Satu Simpul Dua Budaya Entang dan Sally

 

pameran-conversation-endless-acts-in-human-history-15-januari-1-februari-2016-di-galeri-nasional-indonesia-jakarta

Pameran “Conversation- Endless Acts in Human History”, 15 Januari – 1 Februari 2016, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. (Foto: Silvia Galikano)

Oleh Silvia Galikano

Entang Wiharso menjelajahi berbagai kemungkinan dalam menggunakan material dan teknik: melukis, menggambar, mencetak, memotong, dan merakit.

Hal tersebut tampak dalam karyanya, No Hero–No Cry (2005), yang menjajarkan tujuh karakter laki-laki dengan anggota tubuh saling tertukar menggunakan mix-media on aluminium dengan teknik cut-out.

“Teknik cut-out merupakan manifesto untuk membedah dan membongkar pengalaman saya dalam menghadapi chaotic di masyarakat,” Entang Wiharso menyatakan seperti termuat dalam catatan kuratorial, “Metode teknik ini karena saya ingin membuat struktur yang solid dengan membuang sesuatu yang tidak penting.”

Ada banyak karya Entang Wiharso yang menggunakan teknik seperti ini dalam pameran bertajuk Conversation: Endless Acts in Human History pada 15 Januari-1 Februari 2016 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Selain karya Entang, Conversation juga menampilkan karya perupa asal Australia, Sally Smart serta melibatkan dua kurator asal Indonesia dan Australia, yakni Suwarno Wisetrotomo dan Natalie King.

reclaim-paradise-karya-entang-wiharso

Reclaim Paradise karya Entang Wiharso. (Foto: Silvia Galikano)

 

Conversation adalah hasil percakapan Entang dan Sally, percakapan nyata maupun personal yang berlangsung dalam diri sendiri, tentang sejarah manusia sepanjang zaman dalam bingkai peristiwa politik, sosial, budaya, kolonisasi, tubuh, hingga stigma.

Mereka mempersoalkan riwayat dan tindakan manusia di sepanjang zaman, terutama yang bertolak dari pengalaman sebagai “anak zaman” kini.

Pola kerja dan karya-karya Entang merefleksikan kondisi masyarakat tempatnya hidup dan berinteraksi, sehingga dia melihat persoalan masyarakat dari dalam.

Latar belakang budaya Sally Smart, yakni Australia, menghasilkan karya seni yang berbeda dari Entang. Australia adalah negara-benua maju dalam suasana kehidupan kosmopolitan dan infrastruktur yang lebih mapan.

Di sisi lain, Australia memanggul persoalan masa lalu dan masa kini yang tak mudah: didera persoalan ras/etnik, lingkungan, dan politik yang penuh guncangan. Di atas pijakan itulah Sally berkarya.

Proses kreatif Sally seperti proses detoksifikasi. Proses mengeluarkan racun, sebongkah demi sebongkah, untuk merawat kesehatan pikiran, tubuh, dan jiwa.

Ia menggaris, menggores, membentuk, menggunting, memotong, dan merangkai kembali, layaknya proses mengonstruksi, mengoreksi, mendekonstruksi, dan merekonstruksi.

artists-dolls-karya-sally-smart

Artists’ Dolls karya Sally Smart. (Foto:Silvia Galikano)

 

Choreographing Collage (2013), misalnya, satu bingkai yang berisi macam-macam. Sebidang hitam layaknya papan tulis dicoret sana-sini dengan kapur tulis lengkap dengan bekas tulisan yang sudah dihapus lalu ditimpa coretan kapur lagi.

Di antara coretan itu ditempelkan potongan-potongan kertas membentuk beberapa sosok manusia. Anehnya, tak ada yang sempurna. Badan menghadap depan, kaki menghadap samping, kepala menghadap bawah. Tangan kiri ada di lengan kanan, tangan kanan pun tanpa lengan, langsung telapak.

Sally menyebut menggunting dan  memotong adalah sikap politik, yakni politik memotong (cutting politic). Menggunakan teknik memotong dan menjepit, yakni menempelkan bentuk potongan pada gambar lain, adalah caranya merespon identitas dan politik, sekaligus sebagai metode menjelajahi tubuh.

Sejak 1990, Sally mengembangkan pendekatan dan teknik ini bersamaan dengan kenyataan munculnya tegangan tentang identitas, gender, ras, politik, dan problem sosial-ekonomi. Kenyataan ini menumbuhkan kesadaran untuk mengolah realitas tersebut menjadi ide-ide sekaligus menentukan sudut pandang dan mewujudkannya secara visual.

Berangkat dari latar budaya berbeda, Entang dan Sally bertemu di titik simpul persoalan-persoalan kemanusiaan, ideologi, identitas, serta muatan opini terhadap kompleksitas sejarah manusia.

Itu pula alasan dipilihnya tema conversation (percakapan) yang mengisyaratkan terjadinya kolaborasi, meski dua seniman ini tidak menggunakan kata tersebut. Pasalnya kolaborasi sering diasosiasikan sebatas persoalan teknis dan fisik. Sedangkan yang dilakukan Entang dan Sally jauh dari pengertian dan persepsi praktik pragmatis semacam itu.

Entang menyebut karya-karyanya sebagai cara “menggaruk rasa gatal.” Sementera Sally menyebut karya-karyanya sebagai upaya “menambal sobek (luka) meski tetap meninggalkan bekas.”

Melalui topik “percakapan sejarah manusia sepanjang zaman”, pameran ini dapat disebut sebagai peneguhan yang lebih kompleks atas ungkapan ars longa vita brevis. Kehidupan relatif pendek, tapi kekuatan visual dan narasi seni yang tersimpan di dalamnya hidup sepanjang zaman.

***
Dimuat di CNNIndonesia, 12 Januari 2016

Edhi Soenarso dalam Catatan Kuratorial Seni

 

Oleh Silvia Galikano

Berpulangnya pematung Edhi Soenarso, pada Senin 4 Januari 2016, mengingatkan kita pada sejumlah karyanya yang dibangun pada masa pemerintahan Sukarno atau lebih dikenal dengan sebutan Bung Karno.

Dari bermacam kabar besar dan kedekatan dengan Bung Karno, terselip nama Edhi di rubrik seni media massa pada eranya. Sekadar pengingat, seniman satu ini pernah sangat diperhitungkan walau arus politik berubah.

Dua artikel itu adalah Kesibukan tanpa Suara yang ditulis Dan Suwaryono di Majalah Basis, November 1961 dan Seni Patung Kontemporer 1973-1998 oleh Asikin Hasan dalam Katalogus Triennal Jakarta II 1998. Keduanya terangkum dalam buku Seni Rupa Indonesia dalam Kritik dan Esai (2012) yang disunting Bambang Bujono dan Wicaksono Adi.

Edhi Soenarso menggarap medium konvensional di bidang pematungan bersama para pematung Sulistio, Sutopo, Hendra, dan Yan Mangkit dalam pembangunan Hotel Indonesia.

Sejak April 1961, sudah diumumkan bahwa proyek Hotel Indonesia, yang merupakan prestise nasional, akan menggunakan unsur kesenian yang meliputi hampir semua cabangnya.

Seni lukis dikerjakan Sudarso, Gambir Anom, dan Lee Man Fong. Harijadi menggunakan seni relief sebagai medium ekspresi keseniannya, Surono menggunakan medium relief keramik, dan Gregorius Sidharta memperkaya khazanah kesenian dalam bentuk mosaik keramik.

Kesemua penyelenggaraan dan penyelesaian pola hias Hotel Indonesia di bawah supervisi Bung Karno, baik secara teknis estetis maupun teknis oganisatoris.

Bank Pembangunan, yang membuat kalkulasi biaya, memperhitungkan pembangunan hotel akan menelan biaya Rp11 juta, termasuk di dalamnya karya seniman kurang lebih Rp2 juta termasuk ongkos bahan baku.

Watak seluruh karya seni ini adalah “indoors architecture” ruang pusat bangunan hotel. Selain sebagai reception hall, ruang pusat juga digunakan sebagai ruang untuk tari-tarian dan ruang dansa. Hotel Indonesia diresmikan Presiden Sukarno pada 5 Agustus 1962.

Penguasa berganti. Edhi terus berkarya. Pada 1973, dia mengikuti Pameran Pertama Patung Kontemporer Indonesia di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta yang dianggap sebagai embrio seni patung kontemporer.

Pameran besar berskala nasional ini dimaksudkan membangun tradisi pameran patung nasional. Ada 20 pematung ternama yang terlibat, di antaranya But Muchtar, Gregorius Sidharta, Hadi Asmoro, dan Edhi Soenarso.

Para seniman patung ini berasal dari Yogyakarta dan Bandung, dua kubu yang memiliki kekhasan dan sama-sama punya pengaruh terhadap perkembangan seni patung masa kini.

Sejak awal pertumbuhannya, banyak pematung mula-mula lebih dikenal sebagai pembangun monumen serta pembuat relief dan elemen estetika, seperti Edhi Soenarso, G. Sidharta, dan Rita Widagdo. Karenanya membuat patung berdasarkan order sebenarnya bagian dari perkembangan seni patung Indonesia.

Pada 1998, karya Edhi masuk dalam Triennal Jakarta II dan Asikin Hasan menuliskan katalog acara tersebut bertajuk Seni Patung Kontemporer 1973-1998.

Triennal Jakarta II-1998 seolah-olah membenarkan perkiraan G. Sidharta bahwa seni patung kontemporer di Indonesia pada dasarnya ditandai dengan pembauran seni patung tradisional dan seni patung modern.

Corak dan medium baru tersebut tampak dari berbaurnya pengaruh seni patung tradisional dan seni patung modern. Dilihat dari sudut pandang seni rupa kontemporer, multiplikasi corak bisa terjadi karena berakhirnya dominasi konsep seni rupa modern yang cenderung melihat perkembangan gaya melalui alur perkembangan linier.

Trienal Jakarta II-1998 memperlihatkan pula kecenderungan figuratif yang berkembang sejak awal perkembangan seni patung Indonesia, dan masih muncul pada perkembangan masa kini. Di sini, manusialah sumber inspirasi yang dominan.

Kecenderungan figuratif bermula pada Affandi dan Edhi Soenarso yang membuat patung sosok dengan tanah liat. Patung Potret Diri karya Affandi, misalnya, yang merupakan ungkapan emosional yang meledak-ledak ketimbang sekadar mengerjakan patung. Pendekatan emosional yang dipakainya dalam melukis, berlanjut pada patung tanah liat itu.

Pada era 1940-an, Affandi dan Edhi Soenarso memamerkan patung-patung karya mereka di Jakarta dan Yogyakarta. Pada 1952, Hendra Gunawan mengembangkan patung sosok dengan material batu andesit ketika mendapat pesanan membuat patung Jenderal Soedirman.

Persentuhan patung pesanan dan patung sosok menghasilkan patung-patung sosok yang bersemangat, seperti tercermin pada karya-karya Edhi Soenarso yang dibuat berdasarkan pesanan. Pematung generasi pertama lulusan ASRI ini melahirkan patung Pembebasan Irian Barat (1963), Selamat Datang (1962), dan Dirgantara (1965) yang terus dikagumi hingga Edhi tutup usia, hampir enam dekade sesudahnya.

***

Dimuat di CNNIndonesia.com, 5 Januari 2016

 

Edhi Soenarso Jadi Model Dua Patungnya

Setidaknya dua patung karya Edhi Soenarso menggunakan wajahnya sendiri sebagai model, yakni patung Pembebasan Irian Barat (1963) dan patung Dirgantara (1965). Sang pematung mangkat pada Senin, 4 Januari 2016.

Hubertus Sadirin, Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi DKI Jakarta mengatakan hal tersebut saat dihubungi CNNIndonesia.com, pada Selasa (5/1/2016). Pada Agustus 2014, Sadirin yang saat itu menjabat Penasihat Gubernur DKI Jakarta Bidang Konservasi, mendatangi Edhi di Yogyakarta sebelum mengkonservasi patung Dirgantara.

“Saya tanyakan siapa model patung Dirgantara. Pak Edhi bilang, ‘Ya saya sendiri,’” kata Sadirin. “Saya amati, betul itu wajah Pak Edhi. Raut muka dan pelipis kiri-kanan persis pak Edhi.”

Patung Dirgantara, yang dikenal juga sebagai Patung Pancoran, punya tinggi 11 meter dengan tinggi kaki patung 27 meter. Patung ini menghadap utara dengan tangan kanannya menunjuk arah utara, arah Bandar Udara Internasional Kemayoran, bandara internasional pertama sebelum adanya Bandara Internasional Sukarno-Hatta.

Tujuan dibangunnya patung Dirgantara adalah untuk menunjukkan keperkasaan bangsa Indonesia di bidang dirgantara. Karenanya bukan kebetulan jika patung ini dibangun di depan Wisma Aldiron Dirgantara yang dulunya berfungsi sebagai Markas Besar TNI Angkatan Udara.

Edhi Soenarso juga menggunakan wajahnya sendiri sebagai model patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Jakarta. Patung ini dibuat saat bangsa Indonesia tengah berjuang membebaskan Irian Barat dari Belanda.

Ide awalnya dari Sukarno ketika berpidato di Yogyakarta. Wakil Gubenur DKI Jakarta Henk Ngantung, yang juga seorang pelukis, kemudian membuat sketsanya. Pembuatan patungnya dikerjakan Tim Pematung Keluarga Area Yogyakarta dibawah pimpinan Edhi Soenarso.

Patung yang berdiri di atas landasan setinggi 20 meter dari jembatan, atau 25 meter dari landasan bawah itu rampung setelah setahun pembangunan. Presiden Sukarno meresmikan patung perunggu itu pada 17 Agustus 1963.

Berbeda dengan Dirgantara dan Pembebasan Irian Barat yang sudah dipastikan menggunakan model wajah sang pematung, patung Selamat Datang (1962) belum diketahui siapa modelnya.

Patung yang berada di Bundaran Hotel Indonesia ini terdiri dari perempuan dan laki-laki, menghadap utara, melambaikan tangan. Rancangannya juga dibuat Henk Ngantung. Tinggi badan patung dari kaki sampai ujung tangan yang melambai 7 meter, sedangkan tinggi penyangga 10 meter.

***

Dimuat di CNNIndonesia.com, 5 Januari 2016

Omah Mode 1836

img_4684

21 Agustus 2015

Bangunan di Jalan Ahmad Yani 38 Kudus ini dibangun pada 1836.

Fungsi asalnya adalah rumah tinggal Letnan Cina. Baru pada 1928 beralih fungsi jadi tempat pemerahan susu dengan merk OIB milik keluarga Ong Eng Bouw.

Perusahaan susu OIB kemudian pindah ke luar kota, sedangkan bangunannya yang berstatus benda cagar budaya (BCB), direhabilitasi oleh keturunan Ong Eng Bouw, Lisya Santoso. Keaslian bentuk bangunannya dipertahankan.

Fungsinya kini sebagai factory outlet bernama Omah Mode. Di halaman belakang terdapat kolam renang, salon & spa, serta restoran.

img_4686

20150821_122411

img_4688

img_4694

img_4696

20150821_122136

img_4701

Kitab Kuliner Warisan Sukarno Diterbitkan Ulang

img_20160814_120006-kecil

Mustikarasa terbitan Komunitas Bambu. (Foto: Silvia Galikano)

Mustikarasa, satu-satunya buku masakan resmi yang pernah diterbitkan pemerintah, pada 2016 diterbitkan ulang oleh Komunitas Bambu. Edisi barunya ditambah anak judul, sehingga berjudul lengkap Mustikarasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno.

Buku ini  pertama terbit pada 1967 setelah melalui proses panjang. Walau mulai digagas pada 1959 namun sebenarnya pada 1920-an Bung Karno pernah melontarkan kalimat bahwa kemerdekaan itu dimulai dari lidah. Yang dimaksud adalah kebebasan berbicara karena rezim kolonial represif terhadap wacana.

Setelah merdeka, Sukarno mulai bicara definisi lain tentang kalimat tersebut, yakni dikaitkan dengan kemerdekaan sehingga kemudian kita kenal slogan-slogan, seperti gemah ripah loh jinawi (kekayaan alam yang melimpah) dan sandang, pangan, papan (pakaian, makanan, rumah). Sandang, pangan, papan adalah garansi negara bagi rakyat jika Indonesia merdeka.

“Bung Karno pun mulai memikirkan tiga hal itu, dan pangan jadi persoalan serius karena dia tahu salah satu kampanye persatuan dalam kebhinnekaan adalah melalui makanan,” ujar sejarawan J.J. Rizal dalam peluncuran buku Mustikarasa di Kedai Tjikini, Jakarta, 14 Agustus 2016.

Masalahnya, walau Indonesia kaya akan khazanah kuliner, tak ada dokumentasinya secara nasional, disebabkan budaya tutur lebih dominan. Hanya pemerintah kolonial Belanda yang pernah membuat satu-satunya buku masak Nusantara berjudul Groot Niew Vooledig Oost-Indisch Kookboek yang memuat 1381 resep Hindia Belanda.

Ditambah lagi Sukarno bukanlah petualang kuliner yang punya banyak referensi tentang makanan. Dia tak suka makanan Eropa, dan hanya makan makanan kampung.  Saat kunjungan ke luar negeri, misalnya, koki istana ikut diboyong berikut cobeknya karena Sukarno makan sambal harus langsung di-korek dari cobek.

“Begitulah Sukarno, selera makannya ‘kampungan’ dan cara makannya ‘kampungan,’” kata Rizal yang juga pendiri Komunitas Bambu.

Maka untuk mendokumentasikan masakan Indonesia dalam bentuk buku, dikirimlah para pekerja yang serius dalam urusan fashion (saat itu, makanan masuk kategori fashion). Setelah terkumpul 1300 resep, ternyata Sukarno tak menggunakannya sama sekali.

Dia kemudian menugaskan M. Yamin untuk jadi Kepala Dewan Perancang Nasional (Depernas) pada 1962, yang jadi cikal bakal Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), untuk memikirkan ketersediaan sandang, pangan, papan.

Pengerjaan buku babon kuliner Indonesia itu juga jadi tanggung jawab Yamin dengan tenggat waktu satu tahun. Para pamong praja dari daerah diundang ke Jakarta untuk diwawancara guna menggali kekayaan kuliner wilayahnya. Namun ternyata hasilnya jauh dari harapan.

Akhirnya penulisan buku diserahkan ke Akademi Gizi. Walau mulai tampak keberhasilannya, belum jelas betul bentuk jadinya bakal bagaimana, termasuk akan mengambil judul apa.

Sekali lagi Sukarno menemukan masalah, yakni ketika tak ada yang dapat menjawab pertanyaan tim penulis buku tentang berapa konsumsi beras per kapita orang Indonesia. “Pasalnya posisi beras sangat penting di Indonesia. Kalau stok beras kosong, maka negara dalam bahaya,” kata Rizal.

Dan ketika jawaban pertanyaan itu ditemukan, disimpulkan jika Indonesia mau selamat, ekspansi dan kolonisasi beras ke masyarakat yang tidak mengkonsumsi beras harus dihentikan. Sukarno membuat self-supporting beras, mengganti beras dengan jagung. Salah satu bentuk kampanye mengerem konsumsi beras adalah dengan seringnya istana memperdengarkan lagu Menanam Jagung.

Ketika tahun 1964 Mustikarasa mulai menemukan bentuknya, Sukarno menugaskan sang istri, Hartini, untuk menguji resep-resep yang sudah terkumpul. Hartini pun membuat pameran makanan ke seluruh Indonesia. Namun setelah pameran rampung, belum lagi hasilnya dikompilasi, pecah peristiwa G30S 1965.

Mustikarasa akhirnya terbit tujuh tahun setelah dicetuskan, pada awal 1967, secara terburu-buru, pada akhir masa pemerintahan Sukarno. Karena Sukarno pernah berpesan agar buku itu terbit saat dia masih memimpin.

Karena kitab kuliner ini terbit secara terburu-buru, tak heran jika ditemukan banyak keganjilan, seperti di nama resep tertulis “Ayam” tapi ternyata di daftar bahannya tak mengandung ayam, atau sayur khas Betawi tapi dituliskan di buku itu berasal dari Cirebon.

Lepas dari semua keganjilan tersebut, yang menarik, Mustikarasa disajikan secara inklusif, ambil contoh, menuliskan “babi” dan “darah” dengan gamblang.

Selain masakan rumahan yang abadi, seperti sayur bobor dan ongklok kentang, dari buku ini juga kita jadi tahu dunia kuliner juga berproses; ada bahan makanan baru, ada juga yang hilang. Dahulu daging penyu banyak digunakan, ada masakan bernama kelada yang berbahan lidah kuda, serta ada taart semangka, tapi sekarang ketiganya tak lagi ada di meja makan rumah tangga.

“Saya menemukan resep kue sakura di majalah Djawa Baroe terbitan tahun 1944. Di Mustikarasa ada resep kue sakura juga, tapi beda. Inilah kekayaan kuliner kita yang hilang. Resep-resep dari nenek yang sekarang sudah tak lagi dipraktikkan,” kata Rizal.

Nyaris sepertiga buku berisi teks, bukan resep. Banyak pula esai panjang tentang kuliner, pengetahuan gizi, cara menganyam ketupat, posisi dapur, peletakan tungku, sampai cara mencegah kebakaran.

“Saya mempertahankan semua seperti asli; ejaannya, juga kekurangannya. Saya hanya mengubah anak judulnya untuk menghormati iniasiator pengumpul resep agar ingat bahwa beliau pernah melakukan sesuatu di luar pengetahuan kita.”

***
Dimuat di sarasvati[dot]co[dot]id, 21 Agustus 2016

Candu Rokok Berawal dari Teman Makan Sirih

proses-pengepakan-sampoerna

Proses pengepakan di pabrik rokok kretek Dji Sam Soe. (Foto: Koleksi House of Sampoerna)

Tembakau digunakan untuk makan sirih, dikenal dengan nama tembakau sugi. Masyarakat Jawa menyebutnya bako susur.

Oleh Silvia Galikano

Sinolog Belanda Prof. Gustaaf Schlegel punya teori, tanaman tembakau bukanlah tanaman asli Indonesia. Sebagai bukti, dia menunjuk pemakaian istilah tembakau atau yang semacam itu, untuk menyebut tanaman termaksud di berbagai daerah yang semuanya berasal dari perkataan Portugis, tabaco atau tumbaco, ketimbang istilah Belanda, tabak.

Tahun 1511 Portugis sudah mengalahkan Kerajaan Malaka. Berdasar kenyataan ini, ia berpendapat, orang Portugis-lah yang pertama memasukkan tembakau ke Nusantara pada awal abad ke-17.

Saat itu, tembakau digunakan untuk makan sirih, dikenal dengan nama tembakau sugi. Masyarakat Jawa menyebutnya bako susur. Jenis tembakau ini berasal dari daerah pantai Malabar di India Selatan. Masyarakat pribumi di sana punya kebiasaan memakainya selama makan sirih.

img_4636

Aneka tembakau di Museum Kretek, Kudus. (Foto: Silvia Galikano)

Sebelumnya, masyarakat makan sirih tanpa tembakau, hanya sirih dan pinang. Baru kemudian pada awal abad ke-15 ditambah kapur dari kulit tiram. Gambir muncul di Tanah Air pada awal abad ke-16, impor dari Cambay, India. Tembakau jadi anggota terbaru perlengkapan makan sirih, setelah dimasukkan Portugis ke Nusantara pada awal abad ke-17.

Kehadiran tembakau membawa dua dampak yang saling bertolak belakang terhadap kebiasaan makan sirih. Pada satu sisi melengkapi dan menambah kenikmatan makan sirih, namun di sisi lain pada masa mendatang justru mematikan kebiasaan makan sirih, berganti dengan rokok.

“Penaklukan” ini mencapai puncaknya pada awal abad ke-20, ketika makan sirih telah terdesak sama sekali oleh kegiatan merokok. Padahal seabad sebelumnya merupakan kebiasaan umum di kalangan perempuan Belanda di Tanah Air kita.

Mendukung teori Schlegel, buku Hikayat Kretek yang ditulis Amen Budiman dan Onghokham merangkum pendapat Raffles dalam The History of Java dan pendapat ahli botani Swiss, Augustin Pyramus de Candolle. Menurut keduanya, tembakau dan pemakaiannya untuk dirokok masuk ke Pulau Jawa pada abal abad ke-17 atau pada sekitar tahun 1600.

img_4642

Macam-macam saus di Museum Kretek, Kudus. (Foto: Silvia Galikano)

Masuknya tembakau dilanjutkan dengan masuknya kebiasaan merokok di Jawa sejak 1523 Saka atau sekitar 1601-1602. Tembakau berhasil menembus dinding-dinding keraton Mataram.

Seperti termuat dalam naskah Babad ing Sangkala (ditulis 1738), yang jika diterjemahkan, “Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning/ adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau/ setelah itu mulailah orang merokok.”

Mangkatnya Panembahan Senopati, ayah Sultan Agung, diperingati dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi.

Menurut Dr. H. de Haen, salah seorang utusan VOC yang pada tahun 1622-1623 berkunjung ke Mataram, Sultan Agung berusia 20-30 tahun, berbadan bagus, berwajah tenang, dan tampak cerdas.

img_4644

Klobot (daun jagung) untuk bungkus rokok di Museum Kretek, Kudus. (Foto: Silvia Galikano)

Sebuah informasi lain menuturkan Sultan Agung dilayani 30 sampai 40 orang abdi perempuan. Semuanya memegang, antara lain, sirih dan tembakau dalam cerana emas. Sri Baginda selalu merokok dan tidak seberapa makan sirih.

Menurut De Haen, selama audiensi, Sultan Agung merokok dengan menggunakan pipa berlapis perak, merupakan perbuatan terlarang bagi para pembesar kala itu.

Seorang utusan VOC lain menuturkan, ia pernah melihat Sultan Agung sedang memeriksa latihan perang-perangan. Sri Baginda memandang ke depan sambil terus menerus merokok didampingi seorang pembantunya, yang dengan segera mengacungkan upet (tali api-api), begitu rokok Sri Baginda mati.

Raja lain yang juga perokok, di antaranya Sunan Amangkurat I, raja Mataram ke-empat dan pengganti Sultan Agung; serta Sunan Paku Buwono I, putra Sunan Amangkurat I, dan raja Mataram ke-enam.

Namun demikian, dalam naskah-naskah sastra Jawa dari pertengahan abad ke-19, kata “rokok” tidak dijumpai. Yang ada hanyalah istilah asli Jawa, yakni eses atau ses seperti di naskah Centhini, serta udud di naskah Babad Ing Sangkala.

img_4638

Macam-macam cengkih di Museum Kretek, Kudus. (Foto: Silvia Galikano)

Dua istilah ini yang umum dipakai di kalangan masyarakat Jawa pada masa itu. Di kalangan suku-suku bangsa di luar Jawa dan Madura, dikenal perkataan bungkus dengan makna sama.

Pada akhir abad ke-18, merokok telah menjadi salah satu kebutuhan hidup primer di kalangan masyarakat Jawa, tak ubahnya dengan makan sirih. Status ini terlihat dari besarnya persentase jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli rokok dibandingkan dengan barang-barang kebutuhan hidup lainnnya, mencapai 25 persen dari jumlah keseluruhan uang belanja sehari-hari.

Tembakau yang dipakai masyarakat Jawa untuk merokok pada waktu itu berasal dari berbagai daerah, terutama dari wilayah keresidenan Besuki, yakni daerah Bondowoso, dan dari daerah Kedu. Tembakau Kedu sejak lama sangat terkenal karena mutunya.

Orang Belanda juga memakai tembakau Kedu untuk bahan pipa mereka. Pada abad ke-19, mereka hanya mengenal dua cara utama dalam menikmati tembakau, yakni mengisap pipa dan cerutu.

img_4646

Alat penggulung rokok kretek di Museum Kretek, Kudus. (Foto: Silvia Galikano)

Orang Belanda menyebut mengisap pipa dan cerutu dengan istilah ro’ken, misalnya dalam kalimat een pijp ro’ken (mengisap sebuah pipa). Dari perkataan ro’ken inilah muncul perkataan rokok oleh masyarakat pribumi pada akhir abad ke-19.

Penemuan kretek, yakni campuran tembakau dan cengkih, awalnya dimaksudkan sebagai obat sesak napas oleh penemunya, Haji Jamhari pada akhir abad ke-19. Karena temuan ini diminati banyak orang, sebuah pabrik kecil pun didirikan Haji Jamhari. Akhirnya, banyak orang mengikuti jejaknya.

Seiring lahirnya industri kretek di Kudus dan tersiarnya jenis rokok baru di berbagai daerah, mulai memasyarakat pula istilah “rokok”, menggantikan ses dan udud.

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 31 Mei 2016