Makna Tersirat Sebuah Narasi Baru

IMG_20170413_125920

Pameran tunggal Triyadi Guntur Wiratomo,“Between The Line”, yang diadakan Rachel Gallery di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 11—23 April 2017. (Foto: Silvia Galikano)

 

Sejarah selalu jadi benang merah karyanya. Meski seperti berkisah, karya-karya Guntur tetap tidak memiliki kepastian makna.

Oleh  Silvia Galikano

Karya bagaimana yang terbayangkan dari seorang ilustrator yang menyukai sejarah? Ada selipan sejarah dalam karyanya? Pasti. Tapi bagaimana eksekusinya, ada panjang ceritanya.

Ilustrator yang dimaksud adalah Triyadi Guntur Wiratomo, seorang seniman, peneliti, sekaligus dosen jurusan Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB).

Sebagian besar karya Guntur kental akan nilai sejarah dan ideologi. Dia gemar mencermati narasi kemanusiaan yang diceritakan sejarah melalui gambaran sosok pahlawan, idola, atau tokoh-tokoh. Sejarah, baginya, tak hanya tentang (ilmu) pengetahuan melainkan juga soal pembentukan persepsi nilai, karenanya akan selalu menampung misteri.

IMG_20170413_124922

Triyadi Guntur Wiratomo, “Perjuangan: Kesabaran Adalah Bumi”, 2017. (Foto: Silvia Galikano)

 

Dalam pameran tunggal “Between The Line” yang diadakan Rachel Gallery di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 11—23 April 2017, Guntur, misalnya dalam tiga seri karya Perjuangan, menyandingkan dua kanvas—dua frame “direkatkan”. Kanvas pertama, bermedia akrilik dan grafit (graphite), menggambarkan pahlawan perempuan dalam pose yang kita kenal. Kanvas kedua, kesan yang melekat tentang si tokoh, Guntur ekspresikan lewat benang yang dijahitkan dengan teknik sulam di atas kanvas.

Ambil contoh Perjuangan: Kesabaran Adalah Bumi (2017) yang menyandingkan lukisan sosok Inggit Garnasih dengan kursi. Seutas tali menjuntai di lantai dari tangan Inggit dan berujung di kaki kursi. Apa makna kursi di sini? Kekuasaan? Kekuasaan siapa? Bahwa dulu Inggit pernah mengantarkan Bung Karno ke ujung kemerdekaan RI? Atau ini simbol kekuasaan Inggit memilih bercerai dari Bung Karno karena menolak dimadu? Atau kursi kosong belaka? Segala tafsir boleh saja, toh pengetahuan manusia akan selalu terbuka pada perubahan persepsi mengenai sejarah.

Guntur bermain dengan citra-citra yang tersedia. Dan melalui pemahaman sosial dan politis menghasilkan narasi baru yang berbeda, bahkan seringkali beroposisi dengan narasi-narasi umum yang sudah mapan, yang ditampilkan secara satire.

IMG_20170413_125206

Triyadi Guntur Wiratomo, “Lost in Fiction: Getting Pretty, Dear Kamerad”, 2017. (Foto: Silvia Galikano)

 

Pria kelahiran Kudus tahun 1974 itu bisa-bisanya menjadikan Mao Zedong yang klimis sebagai tukang cukur bagi Karl Marx yang berambut gondrong dan kusut dalam Lost in Fiction: Getting Pretty, Dear Kamerad (2017). Uniknya, kepala Marx adalah lukisan perangko Uni Soviet (CCCP) berwarna merah bergambar kepala Marx yang “ditempelkan” ke gambar hitam putih tubuhnya.

Jika kepala Marx adalah lukisan perangko, kepala Bung Karno dalam seri Postcard from the Past (2010) adalah benar-benar menggunakan perangko 10 sen yang ditempelkan ke tubuh Bung Karno yang digambar dengan medium grafit.

Dari sisi teknik, lukisan-lukisan Guntur cenderung menekankan kekuatan gambar (drawing) meski ada juga teknik melukis dengan cat minyak dan teknik sulaman benang. Penggabungan teknik-teknik tersebut juga adalah cara menunjukkan kontras, serta betapa gambar dengan kekuatan garis-garis memiliki peran penting.

IMG_20170413_125647

Lukisan-lukisan “potret” karyanya tidak digambarkan sebagaimana kebiasaan adanya gambar potret. Sikap tubuh mereka penuh makna. Kurator pameran ini, Rizki A. Zaelani menjelaskan dalam catatan kuratorialnya bahwa ini menunjukkan sikap-sikap tubuh yang tengah “bercerita” dan mencoba mengkomunikasikan sesuatu atau berbagai hal kepada tiap-tiap orang yang memperhatikannya. Sikap-sikap itu bisa saja menggeser persepsi seseorang tentang para tokoh itu keluar dari narasi sejarah yang umum.

Dalam penggalan video yang diputar di ruang audiovisual, Guntur menyebut sejarah selalu jadi benang merah karyanya, dan riset selalu masuk dalam proses berkarya, sama ketatnya dengan studi sejarah.

Metode berkaryanya dianggap lebih dekat dengan kajian (pengalaman) psikologis yang salah satu peran pentingnya adalah imajinasi. Tesisnya pun mempertanyakan narasi besar sejarah melalui eksperimentasi closure (ketertutupan). Closure, diambil dari teori psikologi, adalah sesuatu yang tidak ada hubungannya tapi imaji/pikiran kita mencoba melengkapinya.

Closure-nya dari perangko yang saya coba teruskan badannya. Saya coba lengkapi yang belum lengkap (sehingga) jadi satu konteks ruang dan waktu. Ketika pola closure itu saya pakai, orang melihat ada dialog di karya itu,” ujar Guntur.

IMG_20170413_125805

Triyadi Guntur Wiratomo, “Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-kata”, 2017. (Foto: Silvia Galikano)

Meski seperti berkisah, karya-karya Guntiur tetap tidak memiliki kepastian makna. Dia justru secara aktraktif mengundang respon tiap orang yang menikmatinya agar turut meraih berbagai makna yang mungkin muncul. Menemukan dan menikmati kesimpulan sendiri. Pasalnya bahasa ekspresi seni memang tak biasa karena ia berusaha melampaui pengalaman hidup normal keseharian.

“Bagi saya,” lanjut Rizki, “Guntur sedang mengkomunikasikan sejenis pengertian, kesimpulan, atau cara-cara penerimaan tertentu mengenai persoalan yang tengah berkembang kini yang tak mudah dijelas-jelaskan.”

Karenanya judul “Between The Line” tak hanya bermakna idiomatik sebagai “sesuatu yang tersirat”, untuk melihat apa yang tak terlihat di lukisan-lukisan Guntur. Lebih jauh lagi, ini soal pengalaman menikmati ketertiban, harmoni, dan keterampilan menumpukkan garis-garis yang dilakukannya secara intens, sesuatu yang tersurat dari karya-karyanya.

Gambaran yang Guntur sajikan tak cukup hanya mengundang jawaban bahwa seseorang telah mengenal dan mengetahui persoalannya. Ekspresi yang tersurat dari ti

ap-tiap karya justru terus memancing seseorang untuk mengenal dan merasakan apa yang tersirat.

***
Dimuat di majalah SARASVATI edisi Mei 2017

Cover_Edisi_42 kecil

 

Rumah Singa di Pasuruan

IMG_4389

Rumah keluarga Kwee di Pasuruan. (Foto: Silvia Galikano)

 

Kejayaan industri gula Pasuruan memberi kekayaan dan kekuatan penting bagi kelompok pengusaha Tionghoa melalui manajemen ladang tebu dan penggilingan tebu.

Tombe, pengelana asal Prancis yang mendatangi kota ini pada 1803 mengatakan kawasan Pecinan Pasuruan sangat luas dan penduduknya mencapai sepertiga dari isi kota.

Baca juga Daroessalam, Rumah Gula di Pasuruan

Sepanjang paruh kedua abad ke-18, beragam bupati menyewakan tanah ke orang-orang Tionghoa yang menjalankan penggilingan tebu. Di antara mereka adalah Han dari Surabaya dan Kwee (Guo) dari Semarang yang menjadi pengusaha terkemuka di Jawa Timur.

Han Jilang atau Han Kik Long atau Han Kik Ko (1766-1813, sumber Barat kerap salah tulis menjadi Han Tik Ko), putra Kapiten Tionghoa Surabaya Han Bwee Kong, adalah salah satu tuan tanah pertama yang mulai membuat perkebunan tebu.

 

Claudine Salmon dalam Chinese Epigraphic Materials in Indonesia (1997) menulis, Han Kik Ko punya tanah hingga ke bagian selatan Surabaya dan menyewa lahan di dekat karesidenan Pasuruan. Dia juga kemungkinan menjadi Kapiten Pasuruan sebelum menjadi Mayor Probolinggo.

Menurut R. E. Elson seperti dikutip Salmon, “Pada 1808 tak kurang 12 desa dan 2.538 penduduk, yang disewakan pemerintah ke Han.”

Pada awal abad ke-20, Antoine Cabaton mencatat, “Rumah-rumah bagus yang dibangun orang Eropa akhirnya dihuni masyarakat Tionghoa. Itu sebab Pecinan di kota ini punya penampilan mewah, beda dengan di tempat lain.”

Baca juga Cerita Gemilang Industri Gula Pasuruan

Orang-orang Tionghoa kaya di Pasuruan juga membangun rumah-rumah megah yang memasukkan elemen Tionghoa dan gaya Indis yang saat itu sedang tren.

Hubungan dengan luar negeri pun cukup lancar. Pelabuhan Pasuruan digunakan untuk mengekspor hasil perkebunan selama Cultuurstelsel sampai akhir abad ke-19.

Lewat pelabuhan ini pula semua bahan bangunan dari luar negeri didatangkan, kecuali pasir, bata, dan kapur. Sebagian besar digunakan untuk membangun rumah-rumah mewah di Kota Pasuruan.

 

Salah satu peninggalan kejayaan gula Pasuruan adalah rumah keluarga Kwee yang dikenal dengan sebutan Rumah Singa karena di depan rumahnya terdapat dua patung singa. Letaknya di Jalan Hasanudin No. 11-14 Pasuruan, di lahan seluas satu hektare, berseberangan dengan Gedung Pancasila

Rumah yang dibangun pada 1825 itu berlanggam Indis. Awalnya milik orang Belanda, lalu pada 1840-an dibeli Tan Kong Seng, seorang Kapiten Tionghoa.

 

 

Renovasi dilakukan pada 1860 dengan mendatangkan lantai marmer dan pagar besi dari Italia. Kolom-kolom berbahan bata diganti dengan besi tuang yang mulai populer pada akhir abad ke-19.

Pada awal abad ke-20, rumah tersebut ditempati keluarga Kwee. Patung singa pun ditambahkan di halaman depan dengan harapan rumah akan selalu aman terjaga.

Sekarang, fungsinya masih tetap rumah tinggal. Walau termasuk bangunan cagar budaya, namun karena milik perorangan, bukan milik Pemkot Pasuruan, bangunan bersejarah ini tertutup untuk aktivitas wisata. Wisatawan hanya dapat melihat dari luar pagar.

***
Dari perjalanan ke Pasuruan, 18 Agustus 2015

Rumah di Genteng Candirejo Surabaya

IMG_3139

Rumah keluarga Nuril di Jalan Genteng Candirejo 14, Surabaya. (Foto: Silvia Galikano)

 

Saya menemukan roh Surabaya saat melihat rumah di Jalan Genteng Candirejo Surabaya ini. Ada kehidupan khas perkampungan Surabaya seperti dulu saya temukan ketika bertandang ke rumah kawan di daerah Gubeng, Baba’an, dan di Jalan Demak Timur. Lingkungan tempat saya tumbuh, Pangkalan AL Ujung yang homogen, tidak bisa mewakili Surabaya yang sesungguhnya.

IMG_3120

Jalan Genteng Candirejo, Kampung Genteng, Surabaya. Hijau dan bersih. (Foto: Silvia Galikano)

Sulit menjelaskan roh Surabaya seperti apa yang saya maksud. Yah seperti itulah. Di siang bolong yang terik, melihat rumah dengan pohon di depan, teras adem, dan pintu terbuka (makin lengkap kalau terdengar sandiwara radio dari dalam). Begitu sampai di pintu, tercium pula wangi tempe sedang digoreng. Aduh, jadi makin banyak kenangan yang melesat di kepala.

Seorang perempuan menyahut salam saya. Dia sedang berada jauh di dalam, di dapur, sedang menggoreng tempe. Setelah mematikan kompor (katanya, kebetulan memang sudah selesai), kami ngobrol.

Namanya Nuril, 43 tahun. Rumah ini sudah dimiliki keluarga sejak kakek-neneknya dari garis ibu. Sekarang tinggal Nuril berdua adiknya laki-laki yang menghuni rumah setelah sang suami berpulang setahun sebelumnya.

Menurut Nuril, rumah ini masih asli sebagaimana dulu dihuni kakek-nenek.  Dia hanya menambahkan talang air. Lantai rumah yang ditutup karpet plastik, katanya berubin polos.

MASTER LANDSCAPE

Bocah di tengah adalah ibunda Nuril, Nurhayati (1951-2013); diapit orangtua Nurhayati, Soetiani dan Muchammad Ali. (Dokpri).

Nuril menunjukkan kamar yang tidak dihuni, dijadikan tempat menyimpan barang-barang lama berupa tempat tidur besi, bufet, dan koleksi cangkir teh. Barang-barang itu diamanatkan ibunya untuk tidak dijual.

Dia juga memperlihatkan catatan lama, milik nenek dan diteruskan ke ibunya, buku yang berisi kejadian-kejadian penting keluarga. Berikut saya kutipkan:

* Tgl: 17 Maret 1963 (tgl 21 Sjawal 1382) Hari Minggu paing djam 8 pagi. Lahar Gunung Agung Bali.

* A. Somad – Saptu wage

* Mu’awanah Muhadjir. Djl. Keradjinan Bandung gg. V/96 Lamongan

* Molai kerdja di PUSKOPAL Hari Senen tgl 8 Djuli 1968.

* Pindah ke Djl. Patjarkembang tgl 1 September 1970.

* Lahire Nurchanifah dino malem Djum’ah Kliwon dj. 1.30 tgl 8 October 1954. Djawa tgl 10 Sapar 1886. Pupak pusere dina Rebo Kliwon tgl 13 October 1954 (tgl 15 Sapar 1886).

* Lahire Abd. Chalik, dino malem Minggu Legi djam 3 tgl 30 Djuni 1957. Djawa tgl 2 Besar 1888. Pupak pusere dino Sloso Kliwon.

* Lahire Alijah dino Djum’ah Pon sore djam 18.00 (djam 6) tgl 25 September 1959 atau tgl 22 Maulud 1891. Pupak pusere dino Minggu Legi.

* Lahire Nurul Asifah hari Kamis Kliwon tgl 18 Djuli 1963. Djawa tgl 26 Sapar 1895. Pupak puser hari Rebo Legi.

* Tgl 3 Desember 1957 (DARODJAH).

* Hari wafat anak tercinta. Senen Paing jam 4.45 pagi tangal 13 Mei 1974 atau tgl 17 Bagda Mulut 1394. Nama: Syaiful Anam dalam usia 14 bulan. Pemakaman hari Senen tgl 13/5/74 jam 10.00 pagi di Pekuburan Tambak.

***
Dari perjalanan ke Surabaya, 15 Agustus 2015

Tapak Pendekar Kunthaw di Parakan

Omah Tjandie Gotong Rojong didirikan pada 19 Januari 1919, Foto Silvia Galikano (6)

Omah Tjandie Gotong Rojong didirikan pada 19 Januari 1919. (Foto: Silvia Galikano)

Rumah ini identik dengan nama pendekar kunthaw kenamaan awal abad ke-20, Louw Tjeng Tie. Jejaknya tersebar di sini, sampai sekarang, walau warisan kunthaw-nya tak kuasa melawan zaman, terkikis sedikit demi sedikit.

Oleh Silvia Galikano

Nama resminya tertulis di atas gerbang, “Omah Tjandie ‘Gotong Rojong’”, berdiri di Jalan Demangan 16 Parakan, Kabupaten Temanggung, menghadap selatan ke arah gunung Sumbing.

Baca juga Rumah Dua Langgam di Lereng Sindoro-Sumbing

Di dua daun pintu utama terdapat karakter Mandarin yang artinya Bulu Burung Phoenix (mewakili sifat feminin) dan Telapak Kaki Qilin (mewakili sifat maskulin). Dua karakter itu adalah lambang harmoni antara keperkasaan dan keindahan.

pintu

Pintu utama Omah Tjandi, yang menghadap luar (kiri) dan menghadap dalam. (Foto: Silvia Galikano)

Rumah beratap pelana dengan dua kolom di teras depan ini didirikan Hoo Tiang Bie (1870-1922) pada 19 Januari 1919 di lahan seluas 2000 meter persegi. Pada 1990-an, keluarga Go membelinya setelah keluarga Hoo pindah ke Jakarta dan mengosongkan rumah di Parakan. Itu sebabnya, foto-foto lama keluarga Hoo dan keluarga Go dipasang di dua dinding terpisah.

Di halaman, masih berdiri gelang-gelang besi setinggi 2,5 meter untuk melatih otot tangan dan perut. Foto Louw Tjeng Tie bertopi baret hitam duduk memegang tongkat dipasang di dinding ruang dalam. Juga foto Tan Tik Sioe Sian alias Rama Moortie van Java (1884-1929), sang pertapa di gunung Wilis, Jawa Timur yang pernah singgah ke rumah ini dalam perjalanan ke Dieng karena mendengar ada jago silat tersohor di Parakan. Rama Moerti memberi Tjeng Tie kenang-kenangan tongkat kayu cendana yang sekarang dipajang di lemari kaca.

 

Dalam dua rak, dijajarkan senjata peninggalan Tjeng Tie yang digunakan untuk berlatih, yakni tombak, trisula, dan toya; serta tongkat rotan yang dulu selalu dibawa Tjeng Tie. Juga ada golok bernama “13 Pengawal” yang memiliki 13 lubang—uniknya tak boleh dihitung, menyimbolkan 13 pengawal yang melarikan diri dari Dinasti Song  (960 – 1279) di Tiongkok. Lubang terbesarnya melambangkan kepala pengawal.

Baca juga Ashadi, Artisan Pisau dari Parakan

Kakus tempat Louw Tjeng Tie bermeditasi

Kakus tempat Louw Tjeng Tie bermeditasi. (Foto: Silvia Galikano)

“Senjata ini aslinya memiliki cincin-cincin di tiap lubang, sehingga tiap kali digerakkan akan menimbulkan bunyi gemerincing. Sekarang, cincin-cincin itu sudah hilang semua,” ujar Eko Wardojo (Go Ik Hoa), 50 tahun, saat dijumpai di kediamannya di Parakan, awal Maret 2017. Tiap bulan Suro, Eko memandikan senjata-senjata yang berunsur Kejawen, seperti keris, tombak dari Keraton Yogyakarta, dan tongkat peninggalan Rama Moerti.

Kakus tempat Djing Tie meditasi juga masih ada, hanya saja sekarang dilapis keramik dan diberi penerangan cukup. Selain untuk buang air, di kakus ini juga Tjeng Tie melakukan meditasi. Bukan kakus leher angsa, melainkan sekadar lubang yang di bawahnya langsung ke selokan yang airnya mengalir deras karena posisi rumah di kemiringan.

Sang Garuda Mas

Louw Tjeng Tie/ Louw Djing Tie (1855-1921) adalah pendekar kunthaw dengan kemampuan bela diri yang tinggi, namun rendah hati. Dia lahir di Kampung Khee Thao Kee dekat Kota Hayteng/Haiting, Hokkian, Tiongkok, sekitar 1855 sebagai anak ke-2 dari tiga bersaudara. Karena sejak kecil anak yatim piatu ini suka berkelahi dan hidup mereka susah, Tjeng Lian sang kakak perempuan, mengirimnya ke kuil Shaolin.

Pada tahun pertama di biara Shaolin, tugas Tjeng Tie hanya menggotong dua ember air dari gunung dengan tujuan memperkuat otot-ototnya. Setelah 6-7 tahun berguru di Shaolin, dia pulang dengan mengantongi keahlian silat, tenaga dalam, dan ilmu pengobatan.

 

Tjeng Tie melanjutkan berguru ke pendeta tua yang juga lulusan Shaolin, Biauw Tjien, cara menggunakan barang di sekitar sebagai senjata rahasia. Contohnya, melemparkan uang logam ke kening lawan, meniup jarum dan kacang hijau hingga menancap di sasaran, serta tipu muslihat dengan selendang ikat pinggang yang jika dibanting, akan muncul hewan berbisa dari tanah.

Kepada guru ketiga, Kang Too Soe, Tjeng Tie belajar ilmu menyumpit, totok jalan darah, mengalirkan chi (tenaga murni) ke seluruh tubuh, serta ilmu pengobatan yang berhubungan dengan tulang.

Setelah 15 tahun keluar-masuk padepokan, Tjeng Tie muda mencari penghidupan di Hok Ciu, ibukota Hokkian. Saat itu, pemerintah setempat mengadakan seleksi guru kunthaw untuk dijadikan pelatih tentara dengan syarat mampu mengalahkan jawara mereka.

Adik seperguruan Tjeng Tie, Lie Wan, mendapat giliran menantang seorang guru kunthaw dari Shantung yang sudah mengalahkan lima orang lawan. Lie Wan terdesak oleh serangan berbahaya. Demi melindungi adik seperguruan, Tjeng Tie segera masuk arena dan menendang kemaluan si guru kunthaw hingga tewas.

 

Tjeng Ti, Liem Wan, serta Tjeng Lian kakak Tjeng Ti melarikan diri ke selatan. Si kakak berpisah jalan menuju Thailand, sedangkan Tjeng Ti dan Liem Wan ke Singapura, tinggal di sebuah toko obat sambil mengajar kunthaw. Liem Wan memutuskan menetap di negeri ini menjadi tabib, sedangkan Tjeng Tie meneruskan pelarian ke Batavia, dan jadi pedagang keliling di Toko Tiga, Glodok.

Tjeng Tie terus mencari penghidupan yang lebih baik dengan pindah ke Semarang, Kendal, Ambarawa, Wonosobo, baru kemudian ke Parakan. Dia diberi tempat tinggal oleh pedagang tembakau bernama Hoo Tiang Bie di Jalan Demangan 16 Parakan, menempati rumah kecil di sudut halaman.

Di halaman rumah ini Tjeng Tie membuka perguruan kunthaw Garuda Mas dan segera menarik belasan orang untuk jadi murid. Salah satunya adalah Hoo Tik Tjaij dengan nama panggilan Suthur, putra Hoo Tiang Bie. Hoo Tik Tjaij jadi murid kesayangan dan diangkat anak oleh Tjeng Tie, diberi nama Hoo Liep Poen.

Memikul karma

Louw Tjeng Tie memiliki tiga sumpah, yakni berumur pendek, hidup miskin tapi tetap bisa makan, dan tidak berkeluarga. Namun di masa tua, Tjeng Tie terpaksa melanggar sumpah untuk tidak menikah. Dia menikahi seorang janda dari Wonosobo.

Louw Tjeng Tie dan murid-muridnya, Repro Silvia Galikano (2)

Louw Tjeng Tie dan murid-muridnya. (Dokpri Eko Wardojo)

“Murid-muridnya yang mendesak kong Tjeng Tie menikah agar ada yang ‘ngurus,” ujar Eko. Setelah sang istri meninggal, Tjeng Tie menikah lagi namun kemudian istri kedua ini berselingkuh. Istri ketiga pun sakit jiwa. Usahanya, yakni membuat obat-obatan Cina bermerk  Garuda, payah di pasaran. Dia pun lamur (rabun) setelah jadi pemadat.

Tjeng Tie menganggap kesialan demi kesialan tersebut adalah hukuman Tuhan atas kesalahannya di arena pertarungan di Hok Ciu dahulu dan dia tak henti menyesali perbuatan yang dianggapnya tak ksatria.

Suthur merawat Tjeng Tie di akhir masa hidupnya hingga wafat di Parakan pada 1921 dalam usia 66 tahun dan tak berketurunan. Konon, ilmu yang mampu menyembunyikan kemaluannya saat bertarung, membuat Tjeng Tie mandul. Dia dikubur bersama tongkat dan selendang ikat pinggang kesayangannya, di kaki gunung Manden, di pinggir Parakan.

Sewaktu makam Tjeng Tie dipindahkan dari kaki ke puncak bukit pada 1979-1980, konon, kerangka dan tongkatnya masih utuh. Banyak kalajengking besar dan merah keluar dari kuburan yang diyakini merupakan pertanda ilmu ikat pinggangnya sudah mulai punah.

Sepeninggal sang guru, Garuda Mas bubar. Suthur mengajarkan ilmu yang didapat dari Tjeng Tie ke dua anaknya, Hoo Kiong Nio dan Hoo Han Bien. Eko yang merupakan putra dari pasangan Go Kiem Tong (1937-2005) dan Tjan Khing Ay Ribkah (1939-2015) adalah cicit Suthur. Anak perempuan Suthur, Hoo Kiong Nio menikah dengan Go Ping Koei, yang kelak melahirkan Go Kiem Tong, ayah Eko.

silsilah2

Sepenuturan Eko, dahulu senjata untuk berlatih kunthaw jauh lebih banyak dari yang sekarang dipajang di Omah Tjandie. Penyebab pertama berkurangnya senjata adalah tiap kali selesai berlatih, murid-murid Tjeng Tie dan Suthur meminjam senjata untuk dibawa pulang dan tidak dikembalikan.

Penyebab kedua, pada zaman Jepang, Suthur mengubur senjata-senjata di halaman karena Jepang melarang penduduk menyimpan senjata tajam. Seorang karyawan tetangga yang sedang membetulkan genting melihat Suthur menggali tanah dan membenamkan senjata. Dia melaporkan peristiwa itu ke pejabat Jepang yang membuat Suthur diinterogasi dan senjata-senjatanya dirampas.

Omah Tjandie

Di halaman belakang yang tadinya digunakan untuk produksi Jamu Garuda, pada 1930 dibangun rumah menghadap Jalan Gambiran. Di rumah ini, ibunda Eko memproduksi bolu kering cap Tomat yang masih diproduksi sampai sekarang walau dua tahun lalu sang ibu berpulang.

Omah Tjandie Gotong Rojong sebelum renovasi, Repro Silvia Galikano (2)

Omah Tjandie Gotong Rojong sebelum renovasi. (Dokpri Eko Wardojo)

 

Pada 1980, rumah leluhur direnovasi, sekadar memperbaiki eternit serta mengecat dinding, pintu, dan jendela. Baru pada 2013 keluarga Go membuat renovasi besar-besaran tanpa mengubah bentuk rumah. Lantai yang asalnya semen, dilapis keramik; kamar-kamar ditambahkan jendela dengan bukaan ke samping; serta tripleks yang sebelumnya jadi dinding membentuk kamar depan, dicopot, sehingga lapang.

Setelah renovasi rampung, 12 Juni 2015, Eko memberinya nama Omah Tjandie “Gotong Rojong”. Omah Tjandie berarti rumah utama tempat berkumpul keluarga besar, sedangkan Gotong Rojong diambil dari penggalan nama dua bersaudara yang membeli rumah ini, yakni Go Kiem Tong dan Go Kiem Jong.

Seluruh pintu rumah kini sengaja dibuka 24 jam dan lampu menyala kala malam agar tak seram dan lembap, mengingat rumah pernah bertahun-tahun kosong. Tiap Sabtu-Minggu, gerbang pun dibuka 24 jam.

 

Tempat tinggal Louw Tjeng Tie di sudut depan halaman masih ada, hanya saja kini masih dikontrak orang lain sebagai rumah tinggal selama 10 tahun sampai Agustus 2019.

Ilmu bela diri Louw Tjeng Tie masih diteruskan Eko dan dua sepupunya. Parem dan minyak gosok bermerk Garuda dengan foto Louw Tjeng Tie sudah berhenti diproduksi pada 2015. Pasalnya, belakangan, semakin banyak bahan yang sudah diganti, tak seasli resep Tjeng Tie, akibat kesulitan mendapatkan bahan selain banyak bahan yang belakangan jadi punah dan terlarang digunakan, misalnya tulang macan, yang terpaksa diganti minyak cengkih.

Sebagai kenang-kenangan bahwa pernah ada obat-obatan merk Garuda, di lemari kaca, dipajang minyak gosok, pastilles, dan parem produksi terakhir tahun 2015. Di sana disimpan pula alat-alat membuat jamu serta botol-botol untuk menyimpan bahan jamu. Eko juga masih menyimpan buku resep asli tulisan Suthur dari ucapan Tjeng Tie.

Untitled

Di makam Louw Tjeng Tie di Gunung Manden, pinggir Parakan.

***

Dimuat di majalah SARASVATI edisi Mei 2017

Cover_Edisi_42 kecil