdekaan RI.

Pada 1950 Otto Djaya kembali ke Indonesia dan menjadi pelukis penuh waktu. Sempat tinggal di Semarang, dia kemudian pindah ke Depok hingga meninggal pada 2002. Otto  punya empat anak, tiga putri dan satu putra.

“Otto Djaya tidak lagi terlalu merupakan sebuah enigma sekarang, tapi kami masih tetap merasa tertantang atas keindahan makna yang lebih lagi dari banyak karyanya,” ujar Inge-Marie.

***
Dimuat di majalah Sarasvati edisi November 2016

cover_edisi_36

Rumah Panggung Baja Lenteng Agung

rumah-terbagi-jd-3-massa-kecil

Rumah panggung baja terdiri dari tiga massa bangunan kecil. (Foto: koleksi Yu Sing)

 

Seluruh tulisan dan foto berikut diambil dari Facebook Yu Sing:

Studio #akanoma kadang sengaja melakukan pendekatan partisipatif pada pemilik rumah yang dianggap punya rasa keindahan/desain yang bagus.

Pada proyek sepersonal rumah tinggal, bangunan hanyalah tubuh, sedangkan jiwanya diisi oleh pemilik/penghuninya. Pendekatan ini berhasil misalnya pada @klinikkopi Yogyakarta.

Walaupun lahannya kecil, tidak sampai 150m2, banyak ruang yang asyik untuk dinikmati dan karenanya tidak terasa kecil.

Tentu juga angin berteman karena hadir di mana-mana. Matahari juga sering-sering memberi berkatnya. Bila pohon telah hadir, rumah makin asyik.

tdk-menempel-tetangga

Lantai bangunan menggunakan beton cor beralas zincalum. (Foto: Koleksi Yu Sing)

Tanah tidak diurug. Lantai ditinggikan jadi panggung. Bawah panggung kosong sekitar 70 cm berupa tanah asli. Panggung kosong yang agak tinggi memudahkan perawatan dan tidak menjadi sarang binatang.

Air hujan lebih banyak meresap ke dalam tanah, menambah cadangan air tanah, mengurangi banjir, dan mengurangi beban penurunan muka tanah (akibat terlalu banyaknya air tanah diambil tanpa dikembalikan). Tanah terbuka juga menyerap kelembapan dengan baik sehingga rumah lebih tidak lembab.

Rumah ini terdiri dari 3 massa bangunan kecil-kecil dan tidak menempel dengan tetangga. Struktur baja. Ruang kecil berasa lega karena kesatuannya dengan ruang luar.

Dinding sebagian beton cor setebal 7 cm dengan tulangan tunggal M5 berbekisting papan untuk tekstur dinding lebih dekil. Papan-papan bekas bekisting yang selamat sampai akhir, dipakai kembali untuk daun pintu.

Lantainya zincalum terus dicor beton bertulang tipis. Dindingnya dari zincalum. Kalo mo bikin…hrs diitung org struktur ya.

Lantai 2 pakai cor beton tipis bertulangan tunggal M5 atau M6 dengan alas zincalum. Kontraktornya bekerja sesuai hatinya 😛 . Kalo sekedar kontraktor…gak mau kerjain ginian. Murah tapi repot.

Penggunaan material baja untuk dinding dan atap apa tidak terlalu berisik ketika hujan? Atapnya pakai glasswool. Tapi mau coba ada tambahan lain lagi. Dinding ternaungi atap kecuali hujan angin besar.

Ini hal baru lagi. Pintu rumah ini dari kayu-kayu murah saja sekelas kayu sengon, papan kayu bekas cor. Tapi tanpa tanya, Pak Heri, pelaksana proyeknya, menggores-gores kayunya pakai mesin potong. Jadinya keren. Sebetulnya lebih keren kalau kayu tengah itu dihilangkan. Tapi ini telanjur penampang samping kayunya rata, jadi perlu pakai kayu itu.

Bila ingin rumah murah, maka perlu memahami keindahan dalam kesederhanaan seperti ini. Keren kok. Ya murah juga. Tak perlu pakai keramik lagi di dalam kamar mandinya. Lantai juga semen doang.

Begini cukup. Fungsinya masih baik. Nanti, bila tabungan bertambah, bolehlah dinding itu dilapis kayu. Tapi nggak diapa-apain juga cukup kok.

Sebetulnya kalau dipikir2 lagi sesuai ide #rumahbersama yang pernah saya tulis, rumah ini seperti contoh nyata 1 kapling. Tangga bersama 1. Bisa kan belajar berhemat ukuran ruang dan gaya hidup praktis. Rumah mungil asal menyatu dengan aneka ekosistem alam dalam rumah.

==

Harga relatif. Karena ini 3 massa terpisah, tentu biaya struktur lebih mahal daripada 1 massa tunggal. Beda yg mau dicapai. Penghematannya karena menghemat arsitekturnya. Bisa jadi mahal juga dengan desain yang sama tapi pilihan finishing yang beda. Tapi kira-kiranya lebih murah dari harga rumah yang dibangun pengembang.
Soal biaya struktur tergantung desain juga. Ini konstruksi dengan beban (dinding, atap, lantai) ringan juga untuk menghemat struktur yang berpotensi mahal karena 3 massa dan panggung, tapi masih bisa terjangkau untuk kalangan menengah.

***

Kitab Kuliner Warisan Sukarno Diterbitkan Ulang

img_20160814_120006-kecil

Mustikarasa terbitan Komunitas Bambu. (Foto: Silvia Galikano)

Mustikarasa, satu-satunya buku masakan resmi yang pernah diterbitkan pemerintah, pada 2016 diterbitkan ulang oleh Komunitas Bambu. Edisi barunya ditambah anak judul, sehingga berjudul lengkap Mustikarasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno.

Buku ini  pertama terbit pada 1967 setelah melalui proses panjang. Walau mulai digagas pada 1959 namun sebenarnya pada 1920-an Bung Karno pernah melontarkan kalimat bahwa kemerdekaan itu dimulai dari lidah. Yang dimaksud adalah kebebasan berbicara karena rezim kolonial represif terhadap wacana.

Setelah merdeka, Sukarno mulai bicara definisi lain tentang kalimat tersebut, yakni dikaitkan dengan kemerdekaan sehingga kemudian kita kenal slogan-slogan, seperti gemah ripah loh jinawi (kekayaan alam yang melimpah) dan sandang, pangan, papan (pakaian, makanan, rumah). Sandang, pangan, papan adalah garansi negara bagi rakyat jika Indonesia merdeka.

“Bung Karno pun mulai memikirkan tiga hal itu, dan pangan jadi persoalan serius karena dia tahu salah satu kampanye persatuan dalam kebhinnekaan adalah melalui makanan,” ujar sejarawan J.J. Rizal dalam peluncuran buku Mustikarasa di Kedai Tjikini, Jakarta, 14 Agustus 2016.

Masalahnya, walau Indonesia kaya akan khazanah kuliner, tak ada dokumentasinya secara nasional, disebabkan budaya tutur lebih dominan. Hanya pemerintah kolonial Belanda yang pernah membuat satu-satunya buku masak Nusantara berjudul Groot Niew Vooledig Oost-Indisch Kookboek yang memuat 1381 resep Hindia Belanda.

Ditambah lagi Sukarno bukanlah petualang kuliner yang punya banyak referensi tentang makanan. Dia tak suka makanan Eropa, dan hanya makan makanan kampung.  Saat kunjungan ke luar negeri, misalnya, koki istana ikut diboyong berikut cobeknya karena Sukarno makan sambal harus langsung di-korek dari cobek.

“Begitulah Sukarno, selera makannya ‘kampungan’ dan cara makannya ‘kampungan,’” kata Rizal yang juga pendiri Komunitas Bambu.

Maka untuk mendokumentasikan masakan Indonesia dalam bentuk buku, dikirimlah para pekerja yang serius dalam urusan fashion (saat itu, makanan masuk kategori fashion). Setelah terkumpul 1300 resep, ternyata Sukarno tak menggunakannya sama sekali.

Dia kemudian menugaskan M. Yamin untuk jadi Kepala Dewan Perancang Nasional (Depernas) pada 1962, yang jadi cikal bakal Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), untuk memikirkan ketersediaan sandang, pangan, papan.

Pengerjaan buku babon kuliner Indonesia itu juga jadi tanggung jawab Yamin dengan tenggat waktu satu tahun. Para pamong praja dari daerah diundang ke Jakarta untuk diwawancara guna menggali kekayaan kuliner wilayahnya. Namun ternyata hasilnya jauh dari harapan.

Akhirnya penulisan buku diserahkan ke Akademi Gizi. Walau mulai tampak keberhasilannya, belum jelas betul bentuk jadinya bakal bagaimana, termasuk akan mengambil judul apa.

Sekali lagi Sukarno menemukan masalah, yakni ketika tak ada yang dapat menjawab pertanyaan tim penulis buku tentang berapa konsumsi beras per kapita orang Indonesia. “Pasalnya posisi beras sangat penting di Indonesia. Kalau stok beras kosong, maka negara dalam bahaya,” kata Rizal.

Dan ketika jawaban pertanyaan itu ditemukan, disimpulkan jika Indonesia mau selamat, ekspansi dan kolonisasi beras ke masyarakat yang tidak mengkonsumsi beras harus dihentikan. Sukarno membuat self-supporting beras, mengganti beras dengan jagung. Salah satu bentuk kampanye mengerem konsumsi beras adalah dengan seringnya istana memperdengarkan lagu Menanam Jagung.

Ketika tahun 1964 Mustikarasa mulai menemukan bentuknya, Sukarno menugaskan sang istri, Hartini, untuk menguji resep-resep yang sudah terkumpul. Hartini pun membuat pameran makanan ke seluruh Indonesia. Namun setelah pameran rampung, belum lagi hasilnya dikompilasi, pecah peristiwa G30S 1965.

Mustikarasa akhirnya terbit tujuh tahun setelah dicetuskan, pada awal 1967, secara terburu-buru, pada akhir masa pemerintahan Sukarno. Karena Sukarno pernah berpesan agar buku itu terbit saat dia masih memimpin.

Karena kitab kuliner ini terbit secara terburu-buru, tak heran jika ditemukan banyak keganjilan, seperti di nama resep tertulis “Ayam” tapi ternyata di daftar bahannya tak mengandung ayam, atau sayur khas Betawi tapi dituliskan di buku itu berasal dari Cirebon.

Lepas dari semua keganjilan tersebut, yang menarik, Mustikarasa disajikan secara inklusif, ambil contoh, menuliskan “babi” dan “darah” dengan gamblang.

Selain masakan rumahan yang abadi, seperti sayur bobor dan ongklok kentang, dari buku ini juga kita jadi tahu dunia kuliner juga berproses; ada bahan makanan baru, ada juga yang hilang. Dahulu daging penyu banyak digunakan, ada masakan bernama kelada yang berbahan lidah kuda, serta ada taart semangka, tapi sekarang ketiganya tak lagi ada di meja makan rumah tangga.

“Saya menemukan resep kue sakura di majalah Djawa Baroe terbitan tahun 1944. Di Mustikarasa ada resep kue sakura juga, tapi beda. Inilah kekayaan kuliner kita yang hilang. Resep-resep dari nenek yang sekarang sudah tak lagi dipraktikkan,” kata Rizal.

Nyaris sepertiga buku berisi teks, bukan resep. Banyak pula esai panjang tentang kuliner, pengetahuan gizi, cara menganyam ketupat, posisi dapur, peletakan tungku, sampai cara mencegah kebakaran.

“Saya mempertahankan semua seperti asli; ejaannya, juga kekurangannya. Saya hanya mengubah anak judulnya untuk menghormati iniasiator pengumpul resep agar ingat bahwa beliau pernah melakukan sesuatu di luar pengetahuan kita.”

***
Dimuat di sarasvati.co.id, 21 Agustus 2016

Identitas Indonesia Kental di Karya Nyoman Nuarta

IMG_1972

Gerbang NuArt Sculputre Park di Sarijadi, Bandung. Foto: Silvia Galikano

 

Lanjutan dari Menghitung Hari Menuju Karya Besar Nyoman Nuarta

Oleh Silvia Galikano

Jalan kekerasan tak pernah jadi pilihan Nyoman, sedangkan berdiskusi bukan gaya kelompok si penghancur patung. Ditambah lagi aparat tak memberi jaminan keamanan.

Berkarya secara profesional sejak 1970-an, baru beberapa tahun belakangan karya-karya patung Nyoman Nuarta jadi sasaran ketidaksukaan kelompok yang mengatasnamakan agama.

tiga mojang - namihani@panoramio,com

Patung “Tiga Mojang”. Foto: namihani@panoramio(dot)com

Tiga Mojang di Perumahan Harapan Indah Bekasi didemo dan dibongkar pada September 2010 karena dituduh mengusung Trinitas. Padahal patung yang menggambarkan tiga mojang Priangan mengenakan kemben itu sudah berdiri tiga tahun dan sebelumnya aman-aman saja.

Lain lagi cerita patung Borobudur di perumahan Kota Legenda, Purwakarta. Tanpa demo atau peringatan apapun, tahu-tahu saja patung seluas 20 meter persegi dan tinggi 15 meter itu pada akhir 1990-an hanya tersisa stupa utamanya.

“Saya tidak tahu bagaimana. Ada wartawan yang kirim foto, memberi tahu patung saya tinggal stupa saja,” ujar pematung Nyoman Nuarta saat menerima kedatangan CNNIndonesia.com di NuArt Sculpture Park, Bandung, pertengahan Mei 2016.

Dari miniatur Borobudur yang dipajang di galeri NuArt, patung ini menggambarkan candi Borobudur berikut juntaian “akarnya” yang kokoh dan solid, terangkat dari permukaan bumi.

IMG_2003

Miniatur “Borobudur” karya Nyoman Nuarta. Foto: Silvia Galikano

“Padahal patung itu dilingkari parit seperti penjara Alcatraz. Bagaimana bisa sampai hilang? Selidik punya selidik, ternyata (diambilnya, red.) pakai crane.”

Di Riau, baru sampai ide untuk membuat patung Zapin di depan kantor Walikota, Nyoman urung setelah didemo.

Di Tabanan, yang notabene kampung halamannya sendiri, patung Bung Karno setinggi 5 meter yang pendiriannya atas permintaan Bupati Tabanan, diprotes masyarakat pada Juli 2014. Alasannya karena dulu di sana berdiri patung sakral masyarakat Bali, Wisnu Murti.

“Kantor saya pernah juga dilempari, saya diteror tengah malam, digarong, di DPR dimaki-maki dibilang menghamburkan uang negara, sudah biasa, saya happy-happy saja. Pengalaman saya macam-macam.”

Jalan kekerasan tak pernah jadi pilihan Nyoman, sedangkan berdiskusi bukan gaya kelompok si penghancur patung. Ditambah lagi aparat tak memberi jaminan keamanan.

“Kita bisa diskusi kalau sepemikiran, kan? Mereka tidak pernah sendiri, selalu ramai-ramai. Sedangkan lingkungan kami adalah lingkungan intelektual.”

IMG_1992

Miniatur “Garuda Wisnu Kencana” karya Nyoman Nuarta. Foto: Silvia Galikano

Repotnya lagi, lanjut Nyoman, protes kelompok tersebut berangkat dari anggapan bahwa patung sama dengan berhala, diidentikkan dengan sesembahan umat Hindu Bali, padahal sudah sejak “zaman kadal” orang Bali tidak menganggap patung sebagai berhala.

“Sedih saya. Kok bisa orang seperti itu hidup di zaman seperti ini.”

Lewat Tiga Mojang, Borobudur, dan Garuda Wisnu Kencana, karya akbar yang ditargetkan rampung tahun depan, Nyoman hendak mengedapankan identitas bangsa Indonesia, modal utama kedaulatan dan kewibawaan. Dan identitas hanya dapat dibentuk dari budaya yang orisinal.

Nyoman mencontohkan Bali. Walau Hindu, agama mayoritas di Bali, berasal dari India, ujar Nyoman, “Apakah ada secuil saja budaya India di Bali? Tidak ada. Entah itu makanan atau bahasa. Malah yang saya lihat ada pola ukiran di Bali ditemukan juga di Mesir dan China.”

Tak ada kewibawaan, maka tak akan ada kedaulatan. Hanya dengan membuat diri terhormat maka penghormatan akan didapat.

“Sekarang ada perubahan drastis di orang-orang Indonesia. Budaya Arab ditelan saja. Saat ini, karena budaya kita sudah begitu lunturnya, kita harus memulihkan, menyadarkan bahwa ini bukan budaya kita.”

IMG_1938

Karya patung di halaman NuArt Sculputre Park di Sarijadi, Bandung. Foto: Silvia Galikano

Nyoman Nuarta lahir di Tabanan, Bali, 14 November 1951. Selulus SMA, dia melanjutkan kuliah di Jurusan Seni Lukis, Institut Teknologi Bandung tahun 1972. Dua tahun kemudian dia pindah ke Seni Patung karena di seni patunglah dia dapat menuangkan ekspresi keseniannya secara penuh.

Perbincangan kami berlangsung sambil makan siang di kafe di dalam kawasan NuArt Sculpture Park. Selain galeri dan taman, NuArt Sculputure Park juga punya ruang audiovisual, butik kerajinan tangan, dan kafe yang sama-sama menunjang kegiatan berkesenian.

Di kawasan seluas 3 hektare ini dipamerkan 300-an karya patung Nyoman Nuarta, sejak awal berkarier hingga karya terbaru. Di sana ada karya patung pertamanya, Torso (1975), yang sudah menampakkan ciri ingin menggambarkan angin (berwujud patung “sobek-sobek”) di antara bentuk solid sesuai pakem diajarkan di kampus.

IMG_1941

“Devi Zolim” (2015) karya Nyoman Nuarta. Foto: Silvia Galikano

Tepat di tentangan pintu masuk utama galeri, terpasang patung Devi Zolim (2015). Devi Zolim adalah “dewi keadilan” dengan mata tertutup, memegang timbangan, tapi berwajah bolong seperti hantu dan menginjak rakyat.

Nyoman mempertanyakan keadilan di negeri ini sekaligus menggambarkan inilah hukum sekarang, hukum uang. “Tak ada yang tidak bayar, bayar pun memakai uang lawan. Bangsa ini sedang membela kejahatan. Para penjahat itu pegang uang.”

Lewat patung Api Borneo (2016) dia menyuarakan keprihatinan terhadap masalah lingkungan. Patung berbahan tembaga dan kuningan ini berbentuk enam pokok pohon yang diletakkan di antara pepohonan betulan, hampir serupa jika tak diperhatikan benar. Di tengah-tengah, seekor induk orangutan mendekap anaknya dengan wajah ketakutan.

Saat malam, patung-patung pohon ini “dibakar”, api keluar dari tengah pokok-pokok pohon, langit memerah menyuguhkan pemandangan mengerikan.

Di Jakarta ada beberapa karya Nyoman yang menarik perhatian, seperti patung Arjuna Wijaya (masyarakat kerap menyebutnya “Patung Kuda”) di dekat bundaran Indosat yang diresmikan Presiden Soeharto pada 16 Agustus 1987.

Ide pembuatan patung ini didapat sepulang Soeharto dari kunjungan ke Turki. Di sana, sepanjang jalan protokol ada patung masa lalu Turki, dan presiden Turki kala itu lancar bercerita tentang sejarah dan legenda Turki yang berkaitan dengan patung tersebut.

arjuna @kompas

Patung “Arjuna Wijaya” karya Nyoman Nuarta. Foto: Kompas

Maka Nyoman ditanya Soeharto tentang cerita masa lalu Nusantara yang bisa diterima semua orang. “Saya pusing. Saya ini pematung modern, harus bikin patung tentang masa lalu. Pak Harto mau tidak dibikinkan patung sobek-sobek?”

Maka diputuskan membuat patung yang mengutip adegan perang dalam epos Mahabharata. Arjuna menggenggam busur panah, sementara Batara Kresna mengendalikan kereta perang yang ditarik delapan ekor kuda.

Tak banyak yang tahu, patung ini tidak diongkosi pemerintah. Dana dari sponsor, yakni keramik Diamond, hanya Rp300 juta ditambah kocek Nyoman pribadi Rp25 juta.

Untuk mengakali keterbatasan uang, patung itu dibuat dari polyester resin terlebih dahulu. Baru kemudian, setelah dana cukup, Arjuna Wijaya diganti dari bahan tembaga. Sekarang, tanggung jawab pemeliharaan oleh dana CSR Bank OCBC.

Lantas, apa yang mendorongnya sampai mau merogoh kocek sendiri?

“Ini negara kita,” kata Nyoman penuh semangat. “Patung saya dipasang, saya bangga juga. Jangan semua kesempatan Anda pikir akan menghasilkan uang. Kalau punya uang, saya bikin.”

Selain Arjuna Wijaya, patung lain yang dipasang di jalan protokol Jakarta adalah patung di halaman hotel Grand Hyatt Jakarta dan patung Ku Yakin Sampai di Sana di depan Museum Nasional (Museum Gajah).

Sedangkan proyek besar yang sekarang sedang dikerjakan adalah patung Garuda di jalan menuju Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pengganti gapura Bali. Patung setinggi 18 meter (termasuk pedestal 3 meter) dan berat lebih dari 20 ton itu hampir 50 persen jadi

Setelah sekitar 40 tahun berkarya, Nyoman telah menghasilkan tak kurang 300-an patung asli dan 100-an patung publik. Bandung sudah jadi rumahnya dan akan terus berkarya di Bandung, bukan di Bali, tanah kelahirannya. Keputusan ini ada sebabnya.

“Kalau semua orang Bali tinggal di Bali, bisa berkelahi sesama Bali. Rebutan. Karena itu ada istilah ‘Orang Bali itu hidupnya seperti ayam Bali. Kalau dikasih makan, bukan makanannya dulu yang dipatuk, tapi kepala temannya,’” sekali lagi Nyoman terkekeh.

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 6 Juni 2016

IMG_1955

Nyoman Nuarta, Ranny, dan saya. Foto: Ratih