Ashadi, Artisan Pisau dari Parakan

IMG_1611

Jenis-jenis pisau produksi Ashadi. (Foto: Silvia Galikano)

Oleh Silvia Galikano

Parakan memiliki seorang artisan pisau bernama Ashadi, 64 tahun, berumah di Jalan K.H. Subkhi, Kauman, Parakan.

Kekhasan karyanya adalah rapi dengan pertemuan tiap bagian kayu presisi, rapat, nyaris tampak seperti satu bagian. Kayu berbahan jati londo, kayu mangga, hingga tigerwood dia potong dengan rancangan yang muncul begitu melihat rupa kayu dan alur seratnya.

Untitled

Ashadi. (Foto: Silvia Galikano)

Berangkat dari hobi, juga diinspirasi komik favoritnya dari tahun 1950-an, Wiro Anak Rimba Indonesia yang ditulis Kwik Ing Hoo (1931-2010) dengan karakter utama Wiro yang selalu menyelipkan pisau di pinggang. “Pisau Wiro itu kan bagus. Saya suka.”

Ashadi pertama membuat pisau saat di bangku SD bersamaan dengan pecah peristiwa G30S. Hal yang umum ketika itu laki-laki bergantian jaga malam, dan tiap yang berjaga perlu mempersenjatai diri. Ashadi pun mengikir ulang sebilah pisau kecil berkarat, lalu dia beri gagang dan sarung. Pisau ini sekarang sudah hilang.

Baru pada 1970 Ashadi membuat pisau ke-2, sepanjang 20 cm. Sejak itu dia terus memproduksi pisau hingga pada 1990-an, mulai banyak orang tahu pisau buatan Ashadi dan memesan.

Tidak seluruh bagian pisau dia buat sendiri. Ashadi memesan mata pisau ke pandai besi dengan desain yang dia tentukan. Dia punya beberapa langganan pandai besi di Magelang dengan spesialisasi masing-masing, yakni dalam hal membentuk besi dan membuat sepuhan.

Umumnya bilah pisau dibuat dari per mobil, lakher, pernah juga dari bom peninggalan Jepang. Ashadi menggambar sendiri di bilah besi, tanpa pola. Baru kemudian dia membuat gagang dan sarung pisau yang sesuai dari tumpukan kayu yang ada di bengkel kerjanya.

 

Kemampuannya bertukang diasah saat muda bekerja di perusahaan pengolahan kayu di Kalimantan. Sekembalinya ke Parakan, dia mengerjakan pesanan mebel, seperti lemari, tempat tidur, dan yang paling sering adalah pintu. Namun sekarang dia sudah tidak lagi mengerjakan mebel, hanya membuat pisau.

“Sudah tidak kuat ‘masrah (mengetam, menyerut). Walau ada mesin, tapi kan bagian yang kecil tetap di-pasrah,” ujar Ashadi.

Dia membuat pisau besar hingga kecil. Dari pedang untuk memotong sapi atau kambing hingga pisau taji ayam jantan aduan sepanjang 3 cm. Lama pengerjaan tiga hari untuk pisau besar, dan satu hari untuk pisau kecil. Semua dikerjakan tanpa perlu laku khusus.

IMG_1615

Ashadi di bengkel kerjanya. (Foto: Silvia Galikano)

Rumah Dua Langgam di Lereng Sindoro

IMG_1721

Bagian belakang rumah Tionghoa. (Foto: Silvia Galikano)

 

Bangunan ini jadi perhatian karena keindahannya terpelihara. Berdiri di kawasan Pecinan Parakan yang menyimpan banyak rumah lama dan cerita sepanjang jalan.

 

Oleh Silvia Galikano

“Rumah Gambiran” jadi sebutan umum, mengacu lokasi jalannya di Jalan Gambiran, Parakan. Julukan lain, “Rumah Bhante”, karena sejak 2006 dimiliki Ekayana Buddhist Centre yang dikepalai Bhante Aryamaitri (bhante = biksu).

Rumah Gambiran adalah dua rumah dengan dua langgam dengan dua arah hadap saling berpunggungan. Keduanya dipisahkan courtyard. Rumah Indis menghadap selatan ke Jalan Demangan dan rumah Tionghoa menghadap utara ke Jalan Gambiran.

Di atas pintu utama rumah Tionghoa terpasang papan bertuliskan empat karakter, “Yuanfa Chanyuan”. Dua pertama, yakni “Yuanfa”, mengacu pada nama guru Bhante Aryamaitri, sedangkan “Chanyuan” berarti “Aula Meditasi”. Nyanyian Buddha dimainkan sepanjang hari sepanjang malam, memberi atmosfer tenang bagi yang berdoa.

 

Total ada 24 kamar tidur yang tersebar di rumah Indis, di rumah Tionghoa, sederet di sayap timur, dan sederet di sayap barat. Ada dua sumur timba yang terhubung ke dua kamar mandi (sekarang sudah dipasang pompa air berikut pemanas air) di courtyard dan satu sumur di halaman depan rumah Indis.

Kamar-kamar tidurnya dilengkapi tempat tidur kuno, lemari kuno, dan, ini yang unik, pispot kuno. Menurut Yenny, pengurus Rumah Gambiran, fungsinya semata-mata hiasan karena Bhante Aryamaitri punya perhatian besar pada barang-barang antik.

Walau begitu, bisa dibayangkan pada masa lalu ketika belum ada listrik, sebuah tantangan besar untuk keluar kamar pada tengah malam, pergi ke kamar mandi yang adanya di luar, menembus udara dingin Parakan, untuk buang air kecil. Sehingga keberadaan pispot di sudut kamar tentu sangat membantu.

 

Tak ada catatan tahun berapa rumah Indis dibangun, diperkirakan akhir 1800-an. “Yang jelas, tahun 1890 sudah ada,” ujar Sutrisno Murtiyoso pada awal Maret 2017 di Parakan. Sutrisno Murtiyoso adalah arsitek yang membuat kajian Rumah Gambiran untuk buku Chinese Houses of Southeast Asia (2010) yang ditulis Ronald G. Knapp.

sumur

Sutrisno Murtiyoso. (Foto: Silvia Galikano)

Langgam Indis yang merupakan paduan gaya Belanda, Jawa, dan Tionghoa tampak dari langit-langit tinggi, ventilasi banyak, teras luas, dan kerai di teras. Walau kini kerai sudah tidak dipasang, namun besi tempat melilitkan tali kerai masih ada di kolom teras.

Yang menarik, rumah Indis menghadap Gunung Sindoro; serta pintu gerbang, pintu depan, dan pintu belakang rumah berada dalam satu garis lurus. Padahal menurut fengshui, membangun rumah menghadap gunung (membelakangi laut) adalah pantangan, juga meletakkan pintu belakang satu garis dengan pintu depan yang dipercaya membuat rezeki yang masuk bakal langsung lolos keluar.

“Karena generasi awal tidak paham benar fengshui, kecuali untuk pemakaman. Jadi yang diterapkan hanyalah mencontoh kebiasaan di kampung halaman,” ujar Sutrisno.

Parakan adalah kota kecamatan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah di lereng gunung Sindoro-Sumbing. Ketika pecah Perang Jawa pada 1825, penduduk Kadipaten Menoreh yang dibumihanguskan Belanda dan adipatinya terbunuh, menyelamatkan diri ke Temanggung yang berjarak 10 kilometer. Seusai perang, Parakan menjadi pusat kegiatan perdagangan kembali. Masa inilah terbentuknya Parakan sebagai kota, yakni tempat konsentrasi penduduk, kekuasaan, dan ekonomi.

 

 

Kaum Tionghoa, para bekas pengikut Pangeran Diponegoro (kaum pendherek), warga asli desa Parakan, dan warga sekitarnya jadi empat kelompok pendiri Kota Parakan. Semua di bawah kekuasaan dan pengawasan pemerintah jajahan Belanda.

Kelompok Tionghoa menghuni kawasan di sekeliling penguasa tertinggi setempat, yaitu Demang Parakan, sedangkan bekas pasukan Diponegoro memilih kawasan di sebelah baratnya. Sebagai pendatang, kedua kelompok ini mengisi lahan-lahan kosong di antara desa-desa lama, dan dalam waktu singkat dapat menyatukan beberapa desa lama itu menjadi satu kawasan perkotaan yang utuh.

 

 

Di antara generasi awal Tionghoa Parakan adalah Siek Hwie Soe dari Provinsi Shanxi, Tiongkok, yang mendarat di Parakan pada 1821, empat tahun sebelum pecah Perang Jawa. Pemuda energetik ini jadi anak buah pengusaha kaya Loe Tjiat Djie, lalu menikahi puterinya. Bisnis Loe Tjiat Djie adalah impor gambir sebagai salah satu perlengkapan mengunyah sirih.

Saat pulang kampung ke Tiongkok pada 1840, Siek Hwie Soe mengajak keponakannya, Siek Hwie Kie, untuk bergabung dengannya mengelola usaha yang sedang berkembang di Parakan. Siek Hwie Soe pada akhirnya menggantikan kedudukan sang ayah mertua.

Siek Hwie Soe wafat pada 1882 dan mewariskan banyak rumah yang saling berdekatan di Jalan Gambiran. Perusahaan pun dibagi dua, Hoo Tong Seng Kie di Semarang dan Hoo Tong Kiem Kie di Parakan. Perusahaan Semarang ditangani Siek Tjing Liong, putra Siek Hwie Soe. Perusahaan Parakan dikelola Siek Tiauw Kie yang diajak ke Parakan pada 1840 dalam usia 19 tahun, untuk membantu pamannya.

Siek Tiauw Kie punya beberapa istri orang Tionghoa di Parakan, dan punya tiga putra kelahiran 1860-an, yakni Siek Kiem Tan, Siek Oen Soei, dan Siek Kiem Ing. Ada yang mengatakan dia juga punya satu-dua istri di Tiongkok. Putra-putranya juga semua bersekolah di Tiongkok dan lebih lancar bicara bahasa Hokkien dibanding Bahasa Melayu yang umum digunakan di Parakan.

IMG_20170303_165936

Pispot tersedia di tiap kamar. (Foto: Silvia Galikano)

 

Siek Tiauw Kie wafat di laut pada 1890-an dalam perjalanan kembali dari Tiongkok ke Parakan. Keluarganya kemudian mengembangkan bisnis ke perdagangan beras dan tembakau.

Dalam Chinese Houses of Southeast Asia dituliskan, ketika Tiauw Kie meninggal, kemungkinan rumah Indis sudah dibangun untuk memenuhi kebutuhan keluarga besar keluarga Siek. Dan seperti umumnya rumah Indis, selain bangunan utama terdapat pula service area di rusuk rumah.

 

Rumah baru bergaya Tionghoa, menghadap utara, dibangun kemudian pada 1905, berpunggungan dengan rumah Indis. Saat membangun rumah Tionghoa inilah, service area yang sebelumnya ada di rusuk rumah diganti jadi kamar-kamar tidur, merentang dari ujung halaman depan rumah Indis hingga ke ujung halaman depan rumah Tionghoa.

Di bagian timur rumah hingga kini masih ada kolam dengan tangga turun yang dulunya adalah kolam untuk memandikan kuda, karenanya tentu dahulu ada pula istal kuda di sini. “Tapi tidak tahu istal itu letaknya di mana. Bisa saja yang sekarang jadi kamar-kamar tidur,” kata Sutrisno.

IMG_20170303_171642

Rumah Indis menghadap gunung Sindoro. Dahulu gerbang juga segaris dengan pintu masuk dan pintu keluar. (Foto: Silvia Galikano)

 

Rumah Tionghoa dibangun pada masa kebangkitan identitas Tionghoa. Orang-orang sukses memamerkan kekayaan mereka secara mencolok dengan membangun rumah megah, berpakaian mewah, punya kendaraan, aktif berkesenian, serta menyumbang dalam jumlah banyak saat menghadiri pernikahan, kematian, dan perayaan Sincia.

Pada masa inilah fengshui mulai diterapkan. Rumah baru dibangun membelakangi gunung dan menghadap utara ke arah laut, walau tak tertutup kemungkinan menghadap Tiongkok di kejauhan. Pintu pagar depan rumah Indis pun digeser sedikit ke barat sehingga tak lagi segaris dengan pintu rumah.

 

Walau awalnya dua rumah itu milik tiga putra Siek, namun akhirnya cuma ditempati Siek Oen Soei, empat istrinya, serta anak-anak dan cucu-cucu. Dua saudaranya membangun rumah sendiri, satu di seberang jalan dan satu lagi agak jauh, di Jalan Sebokarang, Parakan.

Pada masa tuanya, Siek Oen Soei bersama istri termuda dan paling dia favoritkan, Soen Hae Yong, dan seorang cucu perempuan pindah ke sayap barat. “Di sini kita lihat pengaruh Jawa,” kata Sutrisno. “Orang sepuh tidak lagi tinggal di bagian utama rumah, pindah ke bagian barat mendekati matahari terbenam. Budaya Tionghoa tidak mengenal ini.”

IMG_20170303_165809

Ruang tengah rumah Indis. (Foto: Silvia Galikano)

 

Setelah kematian Siek Oen Soei  pada 1948, rumah itu diberikan kepada putra bungsunya, Siek Bien Bie. Namun keluarga Ben Bie kemudian boyongan ke Batavia saat negeri kacau akibat agresi militer Belanda, 1947 dan 1948.

Dalam keadaan kosong, rumah ini serta 2-3 rumah lain di Parakan jadi tempat pengungsian ketika kota-kota di sekitarnya dibumihanguskan Belanda. Menurut Sutrisno, Parakan relatif aman hingga dapat dijadikan kamp pengungsian berkat eratnya hubungan Tionghoa Parakan dan TNI sejak zaman perjuangan, dalam bentuk, antara lain, mengirim obat-obatan dan uang.

 

Selama setengah abad kemudian, rumah keluarga Siek tidak ditempati, hanya diurus orang yang dipercaya untuk merawat. Pada 2006, rumah ini dibeli Ekayana Buddhist Centre, mengalami renovasi hingga akhir 2007 dan diresmikan sebagai Prasada Mandala Dharma saat Sincia pada Februari 2008.

Prasada Mandala Dharma kini digunakan sebagai tempat pelatihan dan retret jemaat wihara dari berbagai kota, bahkan luar negeri. Thích Nhất Hạnh, bhiksu Prancis kelahiran Vietnam, pernah datang, bahkan membuat dua kaligrafi yang dapat dilihat di dinding di belakang altar rumah Tionghoa, bertuliskan “Enjoy your walk” dan “Be still and know”.

***
Dimuat di majalah SARASVATI edisi April 2017

Cover Edisi 41

IMG_1968

Guru (duduk, baju hitam) dan murid-muridnya.

Hotel Candi Baru, Semarang

 IMG_2085

Beralamat di Jalan Rinjani 21 Gajahmungkur, Kota Semarang.
Hotel berlantai dua ini dibangun pada 1919, bergaya art deco. Terdiri dari 30 kamar, masing-masing berukuran 25 hingga 100 meter persegi.

Lantai bermotif geometris warna-warni, sebagian besar mebeler lama, tiap kamar punya teras sendiri berisi sepasang kursi dan meja, serta meja kerja. Terhubung ke area lobi adalah ballroom yang dapat disewa.

Menu sarapan hanya tersedia dua jenis, roti bakar atau nasi goreng, dan akan diantar ke kamar pada jam yang kita pesan berikut satu teko teh atau kopi. Tidak ada sarapan secara prasmanan seperti hotel pada umumnya.

Hotel ini berdiri di Candi Baru, permukiman yang pembangunannya ditangani Ir. Herman Thomas Karsten pada 1916 dan diperuntukkan bagi kaum ekspatriat. Karena lokasinya di perbukitan, dahulu tamu dapat melihat Kota Semarang dari lantai 2, namun sekarang sudah terhalang bangunan-bangunan tinggi.

Bangunan ini awalnya rumah tinggal milik Van Demen Wars, baru kemudian dijadikan hotel bernama Hotel Bellevue. Ketika Jepang masuk pada 1942, namanya berubah jadi Hotel Sakura. Dan saat Jepang angkat kaki, namanya kembali lagi jadi Bellevue, atau lengkapnya N.V. Hotel Bellevue.

Sempat dibeli perusahaan rokok penghasil merk Gentong (sigaret) dan Gotri (klobot), CV. Tik Hong Kongsi, pada 1949. Sepuluh tahun kemudian, perusahan ini berubah nama menjadi CV. Gentong Gotri.

Gonjang-ganjing politik pada 1960 disusul anjuran pemerintah untuk mengindonesiakan nama-nama asing, nama hotel pun berubah lagi menjadi Hotel Tjandi Baru sampai sekarang, kecuali perubahan ejaan menjadi Hotel Candi Baru.

Setelah dibeli dari perusahaan jamu Nyonya Meneer, sejak 2015, Hotel Candi Baru milik Sido Muncul.

IMG_2082

Pub di bagian belakang hotel, buka malam hingga dini hari. (Foto: Silvia Galikano)

Walau telah berkali-kali ganti pemilikan juga renovasi demi memenuhi kebutuhan gaya hidup modern, fasad klasiknya terus dipertahankan. Pada 4 Februari 1992, Hotel Candi Baru ditetapkan Pemkot Semarang sebagai bangunan cagar budaya.

ebay

Kartu pos 1930-an bergambar Hotel Bellevue. (Dok. ebay)

metrosemarang dotcom

Kondisi Hotel Candi Baru sebelum renovasi, tepi kanopi masih berhias gaya rococo. (Dok. metrosemarang)

hotelcandibaru dotcom

Hotel Candi Baru saat ini, renda-renda rococo sudah “dibersihkan”. (Dok. hotelcandibaru.com)

***
Dari kunjungan ke Semarang, 5-6 Maret 2017

Istana Bale Kambang dan Lakon Tragis Si Raja Gula

img_0237

Istana Balekambang, kediaman konglomerat Oei Tiong Ham. (Foto: Silvia Galikano)

 

Seabad lampau, kompleks ini adalah landmark Semarang. Sekarang, bahkan sulit untuk meraba gambaran utuhnya.

Oleh Silvia Galikano

Sekira empat tahun lalu, Oei Tjong Bo, 89 tahun, dan kakak perempuannya yang berusia 91 tahun, datang dari Thailand menemui Jongkie Tio, tokoh Tionghoa Semarang. Keduanya minta diantar napak tilas ke estate milik ayah mereka, Oei Tiong Ham di Semarang. Keduanya adalah anak Tiong Ham dari istri ke-7.

Oei Tiong Ham pada awal abad ke-20 adalah pemilik kebun tebu, pabrik gula, perbankan, dan asuransi, hingga mendapat julukan “Raja Gula”. Hartanya mencapai 200 juta Gulden hingga gelarnya bertambah jadi “Pria 200 Juta”.

 

Salah satu tempat yang Jongkie tunjukkan ke Oei Tjong Bo dan kakaknya adalah Istana Gergaji di Jalan Kyai Saleh, Semarang, kediaman Oei Tiong Ham pada awal 1900-an. Jongkie sudah akrab dengan rumah itu sejak 1967, sebab orangtuanya berteman dengan keluarga sang konglomerat.

Jongkie sempat melihat karakter Cina terpasang besar-besar di dinding dalam bangunan utama Istana Gergaji, pemandangan yang tak lagi dia jumpai saat mengantar dua anak Tiong Ham. Jongkie juga memperkenalkan mereka ke perempuan penghuni rumah besar di seberang Istana Gergaji, yang dulu adalah  karyawan Oei Tiong Ham.

Kompleks ini setidaknya punya empat sebutan, yakni Istana Oei Tiong Ham, Istana Gergaji, Kebon Rojo, dan Bale Kambang. Nama terakhir hingga kini masih dipakai sebagai nama perkampungan di bekas lahan milik Oei Tiong Ham.

Bermula dari perusahaan dagang Kian Gwan di Semarang yang didirikan sang ayah, Oei Tjie Sien, pada 1 Maret 1863. Oei Tiong Ham (1866-1924) mengembangkannya jadi kerajaan bisnis Oei Tiong Ham – Concern dengan bisnis utama ekspor gula pasir dan pemegang hak monopoli perdagangan candu (opium pachter) dari pemerintah kolonial Belanda.

Bukan Oei Tiong Ham yang membangun Rumah Gergaji. Pemilik semula adalah Hoo Yam Loo, pedagang yang mendapat hak monopoli perdagangan candu. Tak ada catatan atau pun plakat yang menerangkan tahun berapa gedung itu dibangun, tapi diperkirakan pada awal abad ke-19.

Ketika Yam Loo mengalami kerugian besar sehingga dinyatakan bangkrut, semua hartanya disita untuk kemudian dilelang pada 1883, termasuk rumah besar di Jalan Gergaji. Oei Tjie Sien dinyatakan sebagai pemenang lelang rumah. Lima tahun setelah Tjie Sien memenangi lelang rumah, Oei Tiong Ham, putranya yang saat itu berusia 22 tahun, pindah menempati rumah itu.

 

Kompleks Istana Oei Tiong Ham yang seluas 81 hektare (sama luasnya dengan Kelurahan Senen, Jakarta) terdiri dari rumah, kebun, dan beberapa bukit kecil. Dari perbukitan di taman, terlihat pemandangan kota bawah Semarang.

Terdapat pula gua-gua dan ratusan patung yang didatangkan dari Cina, gunung buatan dari batu karang, serta tempat-tempat khusus bagi pemain musik. Berbatasan dengan kompleks istana, membentang tanah miliknya sepanjang Oei Tiong Ham weg (Jalan Pahlawan sekarang), terus ke daerah Pandanaran, sampai Randusari.

Di antara kebun bunga dan kolam-kolam ikan, gazebo dibangun di salah satu permukaan yang tinggi untuk pengunjung beristirahat. Dari sinilah asal nama lain tempat ini, Bale Kambang, yakni dari “bale” (tempat) dan “kambang” (mengambang di atas air).

Jongkie Tio

Jongkie Tio. (Foto: Silvia Galikano)

 

Kebun binatang mini juga sangat menarik perhatian masyarakat waktu itu karena terdapat aneka macam binatang langka. Dan saat malam tiba, lampion yang didatangkan dari Cina, dinyalakan; burung-burung merak dilepaskan sebagai penjaga keamanan. Pada hari-hari raya Lebaran dan Sincia atau saat liburan, tempat ini selalu jadi tempat rekreasi masyarakat Semarang.

Oei Tiong Ham tak memperindah istananya dengan gaya arsitektur Cina seperti layaknya orang-orang Tionghoa kaya pada waktu itu. Dia tetap mempertahankan arsitektur kolonial, bangunan besar dengan kolom-kolom besar di teras; serta pintu, jendela, dan langit-langit tinggi, juga pintu gerbang indah dari besi.

“Langgam bangunan ini sangat disukai tuan-tuan tanah Eropa kala itu dan dikenal dengan sebutan landhuis. Oei Tiong Ham tak mengubah langgamnya, kecuali mempercantik, misal lantai diganti marmer tebal kualitas wahid dari Italia sehingga menyejukkan udara ruangan,” ujar Jongkie.

Rumah Gergaji terdiri dari satu rumah induk dan dua paviliun di kiri-kanan gedung utama yang dihubungkan lorong beratap. Dua paviliun masing-masing digunakan sebagai ruang makan dan untuk menjamu tamu. Tamu yang menginap ditempatkan di kamar-kamar berberanda luas yang ada di sekeliling rumah.

Beranda bangunan utama berisi meja-kursi, pot-pot bunga di atas kaki yang semua terbuat dari porselen Eropa dan Cina, serta patung-patung Eropa menempel di kiri kanan dinding teras. Setelah melewati pintu, terdapat sebuah ruangan luas dengan empat kamar  besar saling berhadapan. Di belakang ruang tersebut ada satu ruang luas dengan meja kursi dari bambu dan rotan tempat Oei Tiong Ham menerima tamu.

Di belakangnya lagi, terbentang kebun dan beberapa bangunan, yakni dapur dan ruang-ruang khusus untuk menyimpan bahan makanan, seperti daging, sayur mayur, dan ikan yang memerlukan pendingin agar dapat disimpan untuk beberapa waktu. Saat itu kulkas belum dikenal di Semarang, maka digunakanlah balok-balok es yang harus sering diganti. Di ruang tersebut dibuat pula saluran-saluran khusus untuk mengalirkan air lelehan es.

Perselisihan dengan pemerintah Hindia Belanda mengenai aturan pajak ganda serta hukum waris membuat Oei Tiong Ham meninggalkan Semarang pada 1921, pindah ke Singapura dan meninggal di sana tiga tahun kemudian setelah terkena serangan jantung. Dia dimakamkan di kawasan Simongan, Semarang, bersama ayahnya.

Setelah hampir 100 tahun berdirinya Oei Tiong Ham – Concern, pengadilan ekonomi di Semarang pada 10 Juli 1961 menyita seluruh aset kekayaan milik Oei Tiong Ham, termasuk istananya, dengan dakwaan melakukan praktik kejahatan ekonomi.

Sejak itulah, tanah luas bekas taman berubah menjadi perkampungan penduduk yang padat, diiris-iris jadi Jalan Kampung Balekambang gang I, gang II, dan seterusnya. Bukit-bukit di halaman sekarang masih tampak sebagian, berada di belakang kantor Polda di Jalan Pahlawan, sudah penuh dengan rumah rakyat.

Gedung utama, bangunan di sekitarnya, serta pekarangan sempat dijadikan Balai Prajurit dan asrama milik Kodam Diponegoro.  Selama bertahun-tahun itulah estate ini merana dan tak terurus hingga banyak bagian gedung yang rubuh, bahkan ubin marmer Italia yang terkenal pun lenyap dicongkel. Seluruh patung, hiasan, dan perabot antik di dalam istana hilang.

Pada 1980-an, keluarga Oei Tiong Ham datang ke gubernur Jawa Tengah saat itu, Soepardjo Rustam (periode 1974-1982), minta izin makam Tiong Ham dibongkar untuk dipindahkan ke Singapura.

 

Kini, kepemilikan bekas istana Oei Tiong Ham beralih ke pengusaha kelahiran Semarang, Budi Poernomo (Hoo Liem). Hanya saja, kompleks yang semula seluas 81 hektare, sekarang tersisa 8000 meter persegi, termasuk di dalamnya Rumah Gergaji. Oleh Budi Poernomo, Istana Oei Tiong Ham dipugar, difungsikan sebagai kampus Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Provisi dan laboratorium bahasa Study World.

Gedung utama yang sekarang disewakan untuk pertemuan atau resepsi pernikahan sudah berubah bentuk bagian dalamnya, jadi bergaya Versailles. “Dulu, waktu masih rusak, masih ada sisa-sisa peninggalan Oei Tiong Ham, masih ada karakter Cina besar-besar dari kayu di dinding ruang utama, tapi terus dijarah habis sebelum renovasi,” kata Jongkie.

 

Yang masih relatif sama adalah ruang belakang bangunan utama dengan daun jendela khas yang sekarang jadi tempat les balet; serta kamar mandi dengan bak yang konon dahulu di dasarnya tempat Oei Tiong Ham menimbun emas, perhiasan, dan hartanya.

Jongkie menunjukkan bagian unik lain, yakni talang air di atap belakang bangunan utama yang membentuk wajah manusia. Ada mata, hidung, dan mulut. Dari dulu sudah demikian bentuknya, hanya saja kerap luput dari perhatian.

***
Dimuat di majalah SARASVATI edisi Maret 2017

Sarasvati_Edisi_40

Cerita Gemilang Industri Gula Pasuruan

gedung-serbaguna-p3gi-14

Gedung Serbaguna P3GI dengan mesin giling tebu di halamannya. (Foto: Silvia Galikano)

Kota di tepi Selat Madura ini pernah mengalami kejayaan industri gula. Temuan besar pun dicetak di sini.

Oleh Silvia Galikano

Berawal dari upaya VOC pada permulaan abad ke-19 menyulap daerah Tapal Kuda Jawa Timur yang mereka sebut Oosthoek dan dianggap daerah miskin, menjadi kawasan yang produktif secara ekonomi. Cara yang ditempuh adalah melalui pertanian dan pengolahan tebu.

Akibatnya petani Jawa, yang kehidupannya pada masa itu berpusat pada produksi padi skala kecil, terpaksa ganti haluan menjadi pekerja di perkebunan tebu. Dalam setengah abad, budidaya tebu dan industri gula membawa kesejahteraan bagi penduduk kawasan Tapal Kuda dan menjadikan Pasuruan salah satu wilayah paling kaya di Jawa.

proefstation-oost-java-1915-kitlv

POJ Pasuruan 1915. (Dok. KITLV)

Setelah seabad eksploitasi produksi gula, datanglah sebuah periode panjang gonjang-ganjing ekonomi dan gejolak sosial. Oosthoek terancam oleh goyahnya harga gula dunia. Begitu Depresi Besar mencapai Hindia-Belanda pada 1929, harga ekspor ambruk. Petani tebu dan pekerja pabrik gula jatuh miskin. Orang-orang Eropa dan Cina yang sebelumnya mendapat kekayaan dari industri gula juga tak luput dari kemalangan ini.

Salah satu peninggalan masa kejayaan gula di Pasuruan adalah Gedung P3GI di Jalan Pahlawan 25 yang merupakan gedung tertua di lahan terluas di Pasuruan. Masyarakat Pasuruan menyebutnya Gedung Prop, pelafalan lokal dari nama asal kantor ini, Proefstation Oost-Java (POJ). POJ didirikan pada 9 Juli 1887 dengan Dr. J.G. Kramers sebagai Direktur dan J.D. Kous sebagai Deputi Direktur.

foto-para-kepala-p3gi-pada-masa-belanda

Foto para kepala P3GI pada masa Belanda.

 

POJ adalah lembaga riset tebu/gula ketiga yang didirikan untuk mendukung industri gula di wilayah Hindia Belanda setelah Het Proefstation Midden Java di Semarang pada 1885 dan setahun kemudian Proefstation voor Suikerriet in West Java didirikan di Kagok, Majalengka.

Hindia Belanda membuat beragam riset berbasis gula, on farm dan off farm, di sini. Riset on farm adalah terkait tanaman tebu hingga siap digiling di pabrik, dan off farm adalah dari proses penggilingan sampai jadi gula.

sereh-tebu

Penyakit sereh-tebu. (Foto: istimewa)

Berdirinya POJ Pasuruan tak lepas dari dua hal besar yang sedang merebak saat itu, yakni penyakit sereh yang melanda hampir seluruh tanaman tebu di dunia dan ancaman perdagangan gula bit, terutama dari Eropa. Penyakit sereh membuat tanaman tebu tak punya batang, dari tunggul langsung daun, sama seperti sereh.

Penyakit sereh pertama ditemukan di perkebunan tebu di Jawa Barat pada 1881, dan dalam beberapa tahun menyerang seluruh pulau Jawa. Kerugiannya besar, membuat industri gula Jawa terancam hancur.

Pada 1921 POJ merilis varietas unggul tebu POJ 2878 yang dijuluki wonder cane of Java, merupakan persilangan antarspesies, di antaranya tebu (Saccharum officinale) dan gelagah (Saccharum spontaneum). Delapan tahun setelah dirilis, POJ 2878 telah ditanam di 90 persen areal tebu di Jawa dan kemudian berhasil menyelamatkan industri gula dunia yang nyaris rontok akibat penyakit sereh.

POJ juga merilis POJ 3016 pada 1930, varietas yang memiliki produktivitas tinggi dan dalam waktu singkat mencapai 90 persen areal tebu Jawa. Artikel Abraham Nurcahyo, “Tata Kelola Industri Gula di Situbondo Masa Kolonial dan Kebijakan Pergulaan Masa Kini” dalam Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya (2011), menuliskan bahwa produksi gula dari 151 kuintal per hektare pada 1928 menjadi 176,3 kuintal per hektare pada 1940. Temuan hasil riset di Pasuruan langsung dikenal dunia, dan POJ jadi kiblat pada masa itu.

 

Seiring perubahan zaman, peneliti gula di POJ berubah-ubah kebangsaan. Dari Belanda, ke Jepang, hingga kemudian dinasionalisasi pada 1957, POJ sepenuhnya dipegang orang Indonesia, namanya menjadi Balai Penyelidikan Perusahaan-Perusahaan Gula (BP3G).

Pada 1987, nama BP3G diganti menjadi Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) dan berlaku hingga kini. Inisial POJ yang sebelumnya digunakan untuk varietas temuan lembaga ini, sejak 1957 berubah inisial jadi PS, mengacu pada Pasuruan.

“Walau sudah seabad, teori-teori yang dibangun pada zaman Belanda masih relevan sampai sekarang dan varietas POJ  tetap jadi ‘keyword’ P3GI,” ujar Manager of Marketing, Training & Information P3GI Aris Lukito saat dijumpai di Pasuruan beberapa waktu lalu. Lanjut Aris, hingga kini banyak yang datang dari luar negeri, termasuk anak-cucu direktur-direktur pada masa lalu, untuk melihat jejak sejarah temuan-temuan terdahulu.

 

P3GI bukanlah satu gedung, melainkan kompleks bangunan di dalam satu kawasan seluas 10 hektare. Bagi wisatawan peminat sejarah, P3GI masuk dalam daftar yang wajib dikunjungi. Di antara pohon-pohon tua nan rindang, dapat kita lihat gedung-gedung tua yang masih difungsikan.

Berbeda dengan kantor-kantor lainnya, P3GI terbilang sepi dari karyawan yang wira-wiri. Maklum saja, lahan 10 hektare itu hanya diisi 150 hingga170 karyawan, termasuk di antaranya 30-40 peneliti. Praktis, satu orang punya “ruang kerja” sampai 100 meter persegi.

img_3978

Tiap jendela disambungkan ke tuas besi. (Foto: Silvia Galikano)

Bangunan yang paling dekat dengan jalan raya adalah gedung aula yang digunakan sebagai ruang pertemuan, menerima kunjungan skala besar, atau disewakan untuk tempat pernikahan. Di halamannya, di kerindangan pohon sosis (Kigelia africana) ditempatkan mesin giling tebu bermerek Robinsons Patent buatan London 1851 yang dulu pernah digunakan.

Tampilan luar aula masih mempertahankan bentuk asli dengan fasadnya mencirikan gaya arsitektur neo-klasik dan modern awal. Dinding terbagi dua, bawah dan atas, yakni berlapis batu alam dan polos. Pintu utamanya satu rangkaian dengan panel-panel jendela kaca yang secara keseluruhan membentuk setengah lingkaran (arch) berukuran besar.

Bagian dalam aula dibagi menjadi dua bagian sama luas, depan dan belakang, dipisahkan dinding berpintu. Besar kemungkinan dinding pemisah ini dibuat belakangan. Bagian depan adalah bentuk asli aula. Langit-langit melengkung dan tinggi, mencapai 4 meter.

Jendela juga tinggi dengan bingkai bawahnya saja hampir 2 meter. Itu sebabnya tiap jendela disambungkan ke tuas besi yang turun hingga setinggi pinggang orang dewasa untuk memudahkan membuka dan menutup jendela.

gedung-serbaguna-p3gi-13

Gedung Serbaguna P3GI yang disewakan sebagai gedung resepsi. (Foto: Silvia Galikano)

Sayangnya ubin lama sudah tak ada, berganti ubin keramik. Menurut Aris, banjir membuat ubin lama rusak sehingga harus diganti. Saat aula sedang tak digunakan, ruang ini digunakan karyawan sebagai ruang untuk bulu tangkis.

Jika aula bagian depan masih mempertahankan kesan kunonya, bagian belakang aula dibentuk layaknya ruang resepsi masa kini. Sepanjang langit-langit, dinding, dan jendela dipasang aksen kayu membujur yang membuat tingginya langit-langit tersamarkan, serta ciri kekunoan jendela hilang tertutupi.

Jangan dilewatkan juga melihat laboratorium. Di sana ada balkon kayu yang menempel ke tiga sisi dinding. Balkon ini sekadar tempat berdiri bagi yang ada keperluan mengambil/meletakkan sesuatu di lemari gantung yang ditempelkan di dinding atas, nyaris menyentuh langit-langit.

laboratorium-p3gi-1

Laboratorium P3GI. (Foto: Silvia Galikano)

 

Pengunjung dibolehkan naik, melihat lemari tua berikut labu dan stoples kaca di dalamnya. Karena balkon sempit dan jalan naik/turun hanya ada satu tangga yang lumayan curam, maka yang naik sebaiknya maksimal dua orang.

Bangunan lain yang masih mempertahankan sebagian besar bentuk aslinya adalah rumah jabatan direktur P3GI yang juga berada paling luar, sederet aula. Ada beberapa anak tangga di kanan dan kiri untuk naik ke teras rumah. Pintu depan dan empat jendela yang mengapitnya sudah diganti pintu dan jendela kaca. Jendela lama, berterali besi dan berdaun jendela jalusi (krepyak) kayu, tersisa di dua ruang yang jendelanya menghadap depan.

rumah-jabatan-kepala-p3gi

Rumah jabatan Kepala P3GI. (Foto: Silvia Galikano)

Di sinilah direktur-direktur POJ sejak era Hindia Belanda hingga kini bertempat tinggal. Pengunjung hanya diperbolehkan melihat-lihat dari luar karena rumah ini masih dihuni direktur dan keluarga. Jika ingin melihat bagian dalam diperlukan surat-menyurat resmi terlebih dahulu.

***
Dimuat di majalah SARASVATI edisi Februari 2017

 cover_edisi_39-1