Kampong Ayer di Pintu Brunei

Kampong Ayer



Bandar perdagangan yang riuh di masa lalu, masih cantik hingga kini.



Oleh Silvia Galikano

Brunei dahulu tak beda dengan negeri kaum Melayu pesisir umumnya yang hidup dari menjaring ikan dan berdagang. Rumah-rumahnya berbentuk rumah panggung sederhana berdinding dan beratap daun nipah, dengan balok nibung, bakau, dan bulian sebagai penyangga rumahnya.

Brunei yang sekarang adalah negeri petro dolar sejak ditemukannya sumur minyak di Kuala Belait pada 1928. Hasil kekayaan perut bumi ini kemudian digunakan seluas-luasnya untuk kepentingan rakyat. Sekolah gratis, rawat jalan di rumah sakit gratis bahkan bagi warga non-Brunei, rawat inap gratis bagi warga Brunei, jalan tol gratis, taman bermain macam Dufan di Jakarta itu juga gratis.

Jika di negara tetangganya, Malaysia, harga tiket masuk untuk turis asing empat kali lipat lebih mahal dibanding untuk turis lokal, musea di Brunei gratis.

 

Sally

Di Museum Brunei yang menyimpan artefak Brunei sejak masa awal peradaban, di Monumen Semiliar Barel untuk mengenang “mengkilatnya” minyak negeri ini hingga menghasilkan satu miliar barel untuk yang pertama kali, di Royal Regalia yang menyimpan benda-benda koleksi kerajaan, hingga di makam Sultan, tidak ada loket karcisnya, dan tidak ada petugas yang bertanya “Anda orang asing atau lokal?” Haratesss di mana-mana.

“Di sini, kalau bayar, pasti ngga laku,” kata Sally Piri yang jadi tuan rumah selama dua malam saya di Brunei. Dia wartawan asal Indonesia yang bekerja di harian Brunei Times, Bandar Seri Begawan, ibukota Brunei Darussalam.

Meski negeri kerajaan mungil ini sudah gemah ripah loh jinawi, Brunei masih “mengawetkan” sedikit sisi Brunei masa lalunya, yakni di Kampong Ayer, tengah kota Bandar Seri Begawan. Kampung ini berada di atas Sungai Brunei yang bermuara di Teluk Brunei.

Pada zaman keemasan kerajaan Brunei, Kampong Ayer pernah menjadi pusat pemerintahan. Kampong Ayer juga berperan sebagai pusat pelabuhan dan perdagangan antara Brunei dan negeri-negeri lain, seperti Tiongkok.

Kami menyewa perahu untuk menyusuri Kampong Ayer. Sambil menunggu perahu pesanan mendarat, kami duduk di pangkalan para pengemudi perahu. Siang itu bersamaan dengan waktunya murid sekolah pulang.

Sekolah Rendah Datu Godam

Rombongan anak sekolah menengah memenuhi dua perahu yang tak menunggu lama segera melaju. Murid laki-laki bercelana panjang, dan murid perempuan berjilbab. Seragam mereka putih (kemeja serta jilbab) dan hijau (celana panjang juga rok panjang). Mereka adalah anak-anak Kampong Ayer yang bersekolah di darat. Perahu ini angkot mereka setiap hari.

Tak lama, datang perahu yang kami pesan. Hilmi nama pengemudinya. Pria usia 20-an yang irit bicara.

Perahu kayu bermotor melaju pelan di tengah-tengah Sungai Brunei yang lebarnya sekira 20 meter. Melewati rumah-rumah panggung di kedua sisi sungai. Rumah-rumah berdinding papan, beratap seng, dan berantena parabola. Cat dindingnya macam-macam warna. Ada yang warnanya masih kinclong, ada pula yang sudah kusam.

Ukuran satu rumah lebih-kurang 10×10 meter. Ada titian sebagai penghubung antarrumah. Sempat terbaca plang kayu di salah satu tiang rumah bertuliskan “Di sini ada bejual udang hidup”.

Di beberapa tempat saya lihat hanya berdiri tiang-tiang kayu merana tanpa rumah, tak ada yang disanggah. Mungkin rumahnya sudah lapuk dan dibiarkan hancur karena pemiliknya punya rumah lain yang baru.

Kayu bulian terkenal sebagai kayu bandel yang semakin sering terkena air akan semakin kuat, karenanya dijadikan tiang pancang rumah apung. Tak heran juga kalau bagian lain rumah sudah lapuk, tiang rumah dari bulian tetap kokoh tak gentar deraan alam.

Kata Hilmi, “Kayu masih digunakan sebagai tiang-tiang rumah di sini. Tapi banyak pula yang rumahnya sudah lapuk, mereka sekalian mengganti tiang kayu dengan semen cor.” Dia tunjukkan rumah bertiang semen itu. Bentuk tiangnya silinder dengan diameter yang lebih besar dibanding tiang kayu.

Mungkin kami datang pada saat yang salah. Tengah hari adalah waktunya makan, shalat zuhur, dan istirahat siang. Hampir semua pintu rumah dalam keadaan tertutup dan tidak terlihat kesibukan di tempat yang terbuka. Oh iya, kecuali satu, ada seorang ibu sedang mengemasi pakaian yang dijemur di teras depan rumah.

Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer

Kami melewati bangunan panjang sekolah yang juga berdinding papan dan beratap seng. Sekolah Rendah Datu Godam Negara Brunei Darussalam namanya. Murid-muridnya sudah pulang. Beberapa perempuan dewasa berbaju kurung dan berkerudung warna-warni menyolok nampak berkumpul di dekat tangga turun ke sungai. Mungkin mereka para guru yang menunggu perahu jemputan untuk pulang.

Setelah melaju satu putaran, perahu sewaan ini berhenti di Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer. Galeri ini di atas air juga, berbentuk rumah panggung juga, tapi bangunannya dari batu. Bagian dalamnya sejuk berpendingin udara. Di sini disimpan miniatur rumah Kampong Ayer, baju adat, permainan anak-anak, serta alat-alat rumah tangga. Ada layar besar yang menampilkan dokumenter singkat tentang Kampong Ayer.

Tak mengapa Hilmi tidak banyak bisa bercerita, karena ternyata galeri ini menyimpan keterangan lumayan lengkap tentang sejarah Kampong Ayer. Berikut saya bagi kepada Anda.



Menurut kajian arkeologi, Kampong Ayer sudah ada lebih dari 1.000 tahun lalu. Dulu, lokasinya tidak menetap seperti sekarang, melainkan berpindah-pindah sesuai lokasi menangkap ikan dan menuruti pertimbangan keamanan.

Kegiatan ekonomi penduduknya adalah menangkap ikan, bertenun kain, dan perajin emas. Mereka juga berdagang ke Malaka hingga Tiongkok Selatan membawa hasil hutan yang ditukar dengan tembikar, emas, perak, dan sutera. Sistem perdagangannya barter, namun ada pula yang menggunakan mata uang Tiongkok dan mata uang Islam.

Brunei juga adalah pelabuhan serta pusat perdagangan bagi bahan dagangan kapur barus, kayu gaharu, dan mutiara yang dibawa dari Sulu (kepulauan antara Kalimantan dan Filipina) dan Timor sebelum dijual ke Champa, Siam, Tiongkok Selatan, dan Filipina.

Pada masa Dinasti Song (960-1279) tercatat bahwa Brunei (disebut P’o-ni) melakukan perdagangan dengan Tiongkok. Brunei memohon perlindungan Tiongkok untuk kapal-kapal dagangnya.

Pada abad ke-13 Masehi, Chau Ju-Kua, penulis buku Catatan Bangsa Asing dan Pewarta Asing asal Tiongkok, menyatakan bahwa penduduk Brunei berjumlah 10.000 orang, masyarakatnya menggunakan ki-pei (kapas) sebagai bahan pakaian selain sutera dan kain tenun emas.

Masih menurut catatan Chau Ju-Kua, kaum perempuan menggunakan sarung. Perhiasan perempuan terbuat dari emas, perak, tembaga, kaca, dan manik-manik. Pedagang Tiongkok menjual manik-manik bermacam-macam jenis dan warna di Pelabuhan Brunei dan mendapat banyak permintaan dari masyarakat.

Ada catatan awal penulis Barat pada abad ke-15 yang menjelaskan Kampong Ayer sebagai pusat permukiman yang penting ketika itu, dikenal sebagai Venesia dari Timur dan Kota Apung.

Antonio Pigafetta (1521), penjelajah dari Venesia, mencatat bandar Brunei ini dibangun di atas air, terdiri dari 25 keluarga. Menurut catatan Francisco de Sande (1578) asal Spanyol, bandar ini dibangun di kawasan perairan dengan bangunan kayu yang cantik, terutama istana raja yang amat besar.

Dalam naskah Boxer Codex (ditulis pada 1590-1593) dijelaskan tentang permukiman di tepi sungai yang dibangun rapat dan mudah dijilat api. Penduduknya menggunakan perahu yang disebut bancas. Dengan bancas ini mereka membawa dagangan jarak dekat.

Laksamana Edward Belcher dari Inggris yang datang ke Brunei pada kurun 1843-1846 mengatakan, “Brunei…sebuah kota yang dibangun di atas air.” British Resident of Brunei M.S.H. McArthur (1911) melaporkan hasil sensus pertama penduduk Brunei 21.718 orang, dan 10.000 orang di antaranya tinggal di Kampong Ayer.

Kampung nelayan ini terus berkembang makin luas, sehingga menjadi permukiman utama dan pusat perdagangan. Pusat pemerintahan Brunei juga di Kampong Ayer hingga akhir abad ke-19. Sultan-sultan Brunei dahulu mendirikan istana di sini sebelum pemerintahan pindah ke darat.

Istana lama di Kampong Ayer itu masih ada sampai sekarang. Tapi karena siang itu air sedang surut (tohor, kata Hilmi), kami tidak bisa mendarat di sana. Kalau air pasang, tiang-tiang rumah terendam, jadi rumah seolah-olah mengapung di air.

Ditemukannya kilang-kilang minyak di Brunei ikut mengubah gaya hidup masyarakat Kampong Ayer, meninggalkan gaya hidup tradisional turun temurun dan jadi masyarakat “modern”. Boleh saja rumah-rumah di sini adalah rumah sederhana terbuat dari kayu, tapi di darat, ada area parkir mobil khusus untuk masyarakat Kampong Ayer. Sedan buatan Jepang dan Jerman isinya.

Ratusan tahun sudah lewat, tak lagi sehiruk pikuk dahulu, namun belum hilang jejak masa silam Kampong Ayer. Saksikan sendiri jika Anda berkesempatan ke Brunei Darussalam.


Dimuat di Reader’s Digest Indonesia, Januari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s