Refleksi Indonesia di 100 Tahun Otto Djaya

jaka-tarub-dan-tujuh-bidadari-1995

“Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari” karya Otto Djaya (1995). (Foto: Silvia Galikano)

Jika Otto Djaya masih hidup, tahun ini usianya genap 100 tahun. Dia dikenal lewat tema lukisan yang menyentil melalui karakter lucu dan tak menyinggung.

Oleh Silvia Galikano

Untuk menandai tahun istimewa tersebut, digelar pameran bertajuk “100 Tahun Otto Djaya” di Gedung A dan C Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 30 September hingga 9 Oktober 2016. Pameran ini diinisiasi Inge-Marie Holst dan Hans Peter Holst, pencinta seni sekaligus kolektor lukisan Otto Djaya yang sejak 10 tahun terakhir membuat penelitian tentang pelukis ini.

Dari 200 karya lukis yang dibawa pasangan asal Denmark tersebut ke Galeri Nasional, 172 karya yang dipamerkan, dengan dikurasi Rizki A. Zaelani dan Inge-Marie Holst. Ini adalah pameran kedua karya Otto Djaya setelah pameran pertama pada 1995.

“Kami menemukan keindahan karya seni Otto Djaya pada tahun 2007 di Jakarta. Lukisan Otto Djaya yang pertama kami lihat adalah Pertunjukan Seni Sunda, sebuah lukisan cat minyak yang dibuat pada tahun 1988,” ujar Inge-Marie saat pembukaan pameran, 30 September 2016.

Pertunjukan Seni Sunda memperlihatkan penari berikut pemain musik pengiring serta penonton, yang digambarkan secara elok, anggun, dan sensual. “Energi dari para penari ini begitu gamblang terpancar dalam sapuan kuas Otto. Tentu ini menunjukkan pesona kepiawaian sang pelukis,” kata Inge-Marie.

Otto Djaya (1916-2002) adalah salah satu master dalam sejarah seni rupa Indonesia. Dia pernah menjadi pejuang kemerdekaan; mengalami masa kolonial Belanda, masa Perang Dunia II, masa revolusi, masa pemerintahan Sukarno dan Soeharto, hingga masa demokrasi.

Bersama abangnya, Agus Djaya, mereka pernah pergi untuk belajar dan bekerja sebagai seniman di negeri Belanda pada 1947-1950 dan beberapa kali berpameran di Eropa.

master-landscape

Otto Djaya

Otto seorang pelukis sekaligus pendongeng cerita, bohemian, non-konformis yang tidak pernah mengikuti arus tren seni mana pun. Dia memiliki gaya estetika dan reflektif khas; sangat analitik terhadap kemanusiaan, termasuk dirinya sendiri; serta mampu mensintesis keindahan alam, mitos, cerita rakyat, dan sindiran.

Kecenderungan visualnya dapat dikenali, yakni mengeksplorasi dan mengekspresikan jiwa rakyat Indonesia, khususnya orang Jawa, dengan selalu berkarikatur, tak pernah mengolok-olok.  Alam dan lingkungan Banten telah menghidupkan pokok penggambaran Otto yang bersifat kultural ketimbang tema renungan yang menyuruk pada persoalan-persoalan yang bersifat personal.

“Dia menunjukkan berbagai kejadian sehari-hari yang umum dikenal masyarakat di Indonesia, khususnya di pulau Jawa,” Rizki A. Zaelani, merinci. “Seperti tema tentang pasar, warung, pedagang asong, perayaan perkawinan, pertunjukan kesenian tradisi, perjalanan dengan kendaraan bermotor, sepeda, hingga kereta kuda.”

Karya-karya tipikal Otto Djaya itu dijajarkan di ruang depan Gedung A, antara lain Rumah Judi (1995), Bercengkrama di Warung (1989), Kerokan (1998), Waktu Demonstrasi (1999), dan Pasar Rakyat (1999) hingga membentuk narasi yang mengalir.

waktu-demonstrasi-1999

“Waktu Demonstrasi” (1999) karya Otto Djaya. (Foto: Silvia Galikano)

Banyak lukisan Otto yang menjadi khusus karena dia memasukkan karakter Punakawan, yakni Petruk dan Gareng, dalam situasi hidup keseharian. Ambil contoh lukisan Waktu Demonstrasi yang menggambarkan para perempuan berkebaya memanggul bakul berisi botol jamu, menyunggi bakul berisi buah, menggendong bayi, dan memanggul buntelan kain bertuliskan “Dana bantuan alias utang”.

Lalu di mana Petruk? Dia duduk nyaman gendongan seorang perempuan muda, di dalam barisan itu, dengan ekspresi wajah girang. Di Pasar Rakyat, Petruk ditampilkan seperti sedang menggoda perempuan di tengah ramainya pasar namun sepertinya sang perempuan tak mengindahkan.

Alih-alih bagian dari solusi, Petruk malah jadi “beban” bagi perempuan (-perempuan) ini. Dan Otto menempatkan perempuan sebagai subjek, bukan objek, lukisan-lukisannya. “Petruk itulah Otto. Satu lagi (Gareng, red.) mungkin Agus Djaya,” ujar Rizki.

Dunia pewayangan dan mitologi tradisi menjadi salah satu gagasan sentral yang dia munculkan secara khas, spontan, dan alamiah, seakan-akan kita memang hidup dalam bentangan kisah pewayangan dan mitologi. Misalnya penggambaran Arjuna, Ramayana, Dewi Kwan Im, Dewi Sri, Roro Kidul, dan Jaka Tarub.

otto-djaya-1944

Otto Djaya, 1944. (Foto: Istimewa)

Namun uniknya, Otto tak selalu menggambar tujuh bidadari seperti yang diceritakan dalam mitologi Jaka Tarub, terkadang hanya lima bidadari. Lima bidadari ini, menurut Rizki, kemungkinan simbol molimo, lima perbuatan yang terlarang dilakukan, yakni madat (narkoba), madon (main perempuan), minum (mabuk-mabukan), main (berjudi), dan maling (mencuri).

Ketertarikan Otto pada tema mitologi, menurut Rizki, tak lepas dari pengaruh zaman pendudukan Jepang di Indonesia. “Seniman yang mengalami pendudukan Jepang umumnya tertarik pada identitas Timur. Itu yang membuat Agus Djaya dan Otto Djaya dikenal.”

Pada malam pembukaan pameran, disajikan juga buku berjudul The World of Otto Djaya (1916–2002) yang ditulis Inge-Marie Holst. Buku yang juga tersedia versi digitalnya ini menceritakan Otto Djaya sebagai salah satu pelukis Indonesia yang karyanya dikoleksi Presiden Sukarno.

Walau menonjol dibandingkan dengan rekan-rekan sejawatnya yang telah terkenal  dan  memiliki  karya-karya  yang   lebih  terekspos  dan  terpublikasikan, namun informasi tentang Otto Djaya terbilang minim. Biografi tentangnya tidak pernah dituliskan.

Pencarian Inge-Marie dan Hans Peter Holst berlanjut ke investigasi arsip di Belanda dan pertemuan dengan para sejarawan seni di sana. Inge-Marie pun mengunjungi rumah tempat Otto dan Agus Djaya tinggal di Belanda. Pada masa itu Otto sempat membuat pameran yang terbilang besar tapi tak banyak diketahui di Indonesia karena perhatian masyarakat sedang tertuju pada kemerdekaan RI.

Pada 1950 Otto Djaya kembali ke Indonesia dan menjadi pelukis penuh waktu. Sempat tinggal di Semarang, dia kemudian pindah ke Depok hingga meninggal pada 2002. Otto  punya empat anak, tiga putri dan satu putra.

“Otto Djaya tidak lagi terlalu merupakan sebuah enigma sekarang, tapi kami masih tetap merasa tertantang atas keindahan makna yang lebih lagi dari banyak karyanya,” ujar Inge-Marie.

***
Dimuat di majalah Sarasvati edisi November 2016

cover_edisi_36

Pernah Azan Berkumandang Sayup di Musajik Usang

master-landscape

Musajik Usang di Kelurahan Kotomarapak, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. (Foto: Silvia Galikano)

Sumatera Barat masih menyimpan masjid-masjid kuno eksotis. Sebagian terjaga baik, sebagian butuh sentuhan orang-orang yang peduli.

Oleh Silvia Galikano

Jika berkesempatan ke Sumatera Barat, sempatkan juga melihat masjid-masjid tuanya. Masjid dengan atap meruncing dan kolam di depannya. Masjid dengan kelokalan yang kental sebelum jadi seragam berkubah bawang dari ujung ke ujung negeri.

img_8220

Burando (beranda), ruang sebelum memasuki masjid. (Foto: Silvia Galikano)

Salah satunya adalah masjid di Kelurahan Kotomarapak, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kira-kira setengah jam berkendara dari Kota Bukittinggi ke arah Pekanbaru. Masjid yang berdiri di atas tanah wakaf suku Simabue Kayu itu bernama Masjid Jamik Kotomarapak.

Masjid ini berada di bawah permukaan jalan dengan anak tangga turun terbuat dari tembok. Bentuknya rumah panggung, berdinding kayu, dan beratap jenjang tiga meruncing ke atas. Masyarakat meyakini, tiga jenjang itu lambang tiga tahap pejalanan manusia menuju Tuhan, yakni Islam, Iman, dan Ihsan.

Di bagian depan, menyambung ke masjid, adalah bangunan dari bata yang disebut burando (beranda). Kaki-kakinya “menancap” ke tabek (kolam). Fungsi tabek di depan masjid adalah sebagai tempat berwudu. Selesai berwudu, baru kemudian jamaah masuk ke masjid dengan menaiki tangga burando.

img_8224

Terdapat 20 jendela yang melambangkan 20 sifat Tuhan. (Foto: Silvia Galikano)

Dinding masjid tidak tegak lurus, melainkan miring sekitar 10 derajat, melebar ke atas. Di dinding ini terpasang 20 jendela, masing-masing dengan dua daun jendela kayu membuka ke dalam.

Dua puluh jendela itu melambangkan 20 sifat Tuhan yang merupakan pintu untuk mengenal dan menempuh jalan-Nya. Sifat-sifat itu di antaranya wujud (ada), qidam (terdahulu), baqa (kekal), mukhalafatuhu lilhawadits (berbeda dengan makhluk-Nya), qudrat (kuasa), iradat (berkehendak), dan hayyan (hidup).

Ada sembilan tiang di dalam masjid, berbahan kayu dengan ukiran corak pucuk rebung di kaki dan di pertemuan ujung tiang dengan langit-langit yang terbuat dari anyaman bambu. Tiang yang di tengah-tengah memiliki ukiran paling banyak, bukan hanya di bawah dan atas, melainkan juga di tengah tiang.

Jika ditanya ke masyarakat Ampek Angkek kapan masjid ini dibangun, jawabannya kurang lebih serupa, “Sejak neneknya nenek dulu sudah ada.” Orang-orang yang menjalani masa kecil dan remaja hingga era 1970-an di Ampek Angkek, umumnya punya kenangan akan masjid ini.

Seperti diceritakan Nadra Hanum, 71 tahun, yang shalat tarawih di sini sejak masa kecil hingga remaja sebelum kemudian merantau ke Pulau Jawa. Menurutnya, jamaah masjid ini dahulu adalah masyarakat Kotomarapak Mudiak (Kotomarapak bagian selatan). Sedangkan masyarakat Kotomarapak Ilia (bagian utara) punya masjid sendiri, bernama Surau Ladang. Walau bernama surau, fungsinya seperti masjid, termasuk diselenggarakannya shalat Jumat.

Astuti Koto dan Zahmanetti dalam akun Facebook mereka menuliskan punya kenangan saat kecil berenang dan mandi di tabek depan masjid. Di tabek ini juga anak-anak mencari cipuik (siput) sebelum pergi mengaji ke rumah Pak Datuak Naro, guru mengaji kampung yang rumahnya tak jauh dari masjid.

Mulai ditinggalkan

masjid-jami-kotomarapak

Masjid Jamik (Baru) Kotomarapak. (Foto: Silvia Galikano)

Pembangunan masjid jamik baru Kotomarapak rampung pada awal 1970-an. Masjid itu dibuat dari bata, bertiang beton, dengan lantai (bahkan sampai ke dinding) berlapis keramik, dan berkipas angin di beberapa titik walau udara Kotomarapak sejuk. Apalagi letak masjid baru ini persis di tepi jalan. Strategis, kata orang sekarang.

“Saya menikah pada 1973 sudah di masjid baru,” ujar Hanum.

Masjid lama ditinggalkan. Masjid dari kayu itu pun punya gelar baru “Musajik Usang (Masjid Lama)”, atau ada juga yang menyebutnya “Surau Lamo” karena hingga beberapa waktu kemudian fungsinya hanya sebagai surau.

Setelah itu, Musajik Usang sama sekali ditinggalkan sebagai tempat ibadah. Anak-anak kampung menggunakannya sebagai tempat bermain sandiwara-sandiwaraan serta tiang-tiangnya jadi tempat yang sempurna untuk bersembunyi saat bermain tunggak (petak umpet).

Lebih dari 40 tahun ditinggalkan, kondisi masjid kini mengenaskan. Lantai kayunya bukan saja berderit-derit ketika diinjak, bahkan rawan jebol jika kita tanpa sadar menginjak bagian yang lapuk. Beberapa bagian lantai sudah berlubang ditinggalkan bilah papannya.

Walau begitu, bangunannya tetap tidak dirobohkan. Sebuah pantangan besar yang dipegang keluarga Simabue Kayu.

“Tidak boleh dibuka (dibongkar). Nenek-nenek dulu membuat masjid bukan untuk dibuka,” ujar Lima, 80-an tahun, dari keluarga Simabue Kayu, pada Agustus 2016 di Kotomarapak.

Panel enkripsi

img_8324a

Enkripsi di salah satu panel antaratap. (Foto: Silvia Galikano)

Mengingat sudah lamanya masjid ini ditinggalkan dan sudah panjangnya rantai generasi, nyaris tak didapat keterangan tentang sejarah masjid secara detail. Satu-satunya petunjuk tertulis adalah enskripsi di  satu panel kayu penghubung antarjenjang atap.

Di panel itu terdapat empat baris dan satu kolom huruf Arab gundul (huruf Jawi) berbahasa Melayu dialek Minangkabau. Berdasar diskusi dengan Jufran Helmi, 54 tahun, yang juga kelahiran Ampek Angkek serta beberapa anggota Malaysian Heritage and History Club, empat kelompok tulisan berhasil dipecahkan, tinggal satu yang belum:

Saya terangkan guna…” (kalimat selanjutnya belum terpecahkan),

Nan minta Majo Indo

Gala Tuanku nan Setia sarato Tuanku nan Basar

1319. Yaitu Tuanku Alim yang baduo marajo’kan ini perumahan

Tulis Faqih Palimo Sutan.

Dari enkripsi itu diketahui Masjid Jamik Kotomarapak didirikan dua orang (ulama), yakni Majo Indo yang bergelar Tuanku nan Setia serta Tuanku nan Basar pada 1319 Hijriyah atau 1901/1902 Masehi. Artinya, usia masjid ini setidaknya sudah 114 tahun.

Mihrab muazin

master-landscape5

Musajik Usang tahun 2007, masih ada kubah mihrab. yang di dalamnya terdapat mihrab muazin. (Foto: Silvia Galikano)

Di atas mihrab ada lagi mihrab yang dibuat tinggi, namanya mihrab muazin. Mihrab muazin punya atap sendiri, terpisah dari atap runcing tiga jenjang, berbentuk kubah kecil.Ada tangga untuk naik ke mihrab muazin. Ruang sempit berbentuk silinder itu punya delapan jendela sekeliling menara, masing-masing dengan dua daun jendela.

img_8255

Dulu, di sini mihrab berada sebelum ambruk. (Foto: Silvia Galikano)

Jufran Helmi menceritakan, dahulu, lima kali sehari muazin menaiki tangga menuju mihrab muazin untuk mengumandangkan azan. Bukan hanya satu, melainkan tiga hingga empat muazin yang saling berpunggungan, mengumandangkan azan secara serentak ke berbagai arah.

Masa itu, istilah “mengumandangkan” masih pas digunakan karena semua otentik, akustik, tanpa corong kaleng pengeras suara memekakkan telinga. Azan sayup-sayup sampai diantarkan udara pegunungan, melewati sawah, menembus kebun, hingga sampai ke rumah-rumah panggung penduduk desa.

Gempa besar Padang pada 2007 dan 2009 membuat kubah mihrab muazin yang sebelumnya tak tegak bertambah miring. Karena belum ada juga yang memperbaiki, kini, kubah berikut mihrab muazin dan mihrab bawah ambruk hingga menembus lantai dan tampak tanah di bawahnya. Runtuh bersama kenangan tentang suara azan yang dahulu pernah sayup-sayup merdu.

img_8270

Saya; mama; dan anak sepupu, Ghina, di depan burando Musajik Usang

***

Dimuat di sarasvati.co.id, 29 November  2016

Bermula dari Nanas Penangkal Bajak Laut

benteng-keraton-buton-foto-silvia-galikano-1

Benteng Keraton Buton. (Foto Silvia Galikano)

Lanjutan dari Buton dan Budaya Tua yang Memikat

Sejarah Buton terbilang unik. Berangkat dari posisinya di lalu lintas sibuk perdagangan rempah-rempah berabad silam.

Oleh Silvia Galikano

Buton adalah pulau di “kaki” Sulawesi, bertetangga dengan Pulau Muna, masuk dalam provinsi Sulawesi Tenggara.  Mengalami masa kerajaan, kemudian kesultanan. Enam raja dan 38 sultan. Saat itu Buton bernama Wolio.

peta2

Peta Buton (Foto: beacbaubau.blogspot.co.id)

Masa kerajaan Buton berlangsung dari awal abad ke-14 sampai abad ke-16 dengan raja pertama Raja Putri Wa Kaa Kaa, dilanjutkan putrinya, Putri Raja Bulawambona. Pengaruh Hindu kental pada masa ini, serta sedikit Buddha dan Islam.

Mulai abad ke-16 hingga tahun 1960, Buton adalah kesultanan. Sultan Murhum Kaimudin Khalifatul Khamis yang merupakan Raja Buton ke-6 menjadi sultan pertama Buton. Bertepatan dengan 1 Ramadhan 948 hijriyah (1540 M) dia mengubah sistem kerajaan menjadi kesultanan.

Sultan Murhum ini dianggap pahlawan bagi rakyat Buton setelah menumpas bajak laut si mata satu yang terkenal kejam, La Bolontio. Dia juga berhasil mendamaikan dua kerajaan yang lama bertikai, Mekongga dan Konawe, dalam waktu delapan hari delapan malam. Murhum pun disegani raja-raja di Nusantara kawasan timur.

Murhum memerintah sebagai raja selama 20 tahun dan sebagai sultan selama 26 tahun. Pada masanya, dia menjadikan kesultanan Buton sebagai pusat syiar Islam.

kamali-berlantai-3-dengan-latar-depan-jangkar-kuno-dipercaya-dari-kapal-portugis-foto-silvia

Kamali berlantai 3 dengan latar depan jangkar kuno, dipercaya dari kapal Portugis. (Foto Silvia Galikano)

Keunikan kerajaan Buton adalah tidak punya istana tetap, melainkan kamali (rumah jabatan sultan) yang asalnya rumah tinggal seseorang sejak belum menjabat sultan. Begitu rumah tersebut sah sebagai kamali, barang-barang milik kesultanan sebelumnya diangkut ke kamali yang baru hingga nanti jabatan sultan berakhir dan diganti sultan lain dan kamali yang lain.

Adanya kamali tak lepas dari sistem pengangkatan sultan Buton yang bukan berdasarkan keturunan sehingga tak ada istilah putra mahkota. Sultan diangkat atau dipilih dewan siolimbona.

Sekarang, sistem sultan masih dipegang walau sifatnya sebatas simbol lembaga adat. Sultan terakhir Buton adalah La Ode Muhammad Jafar yang dinobatkan sebagai Sultan Buton ke-39 pada 2012 hingga wafat pada 19 Juli 2013, dan belum diadakan pemilihan sultan yang baru.

penggabungan-kerajaan-dan-kesultanan-di-seluruh-indonesia-ke-dalam-nkri-makassar-1950__ki-ka-andi-idjo-karaeng-la-lolang-raja-gowa-ke-32-sukarno-sultan-buton-ke-38-la-ode-muhammad-falihi-37-60

Penggabungan kerajaan dan kesultanan di seluruh Indonesia ke dalam NKRI, di Makassar 1950. Ki-ka: Andi Idjo Karaeng La Lolang (Raja Gowa ke-32), Sukarno, Sultan Buton ke-38 La Ode Muhammad Falihi (1937-1960). (Foto: Istimewa)

Jalur perdagangan laut

Pada masa VOC, Buton adalah jalur perdagangan rempah-rempah, dari dan ke Maluku. Ramainya lalu lintas diikuti maraknya bajak laut. Kondisi ini meresahkan masyarakat yang umumnya nelayan dan tinggal di pantai.

Untuk mengamankan diri, masyarakat pindah ke tempat yang lebih tinggi, hingga akhirnya ditetapkan bahwa bukit tersebut sebagai tempat tinggal baru. Di sinilah La Buke, sultan ke-6, membangun benteng pada 1634-1645.

img_9210

Kami di dalam salah satu bastion.

Benteng yang pertama dibuat bukanlah dari batu, melainkan dari pohon nanas, yang durinya pada masa itu efektif mencegah musuh masuk. Itu sebabnya nanas jadi lambang Buton dan dipasang di atap rumah tradisional Buton.

Benteng dari batu kemudian pada abad ke-16 dibangun sultan ke-3, La Sangaji yang bergelar Sultan Kaimuddin secara bertahap selama 10 tahun. Pagar dahulu baru kemudian isinya. Setelah rampung, benteng dengan bentuk lingkaran seluas 22,8 hektare itu punya 12 lawa (pintu) dan 16 baluara (meriam bastion).

Benteng inilah pusat kesultanan Buton yang wilayahnya mencakup keseluruhan pulau-pulau utama; yaitu Pulau Buton, Pula Muna, Pulau Kabaena, Kepulauan Tukang Besi, Pulau Rumbia, dan Pulau Poleang. Benteng Keraton Buton sekarang masuk dalam Kecamatan Betoambari, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara.

Selama pembangunan benteng, sejumlah hal unik terjadi, seperti tak ada yang menikah dan tak ada yang meninggal walaupun pada masa itu sedang musim kelaparan luar biasa.

“Anjing pun tak ada yang mati,” ujar La Ode M. Adam Vatiq, pemandu di Benteng Keraton saat Sarasvati bersama sejumlah media dari Jakarta mengunjungi Benteng Keraton di Baubau, Agustus 2016.

sultan-buton-ke-37-la-ode-hamid-ke-5-dari-kiri-bersama-pejabat-kesultanan-buton

Sultan Buton ke-37 La Ode Hamid (ke-5 dari kiri) bersama pejabat Kesultanan Buton

 

Pada masa pembuatan benteng pula ada seorang pedagang kaya yang berjasa, bernama Wa Ode Wau. Perempuan ini menyumbangkan telur ayam untuk para pekerja di musim kelaparan tersebut. Dia juga menyumbangkan putih telur untuk perekat benteng.

Karena jasanya, Sultan memberikan sebidang tanah yang luas terentang dari Lasalimu sampai Pasarwajo, atau hampir sepertiga panjang Pulau Buton, untuk Wa Ode Wau. Nama Wa Ode Wau pun dijadikan nama salah satu jalan utama di Baubau.

Karena Waode Wau tak berketurunan, tanah tersebut kini dimiliki negara. “Kalau beliau punya keturunan, mungkin akan jadi orang terkaya di sini,” kata Vatiq.

Dalam keraton

kasulana-tombi-berlatar-belakang-masjid-agung-keraton-buton-foto-silvia-galikano

Kasulana Tombi berlatar belakang Masjid Agung Keraton Buton. (Foto Silvia Galikano)

Di wilayah dalam keraton terdapat tempat-tempat bersejarah dan rumah penduduk yang seluruhnya masih terhitung bangsawan. Bangsawan Buton ada dua golongan. Pertama, golongan kaomu, yakni yang kelak berhak jadi sultan, dicirikan lewat rumah (kamali)-nya terdiri dari tiga lantai.

Golongan kedua, walaka, yakni majelis pembuat undang-undang, rumahnya terdiri dari dua lantai. Di luar dua golongan bangsawan itu adalah papara, yakni masyarakat biasa. Perempuan golongan papara bisa menjadi bangsawan jika dinikahi laki-laki bangsawan.

Bangunan bersejarah milik Kesultanan Buton sampai sekarang masih dapat dijumpai. Di antaranya Kasulana Tombi (Tiang Bendera) tempat dikibarkannya bendera kesultanan yang disebut Longa-longa dan tempat mengawasi lalu lintas laut. Didirikan pada 1712 pada masa pemerintahan sultan ke-19, Sultan Sakiyuddin Durul Alam (1712-1750). Tingginya 21 meter, berbahan kayu jati.

Ada dua versi yang diyakini asal kayu jati ini. Versi pertama adalah dari Kerajaan Patani (sekarang masuk Thailand Selatan) yang dibawa pedagang Filipina dalam persinggahannya sebelum ke Maluku. Versi kedua, kayu jati itu berasal dari Muna, pulau tetangga Buton.

Pada 1870-an, tiang itu disambar petir sehingga mengalami kerusakan, tapi kemudian diperbaiki dengan diikat lempengan baja. “Umurnya hampir empat abad, tapi sampai sekarang masih kuat dipanjat. Ada kuasa doa di sini,” kata Vatiq.

masjid-agung-keraton-buton-foto-silvia-galikano-1

Masjid Agung Keraton Buton. (Foto Silvia Galikano)

Hanya berjarak sekitar 10 meter dari Kasulana Tombi, berdiri Masjid Agung Keraton (Masigi Ogena). Dibangun pada 1712 di atas fondasi batu gunung. Masjid berukuran 21×22 meter ini dapat memuat 1000 jamaah dan memiliki 12 pintu masuk. Satu di antaranya adalah pintu utama.

Letaknya di ketinggian. Ada sejumlah anak tangga beton untuk mencapai pintu utama. Bangunannya didukung tiang-tiang dan kerangka kayu kelas satu. Keunikan Masjid Agung Keraton adalah adanya liang atau pusena tanah (pusatnya tanah/bumi) di dalam masjid yang dipercaya “terhubung” langsung ke Mekah.

Sebelum dibangun masjid, di sini adalah tempat pertemuan rahasia. Saat berfugsi sebagai tempat pertemuan itulah terdengar azan dan shalat dari liang di tanah. Suara itu diyakini berasal dari Mekah.

bagian-dalam-masjid-agung-keraton-buton-foto-silvia-galikano-2

Bagian dalam Masjid Agung Keraton Buton. (Foto Silvia Galikano)

Maka pada masa pemerintahan Sultan Murhum Qaimuddin Khalifatul Khamis, tahun 1542 M, di atas pusena itu dibangun Masjid Agung, menggantikan Masjid Agung yang terbakar di Kaliwu Liwuto. Masjid baru ini dibuat dari tiang kayu, dinding dari papan, serta atap alang-alang.

Dalam buku Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia (1999) yang ditulis Abdul Baqir Zein, tertulis fondasi Masjid Agung Keraton dibangun sedemikian rupa sehingga pusena terletak agak di belakang mimbar khatib atau di ujung kepala imam dalam keadaan sujud.

Tatkala Masjid Agung dibangun, liang yang sesungguhnya adalah pintu gua bawah tanah itu berukuran sebesar badan manusia, pintu gua tegak lurus menghadap ke atas dan konon dalamnya tak dapat diduga.

Pada 1712, di masa Sultan Buton ke-19, Langkariri dengan gelar Sakiuddin Darul Alam, masjid ini direhabilitasi. Dinding papan diganti batu dengan spesi pasir dan kapur. Atap alang-alang diganti daun nipah.

Rehabilitasi berikutnya pada 1929 oleh sultan Buton ke-37, La Ode Muhamad Hamidi Qaimuddin. Atap masjid diganti seng. Tangga naik menuju masjid serta bagian dalam masjid diganti dengan campuran semen, pasir, dan kapur.

Saat rehabilitasi itu pintu gua ditutup dengan semen sehingga liangnya kini menjadi kecil dan bulat sebesar bola kaki. Liang diberi penutup dari papan yang dapat dibuka jika ada yang ingin melihat pintu gua bersejarah itu, atas seizin imam.

Walau terbuka untuk umum, masjid ini tidak selonggar masjid-masjid lainnya, karena di sini ada perangkat masjid. Ada, hadir di masjid. Selain tidak bisa sembarangan lalu lalang, minimal timbul rasa segan. Perangkat masjid mengenakan pakaian khas dari tenun Buton. Sesampai di ujung tangga, mereka akan menyandarkan tongkat jabatan, berderet di tempat khusus.

perangkat-agama-kesultanan-buton-di-depan-kamali-1932

Perangkat agama Kesultanan Buton di depan Kamali, 1932. (Foto: Istimewa)

 

Pelantikan raja

Berada di seberang Masjid Agung adalah Batu Popaua, batu berukuran 0,5×1 meter yang digunakan untuk pengambilan sumpah raja/sultan.

batu-popaua-foto-silvia-galikano-1

Batu Popaua. (Foto Silvia Galikano)

Prosesnya, calon Sultan menghadap kiblat, memasukkan kaki kiri dan kanan ke dalam celah batu hingga sedalam betis, sambil diputarkan Payung Kebesaran di atas kepala. Pengambilan sumpah jabatan dilakukan seorang dari Siolimbona (dewan legislatif) dan disaksikan seluruh aparat kesultanan dan masyarakat Buton.

Bentuk Batu Popaua menyerupai alat kelamin perempuan. Diyakini, ini tak lepas dari pemimpin pertama Buton yang seorang perempuan, Raja Putri Wa Kaa Kaa. Sekaligus menyimbolkan raja/sultan yang baru selesai dilantik diibaratkan baru lahir dari rahim perempuan.

Sebelum di Batu Popahua, proses pengambilan sumpah dilakukan di Batu Wolio, yang berjarak 50 meter di tempat yang lebih tinggi, dan konon bentuk asalnya mirip lingga. Dinamai batu wolio karena dulu kawasan ini adalah hutan atau weliah. Dari “weliah” jadi “wolio”, nama asli Buton.

img_9156

Saya sudah resmi pernah menginjak tanah Buton. (Foto: Herita Endriana)

Sekarang, batu itu sudah dalam keadaan terpotong hingga pangkal lingga, tersisa tinggi 1,4 meter dari tinggi asli 2 meter. Menurut Vatiq, yang memotong batu itu adalah La Ode Abdul Ganiu, ulama pada masa Sultan Idrus Kaimuddin, pada 1824, dengan alasan karena bentuknya serta dulu batu ini dijadikan tempat sesembahan masyarakat. Potongannya dibawa ke Kampung Robo-robo.

Walau sudah terpotong Batu Wolio saat ini masih disakralkan masyarakat Buton dan dianggap simbol kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Pendatang dari luar daerah dianggap belum tiba di negeri Buton jika belum memegang Batu Wolio.

***
Dimuat di majalah Sarasvati edisi November 2016

cover_edisi_36

Buton dan Budaya Tua yang Memikat

tari-kolosal-di-festival-budaya-tua-buton-foto-silvia-galikano-7

Tari kolosal di Festival Budaya Tua Buton. (Foto SIlvia Galikano)

Festival Budaya Tua Buton adalah pesta rakyat yang mengajak untuk menengok kembali ke akar. Ketika Buton kerajaan kuat di tengah lalu lintas laut, tujuh abad lampau.

Oleh Silvia Galikano

Lumense ditarikan. Diiringi tetabuhan yang menyalakan semangat, ribuan penari merentakkan kaki sambil bergerak dari kanan podium ke kiri. Warna kostum mereka tegas. Celana dan kain panjang merah, baju hitam, sabuk kuning.

Hari itu adalah hari penutup Festival Tua Buton yang berlangsung 19-24 Agustus 2016. Memasuki tahun keempat, festival kali ini mengambil tema “Melestarikan Budaya Masa Lampau, Membangun Masa Depan”.

Festival bertempat di alun-alun Takawa Desa Dongkala, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton yang berada tepat di depan kantor Pemerintahan Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Penutupan yang terbilang paling meriah dibanding hari-hari lain sepanjang festival sekaligus dijadikan hari peresmian gedung baru kantor pemerintahan Kabupaten Buton yang sebelumnya berada di Kota Baubau.

tari-kolosal-di-festival-budaya-tua-buton-foto-silvia-galikano-8

Tari kolosal di Festival Budaya Tua Buton. (Foto SIlvia Galikano)

Di latar belakang adalah Teluk Pasarwajo yang tenang. Matahari sudah tiga jam lalu ada di ubun-ubun. Masyarakat memenuhi tribune, menyemut di tepi lapangan.

Beberapa penari memisahkan diri, membentuk barisan paling dekat ke penonton. Mereka menari berpasang-pasangan, menghadap sebatang pohon pisang. Pedang ada di tangan penari laki-laki. Tetabuhan makin kencang, gerakan pun makin cepat.

Pedang berkelebat tanpa penonton sadari bahwa itu bukan sekadar aksesori penari. Saat tetabuhan membunyikan nada terakhirnya, tinggi, bersamaan pula terpisahnya pucuk dari pokok pohon pisang oleh sekali sabetan pedang, penanda roh jahat telah terusir. Sorak sorai penonton tak terelakkan melihat kejutan barusan.

tari-kolosal-di-festival-budaya-tua-buton-foto-silvia-galikano-6

Tari kolosal di Festival Budaya Tua Buton. (Foto SIlvia Galikano)

Tari lumense yang riuh itu berakhir. Tari penutup dari empat tari kolosal sesudah ponare, potimbe, dan bosu. Festival Budaya Tua Buton sudah mencapai puncaknya.

Tetabuhan berlanjut lagi. Kini semua penari, 10 ribu seluruhnya, turun, memenuhi alun-alun. Mereka menari bersama dengan satu aba-aba.

Lalu satu tandu merah diusung prajurit Buton menyibak lautan penari. Tandu berisi Putri Wa Kaa Kaa menghampiri tribune kehormatan, menjemput Bupati Buton Samsu Umar Abdul Samiun dan tamu ke panggung untuk secara resmi menutup Festival Budaya Tua Buton.

putri-wa-kaa-kaa-diiringi-prajurit-buton-2

Putri Wa Kaa Kaa diiringi prajurit Buton. (Foto: Silvia Galikano)

Festival Budaya Tua Buton yang digelar sejak 2013 bertujuan mengangkat kembali budaya lama Buton, budaya yang hidup sejak zaman kerajaan, tujuh abad lampau.

“Buton mengalami era kerajaan dan kesultanan sejak abad ke-14. Adat dan budaya walau ada yang bergeser, berubah seiring zaman, mengekstrak, banyak yang masih dijalankan,” ujar Bupati Samsu Umar di kantor Pemerintahan Kabupaten Buton usai pementasan tari kolosal, 24 Agustus 2016.

pikande-kandea-foto-silvia-galikano-12

Pikande-kandea. (Foto: Silvia Galikano)

Pagi hari sebelum tari kolosal, tandaki (sunat) dan pikande-kandea (makan bersama) telah menyuguhkan pemandangan meriah di Pasarwajo. Perempuan anggun dalam balutan busana kaboroko, serta parabela (tokoh adat) dengan jubah merah tenun Buton hilir mudik di luar tenda acara.

Perangkat Masjid Agung Keraton Buton di Baubau mendapat tempat tersendiri di acara ini. Mereka duduk melingkar di area kiri begitu memasuki tenda. Di sana ada lakina agama (raja agama), imam, khatib, moji (pemuka agama), mokimo (petugas yang mengaji dan menyambut petinggi masjid saat shalat Jumat), dan tungguna ganda (pemukul gendang tiap masuk waktu shalat).

perangkat-agama-dari-masjid-agung-keraton-buton-foto-silvia-galikano-6

Perangkat agama dari Masjid Agung Keraton Buton. (Foto Silvia Galikano)

Jubah mereka hitam, bersarung, bersorban putih, dan ada selembar kain yang ujungnya diselipkan di sorban, menjuntai menutupi wajah bagian kiri. Jika pengunjung lain tertawa-tawa lepas menunggu acara dimulai, perangkat masjid berekspresi tenang dan berbicara dalam nada rendah dengan orang di kiri-kanannya, yang juga sesama perangkat masjid.

Di dekat perangkat masjid duduk melingkar pria berjubah hitam tanpa sorban. Mereka adalah mantan perangkat masjid, antara lain Jaati (bergelar Mahazanu) yang jadi moji pada 1997-2006, serta Zudin (bergelar Maazulihu) yang jadi moji pada 2005-2012.

Jika perangkat masjid mengenakan sorban, para mantan perangkat masjid ini “hanya” mengenakan kampurui, ikat kepala yang digunakan laki-laki Buton.

Para perangkat masjid berkedudukan sakral dalam pikande-kandea dan tandaki. Doa mereka dianggap tak terhalang sampai ke langit, memohonkan kelancaran acara ini.

pikande-kandea-foto-silvia-galikano-8

Hidangan di atas talang di acara Pikande-kandea. (Foto: Silvia Galikano)

Pikande-kandea adalah tradisi makan bersama masyarakat Buton. Untuk gelaran ini, disajikan tak kurang 2000 talang (dulang bundar berkaki terbuat dari kuningan) yang berisi macam-macam makanan khas Buton.

Di antara makanan yang disajikan itu ada jenis-jenis yang merupakan hidangan wajib. Waode Samuna, peserta pikande-kandea, menunjukkan satu demi satu isi talangnya, yakni lapa-lapa (sejenis lontong dari pulut, nasi putih, nasi merah, dan santan), nasi merah, dan telur dadar.

Ada pula ikan dole  yang dibuat dari ikan cakalang kukus ditumbuk, dicampur kelapa serta bumbu lada dan bawang merah. Adonan ini dicetak berbentuk segitiga dalam daun pisang lalu dicelupkan ke dalam telur sebelum  digoreng.

pikande-kandea-foto-silvia-galikano-7

Hidangan di atas talang di acara Pikande-kandea. (Foto: Silvia Galikano)

Jenis lauk lain adalah nasu wolio, yakni ayam dan kelapa sangrai yang dimasak bersama santan dan asam belimbing wuluh. Sedangkan jenis kue-kuenya adalah onde-onde (klepon, di Jawa), bolu, ubi goreng, cucur, kue putu, serta pisang goreng (tanpa tepung).

“Makanan itu yang wajib ada dalam talang. Kalau mau ditambah yang lain, boleh, seperti buah dan puding,” ujar Waode Samuna sambil menunjuk talang lain yang memuat puding dalam mangkok-mangkok kecil serta buah anggur.

Setiap talang ditutup dengan tudung saji terbuat dari rotan (ada juga berlapis kain beludru warna-warni) yang disebut panamba.

lapa-lapa-sejenis-lontong-foto-silvia-galikano

Lapa-lapa, sejenis lontong dari pulut, nasi putih, nasi merah, dan santan. (Foto: Silvia Galikano)

Talang-talang itu dibawa masyarakat dari hampir semua kecamatan di Kabupaten Buton, termasuk perwakilan sekolah dan instansi pemerintah. Tiap instansi membawa 15 talang.

Umumnya, hidangan satu talang dimakan dua orang yang duduk berhadapan. Namun khusus untuk tamu kehormatan, satu talang hanya dihadapi satu orang. Pikande-kandea dirayakan masyarakat Buton dalam setiap siklus kehidupan; dari pernikahan, khitanan, peringatan kedukaan, pesta panen, hingga hari besar keagamaan.

Bersamaan dengan pikande-kandea adalah tandaki yang tak kalah memikatnya. Anak-anak yang sepekan sebelumnya disunat secara medis, hari itu dikumpulkan lagi. Ada 500 anak sekabupaten Buton, mengenakan ikat kepala khas bernama kampurui tandaki dan baju yang didominasi warna hitam dan keemasan.

tandaki-foto-silvia-galikano-2

Anak-anak peserta tandaki. (Foto: Silvia Galikano)

“Warna baju itu melambangkan semangat hidup dan kerja keras. Setelah disunat, diharapkan semangat untuk berubah jadi lebih besar. Mereka diberi nasihat agar tidak boleh lagi nakal, tidak boleh lagi mandi telanjang di luar,” ujar Rusdi, panitia dari Dinas Pariwisata Kabupaten Buton.

Pada zaman dahulu, lanjut Rusdi, sunat menggunakan sebilah bambu tajam. Sedangkan untuk mengeringkan luka sunat digunakanlah abu dapur.

Anak yang akan disunat memasuki bilik sunat didampingi laki-laki dewasa (ayah atau abang). Dan ketika sudah selesai dan keluar dari bilik, pendamping akan membiarkan sultaru, rangkaian bunga kertas yang digantungi biskuit dan mainan, diperebutkan anak-anak lain sebagai simbol kegembiraan.

Itu pula sebabnya tandaki masuk dalam rangkaian Festival Budaya Tua Buton. Sebagai pengingat bahwa kebahagiaan dan soliditas menyumbang pembentukan karakter anak-anak. Bahwa festival bukan sekadar hore-hore yang ekstravagan.

img-20160825-wa0038-kecil

Wefie oleh Elfa Hermawan

 

Bersambung ke Bermula dari Nanas Penangkal Bajak Laut

***
cover_edisi_35_sarasvati-kecilDimuat di majalah Sarasvati edisi Oktober 2016