Seikat Bunga dalam Batik Belanda

Image

Budaya Belanda memberi banyak sumbangan pada batik Nusantara, dari ragam flora hingga balon udara.

Oleh Silvia Galikano

Di sehelai sarung berwarna dasar putih terbubuh corak buketan (karangan bunga), burung, gitar, dan balon udara yang menerbangkan satu orang. Tertulis “Baloen” dalam huruf kapital di tengah balon.  Aneka corak itu didominasi warna biru tua. Papan (sebutan untuk bagian depan sarung) dan pinggir kain juga berwarna senada dengan corak sarung.

Kain sarung batik dari tahun 1910 itu punya keunikan dibanding batik yang biasa kita temui, semisal batik Yogya/Solo atau batik-batik pesisir. Inilah yang dikenal dengan nama batik Belanda (disebut juga sebagai batik Kompeni).

Perhatikan contoh lain, yakni kudung dengan corak dongeng Si Topi Merah dengan Srigala (Red Riding Hood with the Wolf) serta lunglungan pohon anggur yang jelas-jelas menunjukkan bahwa ini batik Belanda. Dongeng Si Topi Merah dengan Srigala berasal dari Eropa (Prancis) berikut gambar karakternya yang berbusana Eropa. Corak pohon anggur juga tidak dikenal di batik Nusantara.

Sebenaranya batik Belanda tak lain adalah batik Indonesia yang motifnya mendapat pengaruh dari budaya Belanda. Pada masa kolonial, banyak warga Belanda yang menetap di Indonesia jatuh cinta pada batik Indonesia, di samping jenis bahan yang biasa mereka pakai di Belanda terlalu gerah untuk iklim tropis.

Namun demikian, para perempuan Belanda ini menginginkan warna dan pola yang akrab dengan keseharian mereka. Karenanya mereka membuat corak bunga khas Belanda dan Eropa, termasuk corak dongeng, dengan warna yang lebih ceria untuk batik mereka.

Batik-batik tua bercorak khas Belanda itu yang pada 8 Maret hingga 4 April 2013 dipamerkan di Erasmus Huis, Jakarta dengan tema “Batik Belanda from Time to Time”. Seluruhnya ada 27 item yang merupakan koleksi Galeri Batik (12 item), Museum Tekstil (4 item), dan koleksi pribadi Asmoro Damais (11 item). Pameran ini juga adalah lanjutan dari kolaborasi Erasmus Huis dengan Jakarta Fashion Week yang digelar pada November 2012.

Seperti diucapkan Direktur Galeri Batik, Tumbu Ramelan, “Batik Belanda adalah bagian dari keberadaan batik Indonesia,” maka dapat dipahami bahwa tradisi batik di Nusantara tidak dapat dianggap sebagai hasil dari pengembangan satu budaya saja. Inilah karya dari hasil silang budaya. Selain Belanda dan Eropa, terjejak juga budaya Tiongkok, Jepang, dan India di batik Nusantara.

Kembali ke batik Belanda, setidaknya tercatat lima produsen batik Belanda pada abad ke-19 dengan kekhasan masing-masing, yakni Batik Van Zuylen, Batik Van Oosterom Catharina, Batik Prankemon (Vranquemont), Batik Metzelaar, dan Batik Jans.

Batik Vranquemont mengawali tren batik beraneka warna dan terkenal akan warna hijaunya. Pada 1840, nona Van Vranquemont berhasil meniru ragam warna dari chintz asal India, dengan menggunakan bahan-bahan warna nabati.

Batik Metzelaar adalah perintis corak buketan di desain batik. Nyonya L. Metzelaar yang memulai usaha pada 1880 ini juga menampilkan motif bunga berulang pada pinggir, isen latar berupa garis diagonal dan bintik-bintik yang disebut isen Metz, serta penambahan burung kecil.

Kekhasan Batik Metzelaar seringkali ditiru produsen batik lain, termasuk oleh Batik Van Zuylen di Pekalongan. Corak buketan Metzelaar yang sebelumnya sederhana, berkembang menjadi buket semarak di tangan Nyonya Van Zuylen dan dikenal dengan nama corak buket pansellen Van Zuylen.

Perusahaan-perusahaan yang dikelola perempuan pengusaha Indo-Eropa itu memproduksi batik dengan tujuan komersial, berbeda dengan batik yang dihasilkan para perempuan Jawa di rumah untuk dipakai sendiri. Mereka perintis proses produksi dengan sistem badan usaha.

Pada awal abad ke-19 mereka mulai mempekerjakan perempuan-perempuan Jawa pembatik dengan mempraktikkan sistem panjar. Seluruh proses produksi berlangsung di pekarangan belakang rumah masing-masing pengusaha.

Di masa itu, koleksi sarung dalam jumlah besar menunjukkan kedudukan sosial sekaligus bentuk investasi. Sudah jadi kebiasaan pula untuk memperlihatkan koleksi sarung kepada para perempuan yang bertamu. Nyonya rumah akan membuka tiap helainya, menunjukkan tulisan nama perusahaan batik yang memproduksi serta tanda tangan yang tertera di masing-masing sarung.

Jika koleksi di dalam lemari adalah batik tua dan tidak bertanda tangan, itu artinya warisan dari ibu, nenek, atau bibi yang membuktikan bahwa keluarga nyonya rumah sejak sekian generasi sudah mampu membeli canting yang mahal harganya.

Batik, yang pengerjaannya bisa memakan waktu hingga enam bulan, itu tidak pernah sekadar bahan sandang. Ada harapan dititipkan di setiap tahap pengerjaannya. Tak terkecuali batik Belanda yang hingga kini masih digemari karena keunikan coraknya.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 68, 18-24 Maret 2013

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s