Mengiring Cetak Saring Sunaryo

Cili I, 30x45,5, 1975

Cili I, 30×45,5, 1975. (Foto: Silvia Galikano)

 

Dinding-dinding kosong pun diisi karya grafis dengan pertimbangan teknik ini paling mudah dipelajari, termasuk oleh punggawa Decenta yang beragam-ragam latar belakang.

Oleh Silvia Galikano

Sunaryo tak pernah ketat membatasi kegiatan seni sepanjang 45 tahun perjalanan kesenimanannya. Rentang karyanya dari seni lukis, cetak grafis, patung, monumen, elemen estetis interior, panggung teater, poster, tapestri, hingga instalasi.

Pun dia tak membatasi diri dengan hanya menggunakan satu material tertentu sebagai medium karya, sebab setiap material memiliki karakter serta kekuatan yang spesifik dalam wujud bentuk, tekstur, warna, dan dimensi. Kepiawaian Sunaryo mengolah seluruh elemen dasar secara proporsional buah dari paduan pengalaman masa kecil, pendidikan yang ia tempuh, serta perjalanan yang ia lalui bersama Kelompok Decenta di Bandung.

IMG_20170531_115253

Pameran “Titik Awal: Cetak Saring Sunaryo 1973 – 1983” di Ruang Sayap Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 16 Mei – 3 Juli 2017. (Foto: Silvia Galikano)

 

Keikutsertaan karya cetak saring Sunaryo dalam beberapa pameran seni grafis di Eropa, Asia, dan Amerika sejak 1970 membuatnya dikenal di mancanegara sebagai pegrafis. Sedangkan di dalam negeri, Sunaryo justru dikenal sebagai pelukis.

Karya-karya awal cetak saring Sunaryo ini yang dipamerkan di Ruang Sayap Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 16 Mei – 3 Juli 2017, dalam tajuk “Titik Awal: Cetak Saring Sunaryo 1973 – 1983”. Selain mengenang kembali apa saja yang sudah Sunaryo kerjakan sampai hari ini, melalui pameran yang dikurasi Chabib Duta Hapsoro, pengunjung diajak mereka-reka ke arah mana karya Sunaryo berikutnya.

Pada 1973, A.D. Pirous, Gregorius Sidharta, Adriaan Palar yang sama-sama berlatar belakang Departemen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) membentuk Decenta (Design Center Association). Pirous adalah pelukis dan pengajar di Studio Lukis dan Desain Grafis, Sidharta pematung dan pengajar di Studio Patung, sedangkan Adriaan lulusan Studio Desain Interior dan pimpinan Propelat, perusahaan konstruksi swasta yang berlokasi Bandung.

IMG_20170531_115737

Citra Irian VII, 37×45, 1976. (Foto: Silvia Galikano)

Saat itu tengah hangatnya isu mempertanyakan kembali kebudayaan nasional. Pirous baru kembali dari Amerika. Kerinduan terhadap kebudayaan nasionalnya, terutama budaya tradisi Aceh, tersentak sewaktu dia melihat pameran di The Metropolitan Museum of Art di New York. Semangat itu dia bawa ke sini, lalu mengajak teman-teman yang sekiranya satu napas. Karenanya, tekad sekelompok orang ini adalah menggali kebudayaan Indonesia, sebuah kesadaran akan bumi yang mereka pijak.

Ketiga orang tersebut kemudian mengajak T. Sutanto yang pengajar di Studio Desain Grafis, Sunaryo yang pengajar di Studio Patung, dan Priyanto Sunarto yang lulusan Studio Seni Grafis dan asisten dosen.

“Kala itu, kurikulum kampus masih sangat ketat, yang dituduhkan orang ke-Barat-baratan. Padahal ke-Barat-baratan yang universal bukan merupakan sesuatu yang kurang selama tahu betul di situ bisa menggali apa saja,” ujar Sunaryo dalam penggalan video yang diputar di ruang pamer.

Maka personil Decenta melakukan penggalian dengan caranya masing-masing. Pirous lebih ke Aceh, Sutanto ke cerita rakyat di Jawa, Priyanto tentang peristiwa di sekitarnya, dan Sunaryo cenderung ke garis-garis primitif dari Papua (Irian), Batak, dan Mentawai.

Citra Irian XIX, 74x55, 1982 (1)

Citra Irian XIX, 74×55, 1982. (Foto: Silvia Galikano)

Decenta dapat bertahan hidup pada masa itu, periode ke-2 era Suharto, tak lepas dari pembangunan yang  sedang menjadi-jadi dan begitu banyak ruang kosong yang perlu diisi dengan karya seni. Decenta akhirnya membuat studio untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Dinding-dinding kosong pun diisi karya grafis menggunakan teknik cetak saring (sablon) dengan pertimbangan teknik ini paling mudah dipelajari, termasuk oleh punggawa Decenta yang beragam-ragam latar belakang. Sewaktu cetak saring selesai diproduksi, tur pun dibuat ke Jakarta (TIM), Bandung (Gelanggang Remaja), Yogyakarta (Galeri Seni Sono), dan Surabaya memamerkan karya yang sama, yakni 99 karyaPirous, Sunaryo, Sidharta, Sutanto,Priyanto, dan belakangan dilibatkan pula seorang asisten dosen yang masih muda, Diddo Kusdinar.

Tiap kota memberi respons berbeda. Di Jakarta, karya mereka 60 persen terjual, terutama oleh pegusaha muda, karena harganya terjangkau. Di Bandung 15 persen, di Yogya 5 persen, dan di Surabaya nyaris tidak ada.

“Itu tahun 1975, sekarang mungkin terbalik. Tapi ini jadi semacam parameter, di antara kami bersaing dan menemukan diri masing-masing.”

Citra Irian XVII, 43x82, 1983

Citra Irian XVII, 43×82, 1983. (Foto: Silvia Galikano)

 

Dari konflik

Penemuan Sunaryo terhadap garis-garis primitif, begitu dia beristilah, berawal dari “konflik”. Pria 74 tahun ini walau berasal dari Purwokerto yang relatif dekat dengan Borobudur dan sejak kecil sudah melihat Borobudur, merasa tidak terkesan secara nurani, hanya terkesan secara visual terhadap candi tersebut.

Ditambah lagi, saat bekerja dengan media dua dimensi, dia menemukan garis, kolase, sehingga, dengan dikendalikan intuisi, lama-lama bersinggungan dengan garis-garis khas Papua, Maluku, Batak, Mentawai, bahkan Aborigin yang sampai sekarang dia sukai. Karena Aborigin secara geografis berada di luar Indonesia, Sunaryo mengakali judulnya agar menjadi Indonesia, jadilah Citra Irian. “Padahal di pikiran saya tidak ada batasan itu. Seniman tidak bisa dibatasi teritorial, apalagi isu politik,” ujarnya.

Seascape, 63x50,5, 1983

Seascape, 63×50,5, 1983. (Foto: Silvia Galikano)

Pada 1970-an dan 1980-an dia membuat seri Citra Irian setidaknya 19 karya dan sebagian dipamerkan di “Titik Awal”. Warna tanah yang mendominasi dengan ornamen pola berulang, antara lain lingkaran, berwarna hitam-putih khas karya seni primitif.

Teknik cetak saringnya pun tak muluk-muluk, seperlunya saja dan yang sekiranya cocok. Bahkan pada masa awal dia lebih banyak mencontoh. Dari membuat drawing, drawing itu difoto, foto itu menjadi klise foto, baru kemudian dipindahkan ke screen. Seiring waktu, dia meniadakan foto, langsung menggunakan kaca dan bahan yang bisa menempel di kaca, lalu digores (scratch) langsung. Kala lain, kertas dicampur cairan-cairan, baru digores.

“Jadi muncul teknik sendiri. Saya percaya, kalau ditekuni akan kita temui teknik-teknik yang paling cocok dengan diri kita,” kata Sunaryo.

Dengan garis dan warna, akhirnya Sunaryo membuat karya tiga dimensi dalam bentuk batu dan kayu. Segala yang alami dia suka, memperlakukan batu sebagai batu dan kayu sebagai kayu, juga aplikasi warna kapur, warna tanah, dan warna karang.

Semasa bekerja pada periode 1975-1980, Sunaryo juga mendapat sesuatu tentang massa dan garis yang dia terapkan hingga pada karya terakhirnya, Wot Batu yang merespons bentuk batu dengan garis, penjelajahan atas material batu yang masih berlangsung hingga kini dalam bentuk seni instalasi.

“Dengan mempertahankan karakter dan kekuatan dari setiap materi yang ia gunakan, karya-karya Sunaryo mampu menyampaikan pesan tanpa mendikte, puitis, dan tegas dalam penyampaian serta cerdas dan elok dalam penyusunannya,” tulis Chabib dalam pengantar kuratorialnya.

 

 

Garis, bidang, volume, dan warna merupakan elemen dasar pembentuk sebuah komposisi visual sebuah karya seni rupa. Melalui kepekaan Sunaryo, lanjut Chabib, seluruh elemen dasar tersebut seakan mengimbangi, menyatu, dan berkembang menjadi sebuah bentuk baru di karya-karyanya, penggugah batin hingga penyampai pesan yang baik.

Melalui sikap hidupnya yang menjunjung tinggi kesederhanaan, kerendahan hati, serta kepedulian terhadap sekitar, Sunaryo mampu menggubah karya dalam berbagai media yang terkesan megah dan membumi. Respon terhadap persoalan lingkungan, sosial, politik, kebudayaan, kemanusiaan, dan spiritualitas ia hadirkan secara lugas tanpa mengurangi kehalusan bertutur melalui visual. Karenanya Sunaryo dikenal sebagai seniman dengan karya-karya yang menyentuh, merenungi serta memayungi berbagai dimensi kehidupan.

***
Dimuat di majalah SARASVATI edisi Juli 2017

Cover_Edisi_44

Mengindra Sketsa Sang Maestro

Di Pameran HMD hanya repro Pertempuran antara Sultan Agung dan Jan Pieterzoon Coen 1973 OC. 300 x 1.000

“Pertempuran antara Sultan Agung dan Jan Pieterzoon Coen”, 1973, oil on canvas, 300 x 1.000. (Dok. S. Sudjojono Center)

 

Dia tak terlalu setuju apabila gambar-gambarnya didefinisikan sekadar sketsa, yakni rancangan atau bagan sebelum ditingkatkan menjadi drawing dan digubah sebagai lukisan.

 

Oleh Silvia Galikano

Sepanjang hidupnya, maestro pelukis S. Sudjojono membuat banyak sekali sketsa yang bukan sekadar gambar orat-oret, melainkan menyerupai catatan harian, catatan sejarah mengenai segala sesuatu yang dilihat atau dialaminya.

Melalui sketsa-sketsanya kita dapat melihat lebih dalam proses Sudjojono yang selalu detail dalam melakukan observasi dan studi sebelum menciptakan karya. Catatan dan data-data yang sudah dalam rupa sketsa tersebut nantinya dituangkan menjadi lukisan cat minyak di atas kanvas.

Lebih dari 100 sketsa karya Sudjojono dan memorabilia Sudjojono dapat dinikmati publik di Bentara Budaya Jakarta dalam pameran bertajuk “Hidup Mengalun Dendang”, 6-13 Juni 2017. Pembukaannya dibarengi dengan peluncuran dua buku, S. Sudjojono: Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya serta Kisah Mawar Pandanwangi di tempat yang sama.  Buku pertama adalah autobiografi S. Sudjojono, sedangkan buku kedua adalah biografi Rose Pandanwangi, penyanyi seriosa Indonesia, pemenang 12 kali Bintang Radio pada 1950-an dan 1960-an, istri Sudjojono, serta model bagi banyak lukisan Sudjojono.

Baca juga Cinta Sudjojono yang Tak Pernah Hilang

 

 

 

Sudjojono ditabalkan sebagai Bapak Seni Lukis Indonesia Baru pada 1949 oleh Trisno Sumardjo, kritikus dan salah satu murid Sudjojono bersama Zaini dan Nashar. Dia pendiri Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia), yang menurut catatan Sudjojono berdiri pada 1937 (konsisten dia menulis demikian, walau menurut catatan lain, tahun 1938). Selain itu, Sudjojono adalah pemimpin Seniman Indonesia Moeda (SIM, 1946), serta pembina seni lukis dalam seksi kebudayaan Poesat Tenaga Rakyat (Poetera) dan Keimin Bunka Shidoso pada zaman pendudukan Jepang. Dia pula kritikus dan pemikir yang tajam dalam seni lukis Indonesia.

Baca juga Kritik dalam Rumah Kaca “Museum” Seni

Karya-karya besarnya, antara lain, Ada Orkes (1970), Anak-anak Gadisku (1976), Bis Kota (1975), Di Dalam Kelambu Terbuka (1939), Kawan-kawan Revolusi (1947), dan Lagu Setelah 26 Tahun (1985).

 

Piala Kompetisi2 Bintang Radio Rose Pandanwangi

Piala-piala Rose Pandanwangi dari Kompetisi Bintang Radio. (Dok. S. Sudjojono Center)

 

Selain lukisan-lukisan yang termahsyur, Pak Djon membuat ribuan sketsa dengan pensil, cat air, ballpoint, dan tinta cina. Sketsa itu penting bagi seorang pelukis, ibarat catatan harian, atau tak ubahnya studi lukisan yang akan diterapkan di atas kanvas atau media lain, demikian dia pernah ucapkan pada 1970-an.

“Sudjojono beranggapan bahwa melalui sketsa kita dapat melihat apakah seseorang itu pelukis besar yang mampu melukis dengan dasar teknik yang baik atau tidak,” ujar kurator pameran Ipong Purnomo Sidhi saat pembukaan pameran.

Jika ada pelukis yang digelari “besar”, “master”, atau “kelas berat”, Ipong mengutip Sudjojono, “Coba lihat buku sketsa dia. Bukti si master atau pelukis gede itu terlihat dari garis-garis sketsa hitam putih tadi. Menurut pengalaman saya, kalau bisa saya lihat sketsa-sketsa mereka, kasihan, banyak mereka bergelimpangan di bawah tanah.”

 

 

 

 

Hal ini karena sketsa menjadi karya jujur—Sudjojono pakai istilah bares, bahasa Jawa yang berarti jujur, terus terang—tidak dibuat-buat, dan menjadi bagian dari pencariannya meski belum juga menemukan apa yang dia cari dengan melukis (Kompas, 11 Mei 1976). Jika warna dan tema dapat “menipu”, maka sketsa tak bisa bohong.

Itu pula sebabnya dia tak terlalu setuju apabila gambar-gambarnya didefinisikan sekadar sketsa, yakni rancangan atau bagan sebelum ditingkatkan menjadi drawing dan digubah sebagai lukisan.

Baca juga Tribute untuk Sang Maestro

“Kalau banyak orang mengumumkan gambar-gambar saya sebagai sketsa (dalam pengertian umum tersebut), maka saya akan menyimpannya sebagai catatan harian. Aantekening perasaan saya, gambaran pikiran saya, visualisasi peristiwa saya. Sketsa adalah potongan-potongan autobiografi,” kata Sudjojono seperti dikutip kritikus seni Agus Dermawan T.

 

Selain itu, Sudjojono punya kebiasaan membuat sketsa yang dilengkapi catatan atau inskripsi tentang makna gambar, hal yang tak bisa dijelaskan dalam bentuk rupa, dan punya peran sama pentingnya dengan sketsa. Ambil contoh sketsa Zuster Retno (1986) dengan inskripsi lumayan panjang. Di samping gambar perawat membelakangi pelukis, terbaca tulisan tangan berikut:

Een Zuster Retno antar saya ke physio-terapie 17 Jan 1986. Kalau hari mulai mekar, seakan-akan gerak daun bunga mulai berkembang, dara-dara putih “terbang” di lorong-lorong berbatasan puluhan tiang putih, ke semua jurusan tertentu, tidak tanpa tujuan. Tiap dara cantik putih membawa pesan dalam hati: “Aku cinta padamu. Lekaslah sembuh!” Kalau banyak pelukis, atau seniman butuh nama. Dara-dara putih ini tak butuh catatan. Hari datang mereka kerja. Malam tiba, mereka jaga. Teratai-teratai berkembang di lumpur busuk. Jak 1986. S. Sudjojono. Rumah Sakit “Persahabatan”.

Sketsa Sultan Agung

Salah satu bukti betapa sketsa merupakan hal yang sangat serius bagi Sudjojono adalah untuk satu lukisan besar Pertempuran antara Sultan Agung dan Jan Pieterszoon Coen (300×1000 cm, 1973) yang kini disimpan di Museum Sejarah Jakarta, dia membuat ratusan sketsa terlebih dahulu, potongan demi potongan adegan. Sketsa-sketsa itu antara lain Beginilah Cara Duduk Sultan Agung, Gaya-gaya Perkelahian Pasukan Jawa Melawan Belanda, Orang Jawa sedang Ngintip, Kain Sebagai Pengikat Rambut dan Kepala, Pertemuan Kyai Rangga dan J.P. Coen, Mataram versus Pati, serta Sketsa-sketsa Alat Perang yang Digunakan yang seluruhnya bertahun 1973 dan ditampilkan di pameran.

 

 

 

Agus Dermawan T. menceritakan pernyataan Sudjojono pada 1981, bahwa ratusan sketsa untuk lukisan itu dibikin berdasarkan persepsi prbadi terhadap sejarah yang Sudjojono dengar dan baca, dengan mempersepsi sejarah Sultan Agung dan VOC secomot demi secomot. Pandangan Sudjojono terhadap Sultan Agung berangkat dari cerita gurunya pada 1930-an dan kisah kebrutalan tentara Belanda didapatnya dari cerita Bung Karno. Sedangkan inspirasinya dalam menggambarkan perang adalah dari lukisan sosial dan politik Ilya Repin dan Vasily Surikov dalam majalah seni The International terbitan 1930-an awal.

“Dengan kata lain,” ujar Agus, “Setiap adegan yang ia sampaikan dalam sketsa selalu ada interupsi dari pengalamannya. Pengalaman memahami sejarah yang tumbuh dari sepotong-sepotong hidupnya.

Misalnya begini, Sudjojono melakukan penelitian historis di berbagai kitab dan museum sampai ke Belanda, melihat ratusan arsip—literer maupun visual—yang terdokumentasi dalam foto, ilustrasi, sampai litografi. Akan tetapi tetap saja persepsi yang kadung hadir di dalam benaknya tak bisa luruh, tak kunjung hilang dari ingatan.

 

Pun pencerapan pikiran pribadi dan suara hatinya berperan dalam membuat gambar fragmen-fragmen sejarah. “Kesombongan Coen yang ada dalam gambar saya, bisa disamakan dengan keangkuhan mandor Belanda yang saya lihat di perkebunan Deli, Sumatera,” kata Sudjojono seperti dikutip Agus.

Dengan begitu, gambar kejadian yang lahir dari tangan Sudjojono bukan sekadar rekaman peristiwa, bukan sekadar mengabadikan fakta sejarah—yang kadang direkayasa oleh si penyusun sejarah. Di dalamnya banyak tersimpan persepsi pribadi, yang dipercaya menyimpan sisi lain kebenaran sejarah. Barangkali Sudjojono berpikir, apabila seorang penulis boleh menyusun sejarah yang sejalan dengan visinya, mengapa pelukis tak boleh melukiskan sejarah berdasar persepsi dan versinya.

MASTER LANDSCAPE

Bersama Sharifah Faizah Syed Mohammed

***
Dimuat di majalah SARASVATI edisi Juli 2017

Cover_Edisi_44

Isola dan Misteri Raja Media

Bumi Siliwangi menghadap selatan, Foto Silvia Galikano (5)

Lahannya berkontur, yakni bagian selatan lebih rendah dari utara, membuat jumlah lantai berbeda ketika dilihat dari utara dan selatan. Dari utara, Bumi Siliwangi memiliki empat lantai, sedangkan dari selatan ada lima lantai.

 

Oleh Silvia Galikano

Berretty yang tajir melintir punya cara  “elegan”untuk memilih mobil yang akan digunakan ketika hendak pergi. Ada dua lampu yang dipasang di kanan dan kiri tiang penyangga payon di luar pintu utama. Lampu itu mengarah ke garasi luas berjarak beberapa puluh meter di seberang halaman depan ke arah utara.

Jika Berretty menyalakan lampu kanan artinya dia meminta sopir menyiapkan mobil Mercedes. Jika lampu kiri yang menyala, berarti hari itu dia ingin naik mobil Aston Martin.

 

 

 

Berretty yang bernama lengkap Dominique Willem Berretty (Yogyakarta 20 November 1890 – Suriah 20 Desember 1934) adalah pendiri dan pemilik awal Villa Isola, bangunan yang sekarang bernama Bumi Siliwangi dan berfungsi sebagai Gedung Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Inilah salah satu landmark Bandung yang berdiri di pinggir Bandung Utara menuju Lembang.

Bumi Siliwangi

Sebuah kesempatan berharga ketika Historical Trips, komunitas pencinta sejarah di Bandung, diizinkan melihat bagian dalam Bumi Siliwangi pada akhir April 2017. Rektor UPI Prof. Furqon Ph.D., saat itu baru saja berpulang, sehingga suasana gedung rektorat lengang masih berkabung dan tak ada kegiatan yang berarti.

 

 

 

 

Bumi Siliwangi menghadap utara, ke arah Museum Pendidikan Indonesia yang juga di kompleks UPI. Taman, kolam, dan pohon beringin besar di halaman depan. Lahannya berkontur, yakni bagian selatan lebih rendah dari utara, membuat jumlah lantai berbeda ketika dilihat dari utara dan selatan. Dari utara, Bumi Siliwangi memiliki empat lantai, sedangkan dari selatan ada lima lantai.

Lantai 2 (atau lantai 1 jika dilihat dari utara) adalah ruang tamu yang berjumlah dua ruang. Satu di antaranya ruang tamu VIP. Menurut petugas keamanan yang bertugas di Bumi Siliwangi, Sutisna, baru pada 1999, saat jadi UPI, ruang ini disekat-sekat. Sedangkan saat masih bernama IKIP Bandung, satu lantai ini luas tanpa sekat. “Dulu dipakai untuk mahasiswa sidang,” ujar Sutisna.

Lantai 3 dan 4 adalah ruang kerja Rektor dan Wakil Rektor UPI, lantai 5 adalah ruang rapat berkapasitas 30 orang, sedangkan lantai 1 yang berada di belakang adalah ruang administrasi. Galibnya bagian belakang bangunan, tak ada pintu lebar di lantai 1, hanya ada empat pintu kecil, namun hanya satu yang difungsikan.

Kolam di halaman utara Bumi Siliwangi, Asalnya kolam ini memanjang ke halaman selatan dan dihuni angsa hitam, Foto Silvia Galikano

Kolam di halaman utara Bumi Siliwangi. Asalnya kolam ini memanjang ke halaman selatan dan dihuni angsa hitam. (Foto Silvia Galikano)

 

Villa Isola

Satu pintu kecil itu tak lepas dari peruntukan lantai 1 saat masih bernama Villa Isola, yakni sebagai service area, seperti kamar mandi, kamar cuci, gudang, dan dapur. Di sini pula dahulu terdapat ruang pendingin wine, kamar tidur sekretaris, ruang olahraga, dan tangga menuju bawah tanah. Ini berbeda dengan tren masa itu yang memisahkan service area dari bangunan utama.

 

 

 

Lantai 2  adalah ruang lobi, ruang tamu, ruang makan, kantor, perpustakaan, dan toilet. Kamar-kamar tidur ada di lantai 3 dengan koridor membentang barat dan timur. Kamar tidur di kedua ujung koridor dilengkapi teras terbuka berbentuk seperempat lingkaran. Sedangkan kamar tidur utama menghadap selatan dilengkapi balkon setengah lingkaran yang dilindungi tritisan kaca dari Paris, Prancis dan disangga batang-batang baja.

Lantai 4 adalah kamar tidur tamu, ruang duduk, ruang pesta, kamar proyektor film, dan bar. Di atas lantai 4 adalah rooftop, teras terbuka dengan pemandangan gunung Tangkubanparahu di utara, dan Kota Bandung di selatan.

Bergaya art deco

Sebagai pemilik ANETA (sekarang Antara), kantor berita pada zaman Belanda, Berretty punya kekayaan yang tidak main-main. Untuk mendirikan Villa Isola, pada 1932, tak kurang 500 ribu hingga 600 ribu gulden (setara Rp250-350 miliar sekarang) dia keluarkan, padahal saat itu sedang resesi dunia. Bangunan seluas 12 ribu meter persegi berikut taman 6,3 hektare dia bangun di lahan 7,5 hektare di tengah persawahan dan tanah kosong yang luas.

 

 

 

 

 

Arsitek ternama pada masa itu, C.P. Wolff Schoemaker, yang menggarap dan merupakan vila terakhir yang dia rancang. Pelaksana pembangunan adalah Biro Arsitek dan Kontraktor Algemeen Ingenieur Architectenbureau atau Algemeen Ingenieur Architecten (AIA).

“Schoemaker sepertinya terpaksa menerima pesanan Berretty karena dia tidak pernah fixed maunya apa, menolak juga tidak enak karena sesama sosialita Bandung. Tiap hari Berretty datang ke rumah Schoemaker. Hari ini minta ada kolam renang di atap rumah, besok minta kolam renangnya di basement,” kata Koordinator Historical Trips yang juga Ketua Tim Riset Sejarah Lembang Malia Nur Alifa.

Akhirnya diputuskan gaya arsitektur Villa Isola adalah streamline modern dengan elemen art deco. Atapnya datar dan fasad berbentuk lengkungan, yang saat itu belum begitu dikenal. Gaya art deco dengan lengkungan streamline baru marak pada akhir 1930-an.

ruang kerja

Ruang kerja.

 

Dijelaskan dalam buku Dari Villa Isola ke Bumi Siliwangi (2015) yang ditulis Sudarsono Katam dan Lulus Abdi, Villa Isola berarsitektur modern yang memasukkan konsep tradisional sumbu kosmik utara-selatan dalam falsafah arsitektur Jawa. Diperkuat juga dengan keberadaan taman memanjang di depan bangunan yang mengarah ke Gunung Tangkubanparahu. Fasadnya kaya dengan garis-garis lengkung horizontal yang merupakan ciri arsitektur Timur seperti yang banyak terlihat di candi.

Tak kurang 700 pekerja dikerahkan, sehingga pekerjaan rampung dalam waktu lima bulan saja (Oktober 1932 – Maret 1933).

Wartawan berbintang terang

Berretty lahir dari pasangan Dominique Auguste Leonardus Berretty yang berdarah Italia- Prancis dan Marie Salem yang berdarah Jawa. Selulus dari HBS di Surabaya dan MULO di Yogyakarta (1908), Berretty bekerja di Hoofdbureau Post, Telegraaf en Telefoondienst (Kantor Pos, Telepon, Telegraf – PTT) Batavia. Walau tak lama bekerja di sini, dia mendapat pengetahuan tentang jaringan dan posisi kabel telegraf bawah laut, hal yang menentukan nasibnya di masa depan.

 

 

 

Pada 1910, Berretty bekerja sebagai korektor, kemudian wartawan di koran Bataviaasch Nieuwsblad. Lalu pindah ke koran Java Bode (1915) sebagai redaktur. Bermodal uang pinjaman, Berretty mendirikan perusahaan jasa berita dan telegraf Algemeen Nieuws en Telegraaf Agentschap (ANETA – Kantor Berita dan Telegraf Umum) di Batavia pada 1 April 1917.

Sejak hari pertama ANETA beroperasi, Berretty selalu berupaya mendapatkan berita lebih cepat daripada pesaingnya, Nederlandsch Indisch Persagentschap (NIPA) dan Reuters.  Salah satu caranya, telegraf dari luar negeri didapatkan dengan cara memotong jalan. Jika telegraf lain masuk ke Hindia Belanda melalui Singapura yang antreannya panjang, telegraf untuk ANETA masuk lewat jalur Afrika Selatan – Perth – Hindia Belanda. Alhasil, ANETA sudah dapat bocoran penggantian Gubernur Jenderal Hindia Belanda, dua hari sebelum surat resminya tiba.

Pada 1919, Berretty mengambil alih NIPA dan Reuters Batavia. Monopoli pengadaan berita oleh ANETA pun dimulai. Berretty mengadakan kontrak pengadaan berita bagi koran-koran Hindia Belanda. Kesepakatan ini menjadikannya lebih kaya lagi. ANETA mendirikan kantor-kantor cabang di beberapa kota utama di Hindia Belanda.

 

 

 

 

 

Masa cemerlang Berretty berakhir ketika penyidik yang dibentuk Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge, pada 1931 menemukan indikasi adanya korupsi di ANETA. ANETA juga telah menyalahgunakan wewenang, melakukan pelecehan terhadap koran-koran Hindia Belanda, serta memonopoli pengadaan berita.

Berretty terpukul dan merasa kesepian. Dia pergi ke tempat terpencil antara Bandung dan Lembang, membeli seluasan tanah, membangun rumah  untuk mengucilkan diri, dan memberinya nama Isola, kata Italia yang berarti pulau terpencil. Di bagian dalam bangunan, di atas foyer, dia tuliskan M’Isolo E Vivo yang berarti saya mengasingkan diri dan bertahan hidup.

 

 

Berpindah tangan

Berretty berangkat ke Eropa pada 1934 untuk menjual kantor beritanya. Dalam penerbangan pulang dari Amsterdam ke Batavia pada 19 Desember 1934, pesawat Uiver milik KLM yang ditumpanginya jatuh di gurun pasir Suriah, dekat perbatasan Irak, akibat cuaca buruk. Tak ada yang selamat. Jenazah korban dimakamkan di Irak. Berretty tidak meninggalkan harta yang berarti bagi keluarganya kecuali beberapa surat dan dokumen.

Sepanjang 1912 hingga 1934, Berretty enam kali menikah, lima kali bercerai, punya lima anak (empat perempuan, satu laki-laki). Anna, anak perempuannya, bunuh diri dengan cara gantung diri di salah satu pohon besar di halaman Villa Isola.

 

TM-60027758

Berretty (duduk) di tangga selatan.

 

 

Istri terakhir yang tercatat adalah Coquita, mereka tidak memiliki anak. Tidak ada data yang menyebutkan nama istri atau status pernikahannya ketika Berretty meninggal. Selain itu, dia disebut-sebut sempat menghamili dua perempuan yang tidak dinikahinya.

Setelah Berretty wafat, ahli waris menjual Villa Isola kepada Rr. J. van Es, pemilik Hotel Homann, pada 1936, untuk dijadikan Hotel Homann. Rumah-rumah berlanggam senada dengan Villa Isola ditambahkan di sekeliling sebagai bungalow.

Pada zaman Jepang bangunan ini dijadikan, antara lain, markas tentara Jepang dan tempat penyimpanan peralatan perang sitaan dari Belanda. Setelah Jepang menyerah, pada Masa Bersiap (1945—1947), Villa Isola dikuasai laskar pejuang Bandung hingga kemudian sebagai markas Sekutu dan Belanda. Pada masa inilah bangunan Villa Isola mengalami kerusakan parah sebab jadi lokasi pertempuran tentara Belanda dan Sekutu melawan laskar pejuang Bandung dan Tentara Rakyat Indonesia (TRI).

 

Beringin besar di halaman utara Bumi Siliwangi

Beringin di halaman utara Bumi Siliwangi ditanam Nyonya M. Yamin saat peresmian Bumi Siliwangi. (Foto: Silvia Galikano)

 

Pada pertengahan 1954, lahan seluas 7,5 hektare, termasuk Villa Isola di dalamnya, dibeli Pemerintah (Kementerian Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan – PP&K) seharga Rp1,5 juta untuk tempat perkuliahan dan perkantoran Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Bandung. Saat upacara pembukaan PTPG, 20 Oktober 1954, nama Bumi Siliwangi diresmikan pengganti nama Villa Isola oleh Menteri PP&K Mr. M. Yamin menggantikan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo yang berhalangan hadir.

Perbaikan dan pembangunan dimulai. Ruangan-ruangan yang luas disekat-sekat. Pada masa ini, rooftop diberi dinding dan atap sehingga menjadi lantai 5 Bumi Siliwangi, juga teras-teras samping di lantai 3 ditambahi dinding dan atap.

Pada 1961, PTPG dimasukkan ke dalam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unpad dan Institut Pendidikan Guru yang digabung menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). Pada 7 Oktober 1999, IKIP resmi menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

 

 

Setelah Villa Isola berpindah-pindah ke banyak tangan, peninggalan Berretty hanya tersisa satu, yakni grand piano Steinway & Sons yang dipercaya sering berbunyi sendiri pada malam hari. Setelah menjadi UPI, piano tersebut dipindah dari Gedung Rektorat ke Prodi Seni Musik untuk digunakan mahasiswa, dan kini dalam keadaan baik.

Peninggalan lain adalah senjata tajam dan senjata api milik laskar pejuang Bandung pada Masa Bersiap yang kini dipajang di lantai 4 Museum Pendidikan Indonesia. Senjata-senjata yang dikumpulkan dari Villa Isola itu sebelumnya disimpan TNI-AD dan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Pintu bunker di halaman selatan sudah lama ditutup dengan pertimbangan keamanan. Ada anak tangga melingkar menurun menuju pintu bunker yang tersamarkan dengan dinding dari batu alam. Konon, bunker ini tersambung ke bunker di Gedung Sate, Gedung Pakuan, dan De Vries yang ada di Kota Bandung.

IMG_1227

 

***
Dimuat di majalah SARASVATI edisi Juni 2017

Cover_Edisi_43 kecil

Makna Tersirat Sebuah Narasi Baru

IMG_20170413_125920

Pameran tunggal Triyadi Guntur Wiratomo,“Between The Line”, yang diadakan Rachel Gallery di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 11—23 April 2017. (Foto: Silvia Galikano)

 

Sejarah selalu jadi benang merah karyanya. Meski seperti berkisah, karya-karya Guntur tetap tidak memiliki kepastian makna.

Oleh  Silvia Galikano

Karya bagaimana yang terbayangkan dari seorang ilustrator yang menyukai sejarah? Ada selipan sejarah dalam karyanya? Pasti. Tapi bagaimana eksekusinya, ada panjang ceritanya.

Ilustrator yang dimaksud adalah Triyadi Guntur Wiratomo, seorang seniman, peneliti, sekaligus dosen jurusan Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB).

Sebagian besar karya Guntur kental akan nilai sejarah dan ideologi. Dia gemar mencermati narasi kemanusiaan yang diceritakan sejarah melalui gambaran sosok pahlawan, idola, atau tokoh-tokoh. Sejarah, baginya, tak hanya tentang (ilmu) pengetahuan melainkan juga soal pembentukan persepsi nilai, karenanya akan selalu menampung misteri.

IMG_20170413_124922

Triyadi Guntur Wiratomo, “Perjuangan: Kesabaran Adalah Bumi”, 2017. (Foto: Silvia Galikano)

 

Dalam pameran tunggal “Between The Line” yang diadakan Rachel Gallery di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 11—23 April 2017, Guntur, misalnya dalam tiga seri karya Perjuangan, menyandingkan dua kanvas—dua frame “direkatkan”. Kanvas pertama, bermedia akrilik dan grafit (graphite), menggambarkan pahlawan perempuan dalam pose yang kita kenal. Kanvas kedua, kesan yang melekat tentang si tokoh, Guntur ekspresikan lewat benang yang dijahitkan dengan teknik sulam di atas kanvas.

Ambil contoh Perjuangan: Kesabaran Adalah Bumi (2017) yang menyandingkan lukisan sosok Inggit Garnasih dengan kursi. Seutas tali menjuntai di lantai dari tangan Inggit dan berujung di kaki kursi. Apa makna kursi di sini? Kekuasaan? Kekuasaan siapa? Bahwa dulu Inggit pernah mengantarkan Bung Karno ke ujung kemerdekaan RI? Atau ini simbol kekuasaan Inggit memilih bercerai dari Bung Karno karena menolak dimadu? Atau kursi kosong belaka? Segala tafsir boleh saja, toh pengetahuan manusia akan selalu terbuka pada perubahan persepsi mengenai sejarah.

Guntur bermain dengan citra-citra yang tersedia. Dan melalui pemahaman sosial dan politis menghasilkan narasi baru yang berbeda, bahkan seringkali beroposisi dengan narasi-narasi umum yang sudah mapan, yang ditampilkan secara satire.

IMG_20170413_125206

Triyadi Guntur Wiratomo, “Lost in Fiction: Getting Pretty, Dear Kamerad”, 2017. (Foto: Silvia Galikano)

 

Pria kelahiran Kudus tahun 1974 itu bisa-bisanya menjadikan Mao Zedong yang klimis sebagai tukang cukur bagi Karl Marx yang berambut gondrong dan kusut dalam Lost in Fiction: Getting Pretty, Dear Kamerad (2017). Uniknya, kepala Marx adalah lukisan perangko Uni Soviet (CCCP) berwarna merah bergambar kepala Marx yang “ditempelkan” ke gambar hitam putih tubuhnya.

Jika kepala Marx adalah lukisan perangko, kepala Bung Karno dalam seri Postcard from the Past (2010) adalah benar-benar menggunakan perangko 10 sen yang ditempelkan ke tubuh Bung Karno yang digambar dengan medium grafit.

Dari sisi teknik, lukisan-lukisan Guntur cenderung menekankan kekuatan gambar (drawing) meski ada juga teknik melukis dengan cat minyak dan teknik sulaman benang. Penggabungan teknik-teknik tersebut juga adalah cara menunjukkan kontras, serta betapa gambar dengan kekuatan garis-garis memiliki peran penting.

IMG_20170413_125647

Lukisan-lukisan “potret” karyanya tidak digambarkan sebagaimana kebiasaan adanya gambar potret. Sikap tubuh mereka penuh makna. Kurator pameran ini, Rizki A. Zaelani menjelaskan dalam catatan kuratorialnya bahwa ini menunjukkan sikap-sikap tubuh yang tengah “bercerita” dan mencoba mengkomunikasikan sesuatu atau berbagai hal kepada tiap-tiap orang yang memperhatikannya. Sikap-sikap itu bisa saja menggeser persepsi seseorang tentang para tokoh itu keluar dari narasi sejarah yang umum.

Dalam penggalan video yang diputar di ruang audiovisual, Guntur menyebut sejarah selalu jadi benang merah karyanya, dan riset selalu masuk dalam proses berkarya, sama ketatnya dengan studi sejarah.

Metode berkaryanya dianggap lebih dekat dengan kajian (pengalaman) psikologis yang salah satu peran pentingnya adalah imajinasi. Tesisnya pun mempertanyakan narasi besar sejarah melalui eksperimentasi closure (ketertutupan). Closure, diambil dari teori psikologi, adalah sesuatu yang tidak ada hubungannya tapi imaji/pikiran kita mencoba melengkapinya.

Closure-nya dari perangko yang saya coba teruskan badannya. Saya coba lengkapi yang belum lengkap (sehingga) jadi satu konteks ruang dan waktu. Ketika pola closure itu saya pakai, orang melihat ada dialog di karya itu,” ujar Guntur.

IMG_20170413_125805

Triyadi Guntur Wiratomo, “Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-kata”, 2017. (Foto: Silvia Galikano)

Meski seperti berkisah, karya-karya Guntiur tetap tidak memiliki kepastian makna. Dia justru secara aktraktif mengundang respon tiap orang yang menikmatinya agar turut meraih berbagai makna yang mungkin muncul. Menemukan dan menikmati kesimpulan sendiri. Pasalnya bahasa ekspresi seni memang tak biasa karena ia berusaha melampaui pengalaman hidup normal keseharian.

“Bagi saya,” lanjut Rizki, “Guntur sedang mengkomunikasikan sejenis pengertian, kesimpulan, atau cara-cara penerimaan tertentu mengenai persoalan yang tengah berkembang kini yang tak mudah dijelas-jelaskan.”

Karenanya judul “Between The Line” tak hanya bermakna idiomatik sebagai “sesuatu yang tersirat”, untuk melihat apa yang tak terlihat di lukisan-lukisan Guntur. Lebih jauh lagi, ini soal pengalaman menikmati ketertiban, harmoni, dan keterampilan menumpukkan garis-garis yang dilakukannya secara intens, sesuatu yang tersurat dari karya-karyanya.

Gambaran yang Guntur sajikan tak cukup hanya mengundang jawaban bahwa seseorang telah mengenal dan mengetahui persoalannya. Ekspresi yang tersurat dari ti

ap-tiap karya justru terus memancing seseorang untuk mengenal dan merasakan apa yang tersirat.

***
Dimuat di majalah SARASVATI edisi Mei 2017

Cover_Edisi_42 kecil