Candu Rokok Berawal dari Teman Makan Sirih

Tembakau digunakan untuk makan sirih, dikenal dengan nama tembakau sugi. Masyarakat Jawa menyebutnya bako susur.

Oleh Silvia Galikano

Sinolog Belanda Prof. Gustaaf Schlegel punya teori, tanaman tembakau bukanlah tanaman asli Indonesia. Sebagai bukti, dia menunjuk pemakaian istilah tembakau atau yang semacam itu, untuk menyebut tanaman termaksud di berbagai daerah yang semuanya berasal dari perkataan Portugis, tabaco atau tumbaco, ketimbang istilah belanda, tabak.

 

Tahun 1511 Portugis sudah mengalahkan Kerajaan Malaka. Berdasar kenyataan ini, ia berpendapat, orang Portugis-lah yang pertama memasukkan tembakau ke Nusantara pada awal abad ke-17.

 

Saat itu, tembakau digunakan untuk makan sirih, dikenal dengan nama tembakau sugi. Masyarakat Jawa menyebutnya bako susur. Jenis tembakau ini berasal dari daerah pantai Malabar di India Selatan. Masyarakat pribumi di sana punya kebiasaan memakainya selama makan sirih.

 

Sebelumnya, masyarakat makan sirih tanpa tembakau, hanya sirih dan pinang. Baru kemudian pada awal abad ke-15 ditambah kapur dari kulit tiram. Gambir muncul di Tanah Air pada awal abad ke-16, impor dari Cambay, India. Tembakau jadi anggota terbaru perlengkapan makan sirih, setelah dimasukkan Portugis ke Nusantara pada awal abad ke-17.

 

Kehadiran tembakau membawa dua dampak yang saling bertolak belakang terhadap kebiasaan makan sirih. Pada satu sisi melengkapi dan menambah kenikmatan makan sirih, namun di sisi lain pada masa mendatang justru mematikan kebiasaan makan sirih, berganti dengan rokok.

 

“Penaklukan” ini mencapai puncaknya pada awal abad ke-20, ketika makan sirih telah terdesak sama sekali oleh kegiatan merokok. Padahal seabad sebelumnya merupakan kebiasaan umum di kalangan perempuan Belanda di Tanah Air kita.

 

Mendukung teori Schlegel, buku Hikayat Kretek yang ditulis Amen Budiman dan Onghokham merangkum pendapat Raffles dalam The History of Java dan pendapat ahli botani Swiss Augustin Pyramus de Candolle. Menurut keduanya, tembakau dan pemakaiannya untuk dirokok masuk ke Pulau Jawa pada abal abad ke-17 atau pada sekitar tahun 1600.

 

Masuknya tembakau dilanjutkan dengan masuknya kebiasaan merokok di Jawa sejak 1523 Saka atau sekitar 1601-1602. Tembakau berhasil menembus dinding-dinding keraton Mataram.

 

Seperti termuat dalam naskah Babad ing Sangkala (ditulis 1738), yang jika diterjemahkan, “Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning/ adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau/ setelah itu mulailah orang merokok.”

 

Mangkatnya Panembahan Senopati, ayah Sultan Agung, diperingati dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi.

 

Menurut Dr. H. de Haen, salah seorang utusan VOC yang pada tahun 1622-1623 berkunjung ke Mataram, Sultan Agung berusia 20-30 tahun, berbadan bagus, berwajah tenang, dan tampak cerdas.

 

Sebuah informasi lain menuturkan Sultan Agung dilayani 30 sampai 40 orang abdi perempuan. Semuanya memegang, antara lain, sirih dan tembakau dalam cerana emas. Sri Baginda selalu merokok dan tidak seberapa makan sirih.

 

Menurut De Haen, selama audiensi, Sultan Agung merokok dengan menggunakan pipa berlapis perak, merupakan perbuatan terlarang bagi para pembesar kala itu.

 

Seorang utusan VOC lain menuturkan, ia pernah melihat Sultan Agung sedang memeriksa latihan perang-perangan. Sri Baginda memandang ke depan sambil terus menerus merokok didampingi seorang pembantunya, yang dengan segera mengacungkan upet (tali api-api), begitu rokok Sri Baginda mati.

 

Raja lain yang juga perokok, di antaranya Sunan Amangkurat I, raja Mataram ke-empat dan pengganti Sultan Agung; serta Sunan Paku Buwono I, putra Sunan Amangkurat I, dan raja Mataram ke-enam.

 

Namun demikian, dalam naskah-naskah sastra Jawa dari pertengahan abad ke-19, kata “rokok” tidak dijumpai. Yang ada hanyalah istilah asli Jawa, yakni eses atau ses seperti di naskah Centhini, serta udud di naskah Babad Ing Sangkala.

 

Dua istilah ini yang umum dipakai di kalangan masyarakat Jawa pada masa itu. Di kalangan suku-suku bangsa di luar Jawa dan Madura, dikenal perkataan bungkus dengan makna sama.

 

Pada akhir abad ke-18, merokok telah menjadi salah satu kebutuhan hidup primer di kalangan masyarakat Jawa, tak ubahnya dengan makan sirih. Status ini terlihat dari besarnya persentase jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli rokok dibandingkan dengan barang-barang kebutuhan hidup lainnnya, mencapai 25 persen dari jumlah keseluruhan uang belanja sehari-hari.

 

Tembakau yang dipakai masyarakat Jawa untuk merokok pada waktu itu berasal dari berbagai daerah, terutama dari wilayah keresidenan Besuki, yakni daerah Bondowoso, dan dari daerah Kedu. Tembakau Kedu sejak lama sangat terkenal karena mutunya.

 

Orang Belanda juga memakai tembakau Kedu untuk bahan pipa mereka. Pada abad ke-19, mereka hanya mengenal dua cara utama dalam menikmati tembakau, yakni mengisap pipa dan cerutu.

 

Orang Belanda menyebut mengisap pipa dan cerutu dengan istilah ro’ken, misalnya dalam kalimat een pijp ro’ken (mengisap sebuah pipa). Dari perkataan ro’ken inilah muncul perkataan rokok oleh masyarakat pribumi pada akhir abad ke-19.

 

Penemuan kretek, yakni campuran tembakau dan cengkih, awalnya dimaksudkan sebagai obat sesak napas oleh penemunya, Haji Jamhari pada akhir abad ke-19. Karena temuan ini diminati banyak orang, sebuah pabrik kecil pun didirikan Haji Jamhari. Akhirnya, banyak orang mengikuti jejaknya.

 

Seiring lahirnya industri kretek di Kudus dan tersiarnya jenis rokok baru di berbagai daerah, mulai memasyarakat pula istilah “rokok”, menggantikan ses dan udud.

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 31 Mei 2016

Identitas Indonesia Kental di Karya Nyoman Nuarta

IMG_1972

Gerbang NuArt Sculputre Park di Sarijadi, Bandung. Foto: Silvia Galikano

 

Lanjutan dari Menghitung Hari Menuju Karya Besar Nyoman Nuarta

Oleh Silvia Galikano

Jalan kekerasan tak pernah jadi pilihan Nyoman, sedangkan berdiskusi bukan gaya kelompok si penghancur patung. Ditambah lagi aparat tak memberi jaminan keamanan.

Berkarya secara profesional sejak 1970-an, baru beberapa tahun belakangan karya-karya patung Nyoman Nuarta jadi sasaran ketidaksukaan kelompok yang mengatasnamakan agama.

tiga mojang - namihani@panoramio,com

Patung “Tiga Mojang”. Foto: namihani@panoramio(dot)com

Tiga Mojang di Perumahan Harapan Indah Bekasi didemo dan dibongkar pada September 2010 karena dituduh mengusung Trinitas. Padahal patung yang menggambarkan tiga mojang Priangan mengenakan kemben itu sudah berdiri tiga tahun dan sebelumnya aman-aman saja.

Lain lagi cerita patung Borobudur di perumahan Kota Legenda, Purwakarta. Tanpa demo atau peringatan apapun, tahu-tahu saja patung seluas 20 meter persegi dan tinggi 15 meter itu pada akhir 1990-an hanya tersisa stupa utamanya.

“Saya tidak tahu bagaimana. Ada wartawan yang kirim foto, memberi tahu patung saya tinggal stupa saja,” ujar pematung Nyoman Nuarta saat menerima kedatangan CNNIndonesia.com di NuArt Sculpture Park, Bandung, pertengahan Mei 2016.

Dari miniatur Borobudur yang dipajang di galeri NuArt, patung ini menggambarkan candi Borobudur berikut juntaian “akarnya” yang kokoh dan solid, terangkat dari permukaan bumi.

IMG_2003

Miniatur “Borobudur” karya Nyoman Nuarta. Foto: Silvia Galikano

“Padahal patung itu dilingkari parit seperti penjara Alcatraz. Bagaimana bisa sampai hilang? Selidik punya selidik, ternyata (diambilnya, red.) pakai crane.”

Di Riau, baru sampai ide untuk membuat patung Zapin di depan kantor Walikota, Nyoman urung setelah didemo.

Di Tabanan, yang notabene kampung halamannya sendiri, patung Bung Karno setinggi 5 meter yang pendiriannya atas permintaan Bupati Tabanan, diprotes masyarakat pada Juli 2014. Alasannya karena dulu di sana berdiri patung sakral masyarakat Bali, Wisnu Murti.

“Kantor saya pernah juga dilempari, saya diteror tengah malam, digarong, di DPR dimaki-maki dibilang menghamburkan uang negara, sudah biasa, saya happy-happy saja. Pengalaman saya macam-macam.”

Jalan kekerasan tak pernah jadi pilihan Nyoman, sedangkan berdiskusi bukan gaya kelompok si penghancur patung. Ditambah lagi aparat tak memberi jaminan keamanan.

“Kita bisa diskusi kalau sepemikiran, kan? Mereka tidak pernah sendiri, selalu ramai-ramai. Sedangkan lingkungan kami adalah lingkungan intelektual.”

IMG_1992

Miniatur “Garuda Wisnu Kencana” karya Nyoman Nuarta. Foto: Silvia Galikano

Repotnya lagi, lanjut Nyoman, protes kelompok tersebut berangkat dari anggapan bahwa patung sama dengan berhala, diidentikkan dengan sesembahan umat Hindu Bali, padahal sudah sejak “zaman kadal” orang Bali tidak menganggap patung sebagai berhala.

“Sedih saya. Kok bisa orang seperti itu hidup di zaman seperti ini.”

Lewat Tiga Mojang, Borobudur, dan Garuda Wisnu Kencana, karya akbar yang ditargetkan rampung tahun depan, Nyoman hendak mengedapankan identitas bangsa Indonesia, modal utama kedaulatan dan kewibawaan. Dan identitas hanya dapat dibentuk dari budaya yang orisinal.

Nyoman mencontohkan Bali. Walau Hindu, agama mayoritas di Bali, berasal dari India, ujar Nyoman, “Apakah ada secuil saja budaya India di Bali? Tidak ada. Entah itu makanan atau bahasa. Malah yang saya lihat ada pola ukiran di Bali ditemukan juga di Mesir dan China.”

Tak ada kewibawaan, maka tak akan ada kedaulatan. Hanya dengan membuat diri terhormat maka penghormatan akan didapat.

“Sekarang ada perubahan drastis di orang-orang Indonesia. Budaya Arab ditelan saja. Saat ini, karena budaya kita sudah begitu lunturnya, kita harus memulihkan, menyadarkan bahwa ini bukan budaya kita.”

IMG_1938

Karya patung di halaman NuArt Sculputre Park di Sarijadi, Bandung. Foto: Silvia Galikano

Nyoman Nuarta lahir di Tabanan, Bali, 14 November 1951. Selulus SMA, dia melanjutkan kuliah di Jurusan Seni Lukis, Institut Teknologi Bandung tahun 1972. Dua tahun kemudian dia pindah ke Seni Patung karena di seni patunglah dia dapat menuangkan ekspresi keseniannya secara penuh.

Perbincangan kami berlangsung sambil makan siang di kafe di dalam kawasan NuArt Sculpture Park. Selain galeri dan taman, NuArt Sculputure Park juga punya ruang audiovisual, butik kerajinan tangan, dan kafe yang sama-sama menunjang kegiatan berkesenian.

Di kawasan seluas 3 hektare ini dipamerkan 300-an karya patung Nyoman Nuarta, sejak awal berkarier hingga karya terbaru. Di sana ada karya patung pertamanya, Torso (1975), yang sudah menampakkan ciri ingin menggambarkan angin (berwujud patung “sobek-sobek”) di antara bentuk solid sesuai pakem diajarkan di kampus.

IMG_1941

“Devi Zolim” (2015) karya Nyoman Nuarta. Foto: Silvia Galikano

Tepat di tentangan pintu masuk utama galeri, terpasang patung Devi Zolim (2015). Devi Zolim adalah “dewi keadilan” dengan mata tertutup, memegang timbangan, tapi berwajah bolong seperti hantu dan menginjak rakyat.

Nyoman mempertanyakan keadilan di negeri ini sekaligus menggambarkan inilah hukum sekarang, hukum uang. “Tak ada yang tidak bayar, bayar pun memakai uang lawan. Bangsa ini sedang membela kejahatan. Para penjahat itu pegang uang.”

Lewat patung Api Borneo (2016) dia menyuarakan keprihatinan terhadap masalah lingkungan. Patung berbahan tembaga dan kuningan ini berbentuk enam pokok pohon yang diletakkan di antara pepohonan betulan, hampir serupa jika tak diperhatikan benar. Di tengah-tengah, seekor induk orangutan mendekap anaknya dengan wajah ketakutan.

Saat malam, patung-patung pohon ini “dibakar”, api keluar dari tengah pokok-pokok pohon, langit memerah menyuguhkan pemandangan mengerikan.

Di Jakarta ada beberapa karya Nyoman yang menarik perhatian, seperti patung Arjuna Wijaya (masyarakat kerap menyebutnya “Patung Kuda”) di dekat bundaran Indosat yang diresmikan Presiden Soeharto pada 16 Agustus 1987.

Ide pembuatan patung ini didapat sepulang Soeharto dari kunjungan ke Turki. Di sana, sepanjang jalan protokol ada patung masa lalu Turki, dan presiden Turki kala itu lancar bercerita tentang sejarah dan legenda Turki yang berkaitan dengan patung tersebut.

arjuna @kompas

Patung “Arjuna Wijaya” karya Nyoman Nuarta. Foto: Kompas

Maka Nyoman ditanya Soeharto tentang cerita masa lalu Nusantara yang bisa diterima semua orang. “Saya pusing. Saya ini pematung modern, harus bikin patung tentang masa lalu. Pak Harto mau tidak dibikinkan patung sobek-sobek?”

Maka diputuskan membuat patung yang mengutip adegan perang dalam epos Mahabharata. Arjuna menggenggam busur panah, sementara Batara Kresna mengendalikan kereta perang yang ditarik delapan ekor kuda.

Tak banyak yang tahu, patung ini tidak diongkosi pemerintah. Dana dari sponsor, yakni keramik Diamond, hanya Rp300 juta ditambah kocek Nyoman pribadi Rp25 juta.

Untuk mengakali keterbatasan uang, patung itu dibuat dari polyester resin terlebih dahulu. Baru kemudian, setelah dana cukup, Arjuna Wijaya diganti dari bahan tembaga. Sekarang, tanggung jawab pemeliharaan oleh dana CSR Bank OCBC.

Lantas, apa yang mendorongnya sampai mau merogoh kocek sendiri?

“Ini negara kita,” kata Nyoman penuh semangat. “Patung saya dipasang, saya bangga juga. Jangan semua kesempatan Anda pikir akan menghasilkan uang. Kalau punya uang, saya bikin.”

Selain Arjuna Wijaya, patung lain yang dipasang di jalan protokol Jakarta adalah patung di halaman hotel Grand Hyatt Jakarta dan patung Ku Yakin Sampai di Sana di depan Museum Nasional (Museum Gajah).

Sedangkan proyek besar yang sekarang sedang dikerjakan adalah patung Garuda di jalan menuju Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pengganti gapura Bali. Patung setinggi 18 meter (termasuk pedestal 3 meter) dan berat lebih dari 20 ton itu hampir 50 persen jadi

Setelah sekitar 40 tahun berkarya, Nyoman telah menghasilkan tak kurang 300-an patung asli dan 100-an patung publik. Bandung sudah jadi rumahnya dan akan terus berkarya di Bandung, bukan di Bali, tanah kelahirannya. Keputusan ini ada sebabnya.

“Kalau semua orang Bali tinggal di Bali, bisa berkelahi sesama Bali. Rebutan. Karena itu ada istilah ‘Orang Bali itu hidupnya seperti ayam Bali. Kalau dikasih makan, bukan makanannya dulu yang dipatuk, tapi kepala temannya,’” sekali lagi Nyoman terkekeh.

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 6 Juni 2016

IMG_1955

Nyoman Nuarta, Ranny, dan saya. Foto: Ratih

Menghitung Hari Menuju Karya Besar Nyoman Nuarta

IMG_2053

Kegiatan di workshop NuArt Sculputre Park di Sarijadi, Bandung. Foto: Silvia Galikano

 

Oleh Silvia Galikano

Hanya berjarak beberapa meter dari air terjun kecil Curug Ale, para pekerja membangun patung-patung besar dari perunggu, baja, dan kuningan. Lempeng demi lempeng logam disambung dengan cara dilas. Suara gemuruh curug jadi peredam alami lengkingan suara las.

Di workshop inilah I Nyoman Nuarta membuat bagian demi bagian patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang ditargetkan rampung tahun depan. Workshop nyaman itu berada dalam kawasan tiga hektare NuArt Sculputre Park di Sarijadi, Bandung.

Sejak peletakan batu pertama, 8 Juni 1997, proyek prestisius kawasan taman kebudayaan di Bukit Balangan, Ungasan, Bali ini sudah mengalami enam presiden RI, dua kali krisis ekonomi besar (1998 dan 2008), serta tak terhitung cibiran dan pertanyaan, “Kapan selesainya?”

IMG_1950a

Nyoman Nuarta di galeri NuArt Sculputre Park di Sarijadi, Bandung. Foto: Silvia Galikano

 

Padahal, GWK dibangun dari koceknya sendiri, bukan uang negara, dan sekarang dia sudah menjual seluruh sahamnya. Sehingga saat ini Nyoman berstatus hanya sebagai pematung yang mengerjakan GWK, bukan pemilik.

“Saya membuat GWK dengan apa yang saya bisa dan apa yang saya punya,” ujar Nyoman Nuarta saat menerima CNNIndonesia.com di NuArt Sculpture Park, Bandung, pertengahan Mei 2016.

Ihwalnya, pada era Soeharto, Kementerian Keuangan yang berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata meminjamkan uang sebesar Rp25 miliar melalui melalui Bali Tourism Development Corporation (BTDC). Agunannya adalah lahan seluas 22 hektare dan masa pinjaman 25 tahun.

Dari Rp25 miliar, BTDC dapat saham 18 persen (Rp4,5 miliar) dan Nyoman 82 persen. Pinjaman itu, menurut Nyoman, adalah instruksi Suharto agar dia berfokus mengurus seni saja tanpa dipusingkan urusan uang.

Walau demikian, angka Rp25 miliar masih terlalu jauh untuk merampungkan GWK karena dana yang dibutuhkan Rp2 triliun.

Pinjaman berjangka waktu 25 tahun itu nyatanya kemudian mengalami masalah di tengah jalan. Entah bagaimana, utang Nyoman tiba-tiba membengkak, karena dikenakan bunga komersial dan harus dikembalikan segera dari perjanjian yang 25 tahun. Nyoman kemudian membawa kasus ini ke pengadilan dan menang.

gwkbali,com

GWK saat ini. Foto: gwkbali(dot)com

“Agar tidak berlarut-larut, saya kembalikan saja uangnya, padahal masih 10 tahun lagi (dari tenggat pelunasan, red.). Saya sudah tidak ada utang.”

Karena tak mau punya utang lagi, akhirnya pada era pemerintahan Yudhoyono, Nyoman menjual seluruh sahamnya di GWK ke perusahaan properti Alam Sutera, sehingga kini statusnya dalam proyek GWK adalah pematung yang berkewajiban menyelesaikan karya seninya.

Sebelum melepas GWK kepada pihak lain, Nyoman memberi syarat, pemilik baru berkewajiban menyelesaikan patung dan kawasan taman kebudayaan itu dalam jangka waktu tiga tahun.

IMG_2035

Kegiatan di workshop NuArt Sculputre Park di Sarijadi, Bandung. Foto: Silvia Galikano

Kini pedestal sudah dibangun dan patung sudah siap dipasang. Diharapkan pada 2017 rampung dengan catatan cuaca baik. Di workshop NuArt, terpasang angka hitung mundur menuju rampungnya GWK. Saat kami datang, angka yang tertera adalah “244”.

“Niat saya membangun adalah untuk negara saya. Setelah saya tidak sanggup lagi karena ini menjadi tanggung jawab sendiri dan susah mencari mitra, akhirnya saya lepas dengan perjanjian agar itu jalan.”

Kini pengerjaan patung di workshop NuArt sudah 70 persen rampung. Sebagian besar sudah dikirim ke Bali menggunakan 8-12 truk sekali sepekan. Tak jarang, satu truk hanya berisi satu lempengan karena volume modul-modul patung termasuk gigantik.

Setelah jadi, total berat patung adalah 3000 ton dengan volume sembilan kali patung Liberty di New York, AS.

Dua kali kena krisis ekonomi tentu ikut berimbas ke harga bahan pembuatan patung yang 90 persen impor. Nyoman memesan tembaga dari Jepang, kuningan dari Jerman, dan baja tahan karat dari Italia.

“Para senimannya saja yang dari Indonesia,” kata Nyoma lalu terkekeh.

Krisis ekonomi pertama, menjelang Reformasi, merupakan pukulan yang keras bagi penggarapan proyeknya karena semua orang tiba-tiba “jadi miskin.” Karyawan Nyoman saat itu ada 1000 orang, di antaranya 600 orang di Bali yang tetap bekerja siang malam mengerjakan GWK.

“Di Bali, saat itu, satu-satunya yang tetap bekerja hanya GWK. Berat memang, sampai akhirnya, alat berat kami jual. Kalau dulu saya hentikan sama sekali, bisa jadi GWK sekarang sudah tidak ada bekasnya.”

gwkbali,com2

GWK saat ini. Foto: gwkbali(dot)com

Infrastruktur yang kurang memadai merupakan hambatan lain bagi lekas rampungnya GWK. Bahan baku pun belum tersedia dalam jumlah yang memadai di Bali.

Semisal, welding rod hanya tersedia dalam hitungan kilogram, padahal yang perlu dibeli dalam hitungan ton. Besi pun tak bisa dibeli sekaligus, harus sedikit-sedikit, yang membuat ongkos produksi mahal.

Acetylene dan oksigen (bahan untuk mengelas) dalam jumlah banyak baru-baru saja tersedia di Bali. Sebelumnya, Nyoman memesan gas dari Surabaya, bertruk-truk banyaknya.

Karena itu diputuskan patung dikerjakan di workshop NuArt di Bandung, baru kemudian dibawa ke Bali untuk dipasang. Konsekuensinya biaya transportasi terbilang besar untuk mengongkosi 600 truk jalan darat dari Bandung ke Bali.

Mengapa hingga butuh banyak truk? Tak lain karena lempengan yang diangkut berbentuk lekuk-lekuk, tak heran jika satu truk hanya dapat membawa satu lembar. Lempengan yang yang disebut modul-modul GWK itu dibawa ke Bali dalam kondisi telah jadi, tapi dipotong-potong untuk memudahkan pengangkutan dan pemasangannya kelak.

“Harga sewa satu unit truk Rp11 juta, belum lagi memasang stegernya yang bisa lebih mahal dari harga patung. Itulah mengapa harga patung mahal. Syukur-syukur seniman dapat sisanya.”

IMG_1992

Miniatur “Garuda Wisnu Kencana” karya Nyoman Nuarta. Foto: Silvia Galikano

Setelah berjalan 19 tahun, gambaran ideal taman kebudayaan GWK belakangan sedikit terganggu akibat pendirian beberapa tempat di kawasan itu tidak sesuai dengan masterplan. Beberapa di antaranya berbentuk ruko yang merusak lanskap GWK secara keseluruhan.

Pasalnya, GWK bukanlah patung Dewa Wisnu yang berdiri secara tunggal, melainkan terdiri dari land art, yakni gunung kapur bekas tambang kapur yang dipotong membentuk komposisi-komposisi tertentu. Di kawasan itu juga terdapat museum, galeri, dan amphitheater.

GWK sudah 70 persen selesai, tahun 2017 hanya tinggal hitungan bulan. Sekarang, dalam bentuk setengah, jadi saja GWK ikut mendatangkan visa melalui 3000-4000 pengunjung setiap hari.

Jika sudah rampung, diperkirakan bakal ada 6000 pengunjung GWK setiap hari, atau sekitar 10 persen dari total kunjungan wisatawan ke Bali setiap hari, sehingga akan lebih banyak lagi pihak diuntungkan. GWK menjadi landmark baru bagi kehidupan manusia modern di Indonesia, setidaknya destinasi baru yang diabdikan seorang seniman besar kepada negaranya.

Bersambung ke Identitas Indonesia Kental di Karya Nyoman Nuarta

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 6 Juni 2016

IMG_2009

Saya di depan patung Nightmare (2001) karya Nyoman Nuarta. Foto: Ranny

Pidi Baiq:Tanpa Aksi Nyata, Agama Jadi Omong Kosong

IMG_2057

Pidi Baiq. Foto: Silvia Galikano

Lanjutan dari Pidi Baiq: Lebih Nyaman jadi Ikan di Empang

Pemahaman agama, yang sebetulnya dianut secara universal, dia tuangkan di sana-sini, dapat kita lihat hampir di semua karyanya. Bedanya, Pidi Baiq “berdakwah” tanpa mendakwahi. Semua nyaman, semua aman, tanpa jadi tertuduh.

Pertengahan Mei lalu, CNNIndonesia.com menemui Pidi Baiq di Rumah The Panasdalam di Bandung. Dia bercerita banyak hal, dari tema lagu hingga soal keagamaan. Perbincangan tersebut kami bagi menjadi dua bagian, berikut bagian ke-dua:

Bagaimana Anda mendefinisikan Pidi Baiq dalam berkarya?

spbu

S.P.B.U: Dongeng Sebelum Bangun. Foto: Goodreads

Dunia luas, saya tidak mau ada di wilayah tertentu. Saya dikutuk untuk tidak mau menyandang status-status tertentu. Saya ingin bebas dari hal ribet macam itu.

Saya bukan penulis, saya bukan pemusik, pelukis, penyair, seniman, atau apapun, saya adalah manusia seutuhnya, yang makan nasi bakar karena lagi ingin, saya manusia yang main skateboard kalau lagi ingin main skateboard. Begitu saja.

Tapi skateboard juga bisa jadi media dakwah. Saya main skateboard bersama kawan-kawan, terus saya bilang ke mereka: Eh, main skateboardnya di sana saja yuk, jangan main skateboard di sembarang tempat. Itu lebih baik, daripada saya datang sebagai orang lain yang membentak, mengusir mereka. Itu buruk. Jadi seteru.

Dakwah tidak harus selalu di podium yang sudah disediakan untuk dakwah. Tidak harus selalu di program dakwah yang ada di teve itu. Tidak terbayang bagaimana rasanya saya kalau harus naik panggung untuk berdakwah. Itu bagus, tidak salah, tapi saya pasti tidak akan bisa.

Saya pasti akan takut merasa diri sudah benar. Ah pokoknya begitu lah. Kebayang juga bagaimana sebelum naik panggung itu, saya pilih-pilih pakaian dulu untuk bisa tampil menawan dilihat banyak orang di sana. Tidak salah pilih pakaian terbagus. Tapi pokoknya saya tidak mau saja.

Jadi bagaimana idealnya mengajak kebaikan?

Ya berbuat baiklah, menjadi teladan bagi orang lain. Tidak usah nyuruh-nyuruh, itu hanya akan menjadi berisik bagi orang lain. Orang yang mabuk sudah tahu bahwa mabuk itu dilarang, makanya kenapa kalau mabuk mereka pada sembunyi? Karena sudah tahu. Iya, terus aku datang ke mereka nasihati jangan mabuk karena dilarang? Sudah tahu, Maaasss!!

Kebanyakan orang tuh ya macam saya, dulu malas sekolah, pas sudah jadi orangtua sok iye nyuruh anaknya untuk rajin sekolah. Enak aja! Sok iye melarang siswanya menyontek, dirinya sendiri waktu kuliah dulu juga menyontek. Banyak yang sok iye.

Bagaimana saya ini, kalau ngomong agamis, tahu-tahu buang sampah sembarangan. Bagaimana saya ini kalau puasa sok paling afdol, tapi berebut makanan di jalan dan di cafe dengan sesama muslim pada waktu buka puasa.

Maka agama itu akan menjadi omong kosong kalau tidak diaplikasikan dalam sikap dan perbuatan. Meskipun kamu sudah khatam membaca buku ramuan pengobatan tidak akan menyembuhkan lukamu, kecuali kamu baca satu halaman sesuai lukamu lalu kau praktikkan.

Pokoknya saya sih malu kalau nyuruh-nyuruh membaca, saya sendiri tidak pernah baca. Saya malu, kalau menyuruh-nyuruh orang bersabar, tahu-tahu pas macet saya ini orang yang paling keras klaksonnya.

Atau jam tiga ngomong di speaker, mari tahajud. Iya bagus itu, tapi saya pasti tidak mau, malu saya, karena orang-orang jadi pada tahu saya tahajud. Saya setuju, yang penting niatnya, tapi kan siapa yang bisa menahan orang kalau sudah bebas menafsirkan?

Apa karena takut terpeleset jadi riya’?

IMG_2076

Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1990. Foto: Silvia Galikano

Tidak juga, atau iya juga bisa. Tapi kalau saya dikenal sebagai orang brengsek di masa muda, kok dulu saya malah nyaman ya? Nyaman karena saya merasa itu cuma tuduhan, aslinya sih tidak. Aslinya sayang ke ibu, solid ke teman.

Anehnya kalau saya dikenal sebagai orang baik, malah tidak nyaman, maksudnya, saya tidak nyaman karena itu cuma tuduhan, aslinya sih tidak. Aslinya sih suka mencuri jambu.

Malahan kalau saya dibilang brengsek, terus sayanya brengsek, orang harusnya sudah bisa maklum dong, tapi kalau saya yang brengsek ini berbuat baik, orang akan bilang, “Ngga nyangka ya, bisa baik juga.”

Kalau dikenal, atau menunjuk-nunjukkan diri saya ini orang baik, itu malah bikin cemas, soalnya pas ketahuan saya ini brengsek, orang-orang akan bilang:”Sialan, gua ketipu”. Maksudnya, bukan berarti kamu harus brengsek, tapi jangan menunjuk-nunjuk bahwa kamu itu baik juga.

Apa kenangan khusus Anda di bulan Ramadan?

Waktu kecil membangunkan orang sahur bersama kawan-kawan. Saking semangatnya, jalan sampai jauh, tahu-tahu sudah imsak, saya sendiri akhirnya tidak sahur. Kesal.

Jangan-jangan kalau saya berdakwah saya akan begitu juga, menyerukan kebaikan tapi lupa melakukannya. Jangan-jangan tanpa bisa saya sadari kejadian itu sudah di-setting oleh Allah untuk mengingatkan jangan sampai kau mengajak kebaikan tapi kau sendiri lupa melaksanakannya.

Anda meyakini tak ada yang kebetulan, atau sebaliknya, semesta adalah rangkaian kebetulan demi kebetulan?

Untitled

Pidi Baiq & yours truly. Foto: Ranny.

Saya  percaya dengan adanya kebetulan. Setiap unsur di alam semesta ini, dari bakteri sampai matahari, kan berseliweran, jika kemudian bertabrakan maka itu kebetulan. Kebetulan saja waktunya sama, pas dia datang yang lain juga datang. Selama ini jangan-jangan kita ini selalu mencari adanya kebetulan, yaitu kebetulan yang akan baik buat kita dan semuanya. Tapi kayaknya iya deh.

Saya menyebut yang sedang seliweran itu adalah kesempatan. Tinggal tergantung kita mau bagaimana dengan itu. Atau jangan-jangan kesempatan itu adalah apa yang dimaksud dengan rizki. Rizki itu bukan cuma uang menurut saya, tapi kesempatan.

Bagaimana usahamu meraih kesempatan itu akan berpengaruh besar dengan apa yang kau dapatkan. Kamu pernah dengar, kalau bangun siang nanti rizkinya dipatok ayam. Maksudnya dengan kamu tidur itu, maka kamu tidak punya kesempatan untuk mendapat banyak hal yang baik. Tapi buat saya sih, kalau misalnya saya bangun siang terus rizkinya dipatok ayam, tidak apa-apa, nanti ayamnya saya makan!

Semua yang terjadi, yaitu yang kita dapatkan, tentunya disebabkan adanya usaha. Kalau saya berusaha bertemu kamu tapi kamunya malas, tidak akan bertemu karena usahanya cuma sepihak. Mungkin itu sebabnya ada orang rajin yang meminta orang malas untuk rajin, biar sinergi dengan dirinya.

Munculnya angka 9 di monitor. Angka 9-nya kan sudah tertulis di dalam sistem kalkulator. Hanya akan muncul kalau kita mengikuti mekanismenya, yaitu dengan menekan tombol 5 + 4, atau berapa yang kalau dijumlahkan hasilnya 9. Ah, soal ini, saya jadi ingat dengan apa yang disebut dengan Lauhul Mahfuz.

***
Dimuat di CNNIndonesia, 30 Juni 2016

 

Pidi Baiq: Lebih Nyaman Jadi Ikan di Empang

IMG_2057

Pidi Baiq. Foto: Silvia Galikano

Nama Pidi Baiq dikenal bersamaan band bentukannya tahun 1995, The Panasdalam, dengan lirik dan tema yang tak biasa. Tentang cinta sepihak (Sudah Jangan Ke Jatinangor), kepala sekolah meninggal (Kepala Sekolah Is Death), kekasih menuntut seks dengan macam-macam modus (Kelamin Uber Alas), hingga bertanya kabar penyanyi cilik tahun 1970-an, Chicha Koeswoyo (Chicha In Nostalgia).

Karyanya berlanjut lewat buku-buku yang, sekali lagi, tak biasa. Dari seri Drunken (2008) sampai Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 (2014) dan Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 (2015).

Film pertama besutan Pidi, Baracas (Barisan Anti Cinta Asmara) kini tengah proses editing. Dan film ke-dua, Dilan, bersiap di belakangnya.

Pertengahan Mei lalu, CNNIndonesia.com menemui Pidi Baiq di Rumah The Panasdalam di Bandung. Dia bercerita banyak hal, dari tema lagu hingga soal keagamaan. Perbincangan tersebut kami bagi menjadi dua bagian, berikut bagian pertama:

Anda sadar, pesan dalam karya-karya Anda menginspirasi banyak orang?

drunken

Drunken Monster. Foto: Istimewa

Ah, pesan apa? Saya kan asal ngomong.  Perasaan, saya tidak kasih pesan apa-apa. Orangnya saja yang sensitif, yang dengarnya saja ge-er merasa sedang dinasihati. Itu sama dengan misalnya, sekarang saya sedang bicara membahas animal planet, ambil contoh tentang monyet, ternyata ada orang yang tersinggung. Dia itu ge-er, merasa saya lagi ngomongin dia. Enak aja! Padahal saya murni sedang bicara tentang monyet. Ngapain ngomongin dia. Gak rame!

Bisa jadi itu berkah dari orang yang melebih-lebihkan. Kata-kata biasa, pakai dimaknai segala. Jangan-jangan biasa juga hidup ini, permainan belaka, orang saja yang mengemasnya jadi sok iye. Jadi ilmiah karena diilmiah-ilmiahkan. Seperti buku Dilan itu. Orang bilang itu novel, jangan-jangan bukan, tapi waktu saya menulisnya gak kepikiran mau bikin novel.

Anda, sebagai Imam Besar The Panasdalam, membubarkan The Panasdalam Fans Club tahun 2011. Mengapa tindakan ini Anda ambil? Tidak takut kehilangan penggemar?

Buat saya, tidak perlu lagi ada batasan bahwa saya sesuatu yang lain yang lebih baik dari mereka. Kalau penggemar adalah yang pada berdiri di trotoar, teriak-teriak bawa bendera, mengelu-elukan idolanya yang sedang berjalan sambil melakukan sun jauh untuk mereka, saya ingin mereka ikut ke jalan bareng-bareng bersama The Panasdalam.

Ketika saya merasa kalian istimewa dan kalian menganggap saya ini istimewa, itu artinya sama, mengapa harus ada batas itu? Terus mereka marah karena The Panasdalam Fans Clubnya saya bubarkann.  Ya sudah. Gara-gara itu kalau saya dijauhi, ya tak apa-apa, daripada saya jadi idola tapi malah membuat batas.

Atau jangan-jangan, pada dasarnya, kenapa saya bubarin, lebih karena saya merasa tidak punya mental jadi idola, saya suka merasa geli kalau diidolakan. Saya juga merasa tidak punya mental untuk siap jadi pemusik, makanya suka gimana gitu rasanya kalau ada yang bilang saya pemusik.

Saya juga tidak punya mental untuk siap disebut sebagai penulis.  Saya juga merasa gak siap dan gak pantas disebut seniman. Saya sih hamba Allah.

Apakah sejak awal tak disadari bahwa konsekuensi bermusik, menulis, dan punya komunitas adalah jadi terkenal?

al asbun

Al-Asbun: Manfaatulngawur. Foto: Goodreads

Semua orang ingin diketahui. Setiap orang berkembang sesuai waktu, setiap orang mengalami tahapan-tahapan perkembangan. Saat muda dulu, waktu kuliah tahun pertama dan ke-dua, saya merasa jadi orang yang…ingin diketahui oleh orang banyak.

Tapi lama-lama, oleh itu, saya merasa jijik sendiri, rasanya kok kampungan ya? Entah apa kata-kata yang tepat untuk itu, pokoknya saya tidak merasa menjadi orang yang nyaman dengan menjadi kayak gitu.

Waktu SMA saya selalu memilih jalur sunyi. Saya tidak mau berada “di sana”, di “wilayah mereka”.  Tidak mau berada di sana ikutan horai-horai di acara Porseni. Saya ingin berada di wilayah sendiri, yang sunyi, bersama orang-orang tertentu yang mau bersama saya.

Jangan-jangan, itu dia awal mengapa sekarang saya jadi gini. Ketika pernah terjebak oleh situasi ingin terkenal, tiba-tiba otak saya langsung memanggil untuk kembali ke basic pemikiran saya waktu SMA, ke karakter saya yang sebenarnya. Saya juga sebenarnya, kalau harus jujur, gak suka diwawancara, kecuali bukan untuk dipublish.

Kenikmatan apa yang Anda cari dengan memilih jalur nonmainstream begini?

Lautan itu indah, ikannya warna warni, dan banyak bikini di pantainya. Tapi saya tahu diri, saya ikan air tawar, jika ke sana nanti mati. Saya memilih empang, betapapun itu kecil, tapi itu tempat yang nyaman. Cocoknya buat saya.

Ini soal tahu diri sih sebenarnya. Bukan membenarkan diri saya yang memilih empang dan bukan mau menyalahkan cumi-cumi yang ada di lautan.  Tapi akan menyalahkan saya kalau saya yang ikan air tawar memaksakan diri masuk ke laut.

Lautan bisa nikmat buat hiu, bisa nikmat buat paus dan anjing laut. Empang juga bisa nikmat buat lele, gabus, dan ikan sepat. Tiap tempat ada risikonya sendiri. Kalau sudah memilih empang, harus siap kalau ada yang memasukkan portas, mudah-mudahan tak ada.

Kalau sudah memilih empang harus siap dengan semua kenyataan yang bersangkut paut dengan dunia keempangan. The Panasdalam atau saya, malah tidak memilih muncul ke permukaan, jadi oleh itu saya bisa bilang The Panasdalam tidak akan pernah cemas tenggelam, karena memang selama ini selalu ada di bawah.

Kapan Anda dapatkan ungkapan-ungkapan barusan?

at twitter

At-Twitter: Google Menjawab Semuanya, PidiBaiq Menjawab Semaunya. Foto: Goodreads

Tidak tahu, jadi saja. Asal ucap. Tapi ngomong soal ungkapan,  iseng-iseng saya pernah buka Google, di situ ada quote Pidi Baiq. Saya kaget, Wah, saya pernah meng-upload ini 5 tahun yang lalu. Saya lupa. Ngapain ya saya upload ini? Bingung.

Terus, ada rekaman twit saya yang berisi quote saya. Eh ini kata-kata saya ya? Oh benar. Iya! Saya lupa! Jadi segera saya salin, saya simpan untuk dikumpulkan. Saya senang ada akun twitter @pidibaiquotes, itu punya kawan, khusus mendokumentasikan ungkapan-ungkapan saya.

Sebetulnya saya sendiri heran dengan saya, yang suka memikirkan banyak hal yang tak perlu, terutama di lingkungan terdekat saya. Itu betul-betul saya merenung hal-hal yang tidak perlu, soalnya orang lain mah tak akan mau, tak ada untungnya.

Anak saya pernah bertanya, mengapa nyamuk  suka bunyi di kuping dan menggigit? Saya jawab, mereka lagi demo, nuntut minta obat. Coba kasih, mereka pasti langsung diam. Saya suka analogi-analogi macam itu.  Saya suka metaphora-metaphora-an buat perbandingan analogis. Ya sudah, tiap orang punya kesenangan, dan kesenangan saya ya itu.

Bagaimana terciptanya Dilan? Sebelumnya Anda tahu teori menulis novel?

Tidak. Kalau tahu teorinya, saya yakin buku itu tidak akan jadi. Orang macam saya kalau mengikuti teori malah jadi bingung. Kalau saya mengikuti teori maka saya akan jadi tawanan teori itu.

Untuk konteks Dilan, awalnya saya cuma mau cerita tentang ada dua anak SMA, dulu, di Bandung tahun 1990. Keduanya pacaran. Ketika itu jadi buku, orang-orang menyebut itu novel, saya terkejut karena saya merasa tidak tahu kaidah-kaidah menulis novel .

Ini bisa sama dengan, awalnya saya cuma ingin menulis sesuatu yang banyak tapi dengan kata-kata sedikit. Tahu-tahu ketika itu jadi, orang menyebutnya puisi. Lho? Padahal saya tidak tahu kaidah-kaidah menulis puisi.

Saya ini tidak tahu apa-apa dan saya berterima kasih kepada saya yang tidak tahu apa-apa jadi saya bisa seenaknya. Jadi kalau disalahkan, saya punya alasan, kan saya tidak tahu apa-apa.

Jadi jangan harap saya akan mengaku saya ini adalah penulis. Karena saya tidak tahu kaidah-kaidah menulis. Atau jangan-jangan saya tidak mau mengaku sebagai penulis lebih karena kuatir kalau tulisan saya jelek nanti malu.

Apakah Anda menulis untuk mengungkapkan sesuatu, keresahan misalnya?

IMG_2076

Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1990. Foto: Silvia Galikano

Orang bilang menulis untuk mengungkapkan kata hati. Mungkin mereka benar, berarti saya salah, karena saya menulis untuk mendengarkan kata hati.

Saya sedang mendengar perasaan saya ketika sedang menulis kisah Dilan dan Milea. Saya sedang mendengarkan perasaan saya ketika sedang menulis tentang hantu. Ketika perasaan saya jadi tidak enak, saya berhenti menulisnya.

Jadi, kalau misal tulisan saya tidak dianggap ya tidak apa-apa karena tujuan awal saya menulis juga untuk mendengar kata hati saya, bukan untuk mendengar ocehan hati orang yang di luar diri saya. Bahwa kemudian saya tulis, itu karena saya merasa bahwa waktu akan membuat saya lupa, tapi yang saya tulis akan membantu mengingatnya. 

Apa bacaan Anda waktu SD dan SMP?

Koran.  Ayah saya langganan semua majalah dan koran. Ibu dan kakak sering bawa novel dari sekolah ke rumah. Mungkin biar gagah ya, ternyata tidak mereka baca, malah saya yang baca.

Yang pertama saya baca adalah Layar Terkembang. Saya juga baca Kooong karya Iwan Simatupang, karya-karya Idrus, Robohnya Surau Kami – A.A. Navis, Atheis – Achdiat Karta Mihardja.

Kelas 3 SMP saya baca Tiga Menguak Takdir. Ini tentang kasus Sutan Takdir Alisjahbana, masalah kubu sastra Indonesia waktu itu. Saya pusing baca itu, tapi menarik karena jadi tahu sastra itu ternyata bisa menyebabkan orang saling berseteru.

Bacaan itu sangat mempengaruhi saya. Waktu itu masih mesin tik, saya sampai menulis mengikuti gaya Sutan Takdir. Sama persis. Itu, SMP kelas tiga.

Kelas 2 SMP saya sudah bikin kumpulan puisi, dibagi-bagi ke teman-teman. Jangan lihat kualitas puisinya tapi motivasi dan minat saya terhadap sastra sangat besar walaupun akhirnya tidak menjadi seorang sastrawan, yang penting kan minatnya.

Kalau zaman saya muda, saya senangnya baca Nietzche, Jean-Paul Sartre, Karl Marx, Buya Hamka, oh, saya sangat senang membaca terjemahan Al-Quran. Itu setiap mau tidur.

Lantas mulai kapan Anda memilih jalan nyeleneh begini?

dilan

Dilan. Dia adalah Dilanku Tahun 1991. Foto: Goodreads.

Sesungguhnya kehidupan ini  hanyalah permainan dan senda gurau, kata Quran . Saya setuju, tapi kenapa sekolah serius ya? Saya kaget. Akhirnya lahirlah quote “Sesungguhnya hidup ini senda gurau. Sekolahlah yang telah menyebabkan kita jadi serius.”

Dulu, ratusan tahun yang lalu anak-anak pada pergi ke luar rumah, menyambut bulan purnama bermain di halaman, pakai sarung, menari-nari. Mereka cuma ingin bersenang-senang. Mereka melakukan hal itu lebih karena adanya dorongan bermain. Tapi ratusan tahun kemudian kebiasan anak-anak itu dimasukan ke dalam kategori sebagai seni tari.

Bayangkan, apakah anak-anak itu, sebelum keluar untuk nari-nari di halaman rumah itu, mereka berkumpul untuk membuat tulisan “Maksud dan Tujuannya” dulu? Saya sih yakin tidak. Ah kebayang mereka menulis: “Kami berkumpul di bawah sinar bulan purnama untuk menciptakan tari serimpi agar Indonesia memiliki kebudayaan tinggi yang, karena dungu, kelak kemudian hari diklaim oleh Malaysia.” Saya yakin tidak!

Pada dasarnya saat saya melukis, atau pada saat saya bikin lagu, ini kalau saya, saya tidak pernah berpikir bahwa itu untuk tujuan membuat karya seni atau untuk menjunjung tinggi seni dan budaya . Saya tidak mau pusing soal itu. Bukan urusan saya. Saya tidak tahu kaidah seni, itu urusan kurator.

Saya melukis karena saya mau menorehkan cat di atas kanvas atas dasar adanya dorongan bermain, dan ada waktu juga, dan ada mau juga. Malahan saya pernah bilang ke orang: Jangan-jangan saya menulis karena saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

Saya merasa motivasi saya melukis adalah karena dorongan bermain, ya betul sih main-mainin cat, karena ada waktu, karena ada mau, karena ada nyawa. Benar.

Tidak sama sekali pernah terpikir, saya mau melukis demi perkembangan seni lukis di Indonesia, atau ah, saya mau melukis yang kanvasnya dimiringkan, biar jadi seni, biar nyeni. Piguranya dibengkokkan biar kreatif karena beda dari yang lain. Demi Tuhan, kalau saya sampai berpikir begitu, maka saya akan merasa termasuk ke dalam orang-orang yang lebay.

Mungkin orang yang bilang seseorang itu nyeleneh karena didasari oleh dirinya yang sudah terjebak dalam kehidupan yang terlalu formil, hidupnya itu sudah tersita oleh norma-norma masyarakat yang beku dan kaku sehingga dia tidak bisa menerima lagi kalau ada orang yang bermain-main.

Anda nyaman menjadi nyeleneh karena orang-orang besar di dunia juga nyeleneh?

Thomas Alva Edison, Jean-Paul Sartre juga pada masanya adalah orang-orang yang dianggap nyeleneh, saya yakin mereka tidak ada maksud ingin dibilang nyeleneh. Tapi memang begitu, ada yang bilang katanya: orang jenius itu pada masanya dianggap gila.

Nabi Muhammad SAW juga oleh orang quraisy, dulu disebut nyeleneh, bahkan orang-orang jahiliyah itu menyebut nabi Muhammad itu gila. Semua nabi rasanya emang nyeleneh, makanya pasti diusir oleh masyarakatnya di waktu itu.

Nabi Adam diusir oleh Allah karena melanggar apa yang dilarangnya. Kita sih tidak mau diusir masyarakat ya? Maka kita harus penuh basa-basi, harus penuh kamuflase, biar aman ya?

Dulu saya sempet terpikir, kalau pemilihan nabi pada masa Rasulullah dilakukan dengan cara Pemilu, gawat, ini gawat, saya yakin Rasulullah pasti kalah, yang menang pasti Abu Jahal, karena pengikut Rasulullah pada saat itu baru sedikit.

Kalau saya bawa CD Kangen Band dan CD Rolling Stones ke ibu-ibu di daerah, maka 7 juta ibu-ibu akan memilih CD Kangen Band. Tapi oleh itu, tidak berarti kualitas Rolling Stones bisa diruntuhkan oleh Kangen Band.

Ini pendapat saya, jangan marah ke saya, saya juga tidak akan marah ke orang yang berbeda pendapat dengan saya. Mudah-mudahan kita semua sumbunya tidak pendek, mudah-mudahan kita semua ini adalah orang-orang yang mau dialog, bukan orang-orang yang asal marah bahkan sampai membakar tempat ibadah.

Bersambung ke Pidi Baiq: Tanpa Aksi Nyata, Agama Jadi Omong Kosong

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 30 Juni 2016

Untitled

Pidi Baiq & yours truly. Foto: Ranny.