Bukan Tabu, ‘Ave Maryam’ Adalah Kemuliaan

 

Judul: Ave Maryam
Sutradara: Ertanto Robby Soediskam
Skenario: Ertanto Robby Soediskam
Pemain: Maudy Koesnaedi, Chicco Jerikho, Olga Lydia, Joko Anwar
Durasi: 73 menit
Oleh Silvia Galikano

Maryam (Maudy Koesnaedi) adalah biarawati yang mengabdikan diri untuk mengurus biarawati lansia di sebuah biara di Ambarawa.

Selain ibadah di kapel, rutinitasnya adalah memandikan biarawati sepuh, menyiapkan obat-obatannya, mencuci dan menyeterika, serta menyiapkan makanan untuk keperluan biara. Semua dikerjakan bersama-sama dengan biarawati lain.

Di tengah kesehariannya yang terbilang datar itu, datanglah Romo Yosef (Chicco Jerikho) yang akan membimbing orkestra gereja. Romo Yosef datang tidak sendirian, melainkan bersama Suster Monic (Tutie Kirana), orang yang membesarkan dan merawatnya hingga menjadi pastor.

Suster Monic sebenarnya bukanlah orang baru di biara ini. Dulu saat muda, dia pernah bertugas merawat biarawati lansia juga. Sebab itu kehadirannya kali ini adalah pulang ke rumah yang dulu diakrabinya.

Merawat Suster Monic menjadi tugas utama Maryam. Namun karena Suster Monic pulang dalam kondisi sakit, ditambah sifatnya yang keras, merawat Suster Monic menjadi tantangan kesabaran Maryam.

Kehadiran Romo Yosef membawa udara baru bagi Maryam. Dia kerap terlihat berdiri lama di balik pembatas kaca memperhatikan Romo Yosef memimpin latihan orkestra gereja.

Bukan karena sadar diperhatikan, melainkan memang Romo Yosef memberi perhatian lebih pada Maryam. Dia diam-diam menghampiri untuk mengajak Maryam ke luar, dengan cara menitipkan pesan lewat gadis kecil pengantar susu yang jadi langganan biara atau juga menitipkan catatan lewat suster kolega Maryam.

Maryam jadi semakin sering keluar biara. Dia mulai terlambat datang ibadah ke kapel, pekerjaan di biara terbengkalai, jadwal memberi obat terlewat, bahkan suatu malam dia sampai di biara dalam kondisi Suster Monic demam tinggi.

Sebenarnya suster-suster lain, termasuk Suster Monic, sudah mencium ada sesuatu antara Romo Yosef dan Maryam tapi tak ada yang menanyakan secara langsung.

Keduanya makin dekat walau tahu hubungan ini salah, terlarang, dan melanggar kaul yang mereka buat. Namun dorongan hati mengalahkan semua itu.

Hal paling mengemuka dalam obrolan para pencinta film tentang Ave Maryam adalah menyesalkan adanya sensor untuk film ini. Dari masa tayang asli 85 menit (versi ini diputar di berbagai festival di luar negeri), lalu lolos sensor 22 Januari 2019 berdurasi 74 menit untuk kategori 21 tahun ke atas, hingga akhirnya lolos sensor 1 Maret 2019 berdurasi 73 menit untuk 17 tahun ke atas.

Alhasil, film yang sudah “plontos” itu (apes sekali penonton Indonesia), memunculkan pertanyaan-pertanyaan akibat 12 menit adegan yang dipotong. Ambil contoh, film hasil sensor tidak menyebut latar belakang Maryam yang muslim. Akibatnya, gestur dan simbol-simbol yang bertebaran di film ini selain jadi kehilangan makna juga menimbulkan pertanyaan.

Di luar urusan sensor, film ini adalah kabar gembira bagi mereka yang selama ini alergi menonton film festival. Untuk catatan, Ave Maryam tayang di Hanoi International Film Festival 2018, Hong Kong Asian Film Festival 2018, seleksi resmi The Cape Town International Film Market and Festival 2018, serta 13th Jogja-Netpac Asian Film Festival 2018.

ave maryam, film ave maryam, ave maryam movie
Adegan di foto kanan terkena gunting sensor.

Tidak seperti stereotipe film festival yang susah dicerna, Ave Maryam enak ditonton dan dialognya ringan berselip gombalan menggelikan.

Gombalan itu datangnya  dari Pastor Yosef yang muda, ganteng, dan gondrong, pada suatu malam dan hujan deras mengetuk pintu asrama Maryam, “Maryam, aku ingin mengajakmu keluar mencari hujan di tengah kemarau.” Eeaaa….

Sutradara Ertanto Robby Soediskam  sepertinya memang memperhatikan benar urusan dialog. Karakter-karakter dalam film ini tak bicara berpanjang-panjang tapi selalu mengena.

Seperti dialog Suster Monic berikut yang sangat layak kutip, “Jika surga belum pasti untukku, untuk apa aku mengurusi nerakamu?”

Selain itu, alih-alih disampaikan lewat omongan, penonton dapatkan konflik batin Maryam dan Romo Yosef dalam gestur mereka. Romo Yosef yang tak henti-henti mengepulkan asap rokok di hadapan berlembar-lembar partitur, tapi pikirannya jelas tak ke sana. Juga ketika kamera menyorot dekat ke wajah Maryam, perempuan matang usia 40 tahun, yang resah setiap hendak tidur sejak kehadiran Romo Yosef.

Maudy Kusnaedi dan Chicco Jerikho menunjukkan kelas mereka sebagai aktris dan aktor. Pertanyaan tentang keyakinan yang dianut pemainnya, sama sekali tak relevan dan tak penting.

Lewat Ave Maryam, masyarakat dapat melihat apa yang ada di balik biara. Keseharian para biarawati, kekhusukan dalam mengerjakan sesuatu, dan kesederhanaan mereka. Pesan toleransi antaragama jelas ada, walau pesan itu akan berbicara lebih lantang seandainya Ave Maryam tidak disensor.

Setelah Ada Apa dengan Cinta 2  (2016) membuat banyak lokasi syuting di Yogyakarta sebagai destinasi wisata, juga Dilan 1990 (2018) dan Dilan 1991 (2019) membuat rumah Milea di Malabar, Bandung dikunjungi penggemar yang penasaran, kini bersiap saja Semarang diserbu para instagrammer. Maka Kota Lama Semarang tak akan pernah sama lagi.

***
Dimuat di detikcom, Jumat, 12 April 2019

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.