Sentot Alibasyah dalam Lingkaran Perang Padri

Sentot Alibasyah Prawirodirjo, bengkulu
Sentot Alibasyah Prawirodirjo

Membicarakan Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825 – 1830) tak akan lengkap tanpa memaparkan peran panglima perangnya, Sentot Alibasyah Prawirodirjo (1807 – 1885), sang ‚ÄúNapoleon Jawa”.

Nama aslinya Sentot Prawiro Dirjo. Menyandang “pangkat” Phasya atau Bashya di usia 17 tahun. Gelar yang diambil dari dari struktur tentara Turki Utsmani itu berarti panglima perang,

Setelah diangkat menjadi panglima perang oleh Pangeran Diponegoro dia menjadi Sentot Alibasyah Prawirodirjo.

Baca juga Masjid Jamik Bengkulu

Sentot memiliki pasukan khusus gerilya berkuda sejumlah 1000 orang yang semuanya bersorban. Pasukan Sentot tak ada yang infantri. Semua kavaleri berkuda dengan keutamaan serangan kilat, cepat dan mematikan!

Sangat menarik bahwa kisah akhir panglima militer muda yang jenius dan ditakuti lawan lawannya, tercatat dalam sejarah terlibat dalam Perang Padri (1821 – 1837) walau dalam posisi yang bertolak belakang.

Semoga dengan ini kita belajar memahami apa yang terjadi. Ada satu kutipan buku yang saya pikir menarik untuk bahan pertimbangan.

Baca juga Dua Nelayan Pantai Bengkulu

Sentot Alibasyah Prawirodirjo, makam, bengkulu
Jalan masuk ke arah makam Sentot Alibasyah, Bengkulu, difoto dari dalam. (Foto: Silvia Galikano, 2014)

Di Minangkabau, dia terkenal sebagai anak emas Van den Bosch, tokoh Belanda paling berkuasa yang pernah dikirim ke kepulauan Nusantara. Ia diberi pangkat letnan kolonel, banyak uang, hidup penuh kemewahan, mempunyai barisan sendiri, dan mendapat perlakuan istimewa.

Orang-orang Belanda dalam tentara sangat tidak menyenanginya. Bukan saja karena tulang punggungnya begitu kuat, melainkan sudah menjadi kebiasaan orang totok untuk tidak menyenangi perwira berkulit berwarna.

Selain itu, penduduk setempat pun tidak menyenangi Sentot. Ia dianggap sombong dan agak meremehkan penduduk asli.

Baca juga Layar Terakhir Bioskop Sempurna

Sentot tidak lama di Sumatera Barat. Sebelum Perang Pidari dimenangkan Belanda, khusus setelah terjadi “serangan fajar” tahun 1833, harapannya untuk dijadikan raja kecil pun pupus.

Serangan serentak dilakukan “Kaum Putih” sewaktu fajar menyingsing tanggal 11 Januari 1833, mengubah segala rencana Van den Bosch. Dalam waktu 24 jam, ratusan tentara Belanda tewas dan seluruh Sumatera Barat bagian utara (kecuali kota-kota pantai), jatuh lagi ke tangan Pidari.

Tentara yang sebelumnya senantiasa melaporkan kepada Van den Bosch bahwa keadaan sudah “aman” dan perang segera akan berakhir, sekarang saling tuding dan tuduh dengan orang-orang pemerintahan sipil dan berusaha mencari kambing hitam.

Baca juga Rumah Inggit Garnasih

Sentot termasuk salah seorang yang dijadikan kambing hitam, dituduh “berkhianat” oleh berwira-perwira bule di sana. Banyak bangsa kita yang tidak bersalah menjadi korban kaum militer yang sedang kalap karena dipermalukan oleh serangan mendadak orang-orang Pidari waktu subuh itu.

Setelah diselidiki secara cermat, ternyata semua tuduhan itu tidak benar, termasuk tuduhan atas diri Sentot. Ini diakui oleh Van den Bosch. Akan tetapi, anak muda pemberani seperti Sentot dituduh yang bukan-bukan, bisa menggawatkan keadaan kalau tetap berada di Sumatera Barat.

Sentot Alibasyah Prawirodirjo, makam, bengkulu
Cungkup makam Sentot Alibasyah di Bengkulu. (Foto: Silvia Galikano, 2014)

Oleh karena itu, Van den Bosch mengambil jalan keluar paling aman, dia dipersilakan mengaso ke Bengkulu, diberi tunjangan lebih dari cukup (juga untuk para pengikutnya), dan tetap hidup serbamewah seperti di Padang.

Secara resmi, Barisan Sentot baru dibubarkan pada Januari 1834. Bagian terbesar dari pasukannya dipecah, dilebur ke dalam kesatuan-kesatuan tentara Hindia Belanda. Mereka tidak diizinkan menjadi satu kesatuan lagi.

Baca juga Rumah Kiagus Husin, Karya Bung Karno di Bengkulu

Para perwiranya yang bergelar pangeran diangkat menjadi mayor, seperti Suryobronto; cucu Sultan Yogya dan yang bergelar raden temenggung diangkat menjadi kapten, umpamanya Prawirodipuro, Notoprawiro, dan Prawirokusumo; sedangkan yang temenggung diangkat menjadi letnan satu, seperti Prawirosudiro dan Sosroatmojo.

Akan tetapi, ada juga yang diangkat menjadi letnan dua, seperti Kartowongso dan Prawirodilogo; malah ada yang juga hanya sersan, seperti Joyosentono. Mereka ini meneruskan perjuangan membantu Belanda melawan Pidari. Semuanya berjumlah sekitar 600 orang masuk tentara Hindia Belanda.

Sebagian lagi dilepas dari dinas ketentaraan. Mereka mendapat tunjangan yang cukup selama mereka belum mendapat pekerjaan yang tetap. Mereka boleh menetap di Sumatera, boleh juga kembali ke Jawa atas ongkos pemerintah.

Baca juga Kitab Kuliner Warisan Sukarno Diterbitkan Ulang

Ada pula yang diberi uang pensiun besar, tetapi harus bermukim terus di Sumatera. Umpamanya di Padang seperti halnya Raden Temenggung Mangundipuro (bapak Kapten Prawirodipuro) atau Raden Temenggung Purwonegoro (mertua kapten yang sama).

Kedua raden temenggung ini mendapat tunjangan tidak kurang dari 174 gulden sebulan. Jumlah yang tidak sedikit untuk waktu itu. Seorang lagi Temenggung Ponconegoro, entah apa sebabnya ia harus diam di Tapanuli dengan uang pensiun 65 gulden sebulan.

Sentot Alibasyah Prawirodirjo, makam, bengkulu
Tertulis di nisan: K.P.H Alipascha Sentot Abd Mustapa Prawirodirjo. Wafat 17 April 1885. (Foto: Silvia Galikano, 2014)

Sebagian lagi (kurang lebih 40 jiwa bersama keluarga) diberi tanah di dekat Padang untuk bertani. Selama satu tahun hidup mereka dijamin oleh pemerintah.

Tentu banyak pula yang memilih tinggal di Minangkabau karena terpikat gadis-gadis Minang yang terkenal cantik dan istri yang baik. Sejak generasi kedua, perkawinan ini banyak dijalankan dan anak-anak serta keturunan mereka benar-benar sudah menjadi orang Minang. Nama dan bahasa Jawa mereka pun kemudian menjadi hilang.

Baca juga Makam Raden Saleh dan Jejak Sukarno di Tanah Bangsawan Sunda

Yang cukup menarik adalah besarnya pensiun yang diberikan Pemerintah Belanda kepada para kiai bekas barisan Sentot. Yang tertinggi adalah Haji Nisa, menetap di Padang, menerima pensiun tidak kurang dari 224 gulden sebulan.

Mungkin karena dia juga dianggap mengepalai semua orang asal suku Jawa di sana. Dua lainnya (Kiai Penghulu dan Kiai Melangi) masing-masing menerima 115 gulden sebulan.

Satu lagi yang juga menarik ialah kedudukan yang baik diberikan pemerintah kepada keturunan bekas Barisan Sentot ini. Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa pada saat jatuhnya Hindia Belanda karena Perang Pasifik, banyak dari mereka memegang jabatan penting di Sumatera Barat. Waktu itu mereka sudah lama berintegrasi dengan penduduk setempat.

Baca juga Hotel Bali Beach, Karunia Bung Karno untuk Sanur

Sentot Alibasyah Prawirodirjo, makam, bengkulu
Dua makam di samping makam Sentot. Di nisan makam kiri bertuliskan “Sayid Muhammad Zen Al Mahdi”. Satu makam lagi tak bernama..(Foto: Silvia Galikano, 2014)

Bukan saja nama-nama, melainkan bahasa ibu mereka pun sudah lama tidak dipakai dan terlupakan. Di antara mereka ada yang keturunan langsung Sentot Alibasya (saudara, kemanakan, atau sepupunya).

Kecuali pangkat-pangkat yang dikaitkan dengan adat, seperti kepala laras dan penghulu kepala, mereka menguasai semua kedudukan penting dalam jajaran pemerintahan abad yang lalu.

Yang terpenting di antaranya ialah di bidang perkopian, seperti mantri kopi klas 1 sampai klas 3. Juga mantri-mantri lainnya: mantri cacar, mantri candu, mantri jalan, mantri pasar, dan mantri pajak. Ada lagi di bidang perkeretaapian, pertambangan batu bara,kepolisian, dan lain-lain.

Baca juga Bentang Bagak Arsitek F. Silaban

Namun, yang paling menarik ialah setelah pangkat kepala laras diganti dengan demang, banyak dari mereka memegang jabatan tertinggi untuk pribumi ini, misalnya Wongsosentono (Abdullah) jadi demang, antara lain di Pariaman.

Sebelum itu, sebagai mantri kopi, dia berpindah-pindah tempat di Kabupaten Lima Puluh Kota. Kartowongso (Ibrahim) menjadi demang di Ulakan, Painan, dan Talamau, setelah sebelumnya menjadi mantri kopi di daerah-daerah rawan, seperti Solok dan Alahan Panjang.

Dia anak Wongsodirjo (Solihin) yang juga bekerja di perkopian sejak dari Halaban hingga Padang Panjang. Sorang lagi bernama Wirioharjo (Rusman), ipar Kartowongso, pernah menjadi mantri kopi di Payakumbuh, Tanjung, Bukitsileh, Lubukgadang, dan lain-lain tempat sebelum diangkat menjadi Demang Batang Hari dan Rao.

Baca juga Bali Hotel dan Singgahnya Negarawan Dunia

Siapa tidak kenal nama Wirado Prawirodirjo. sebagai mantri kopi klas 1, dia tewas dibunuh rakyat selama Pemberontakan Pajak tahun 1908 (di Kamang) atau nama-nama termasyur waktu itu, seperti Prawirodimejo (Karah), Poncoduria (Wahab), Wongsoprawiro (Ahmad), dan Wongsosasmito. Tolong Datuk Basa (anak Joyokarsono) malah pernah menjadi kepala laras di Lubuk Sikaping. Ada pula yang menjadi guru di Batusangkar, seperti Wiriojoyo.

Sentot Alibasyah Prawirodirjo, makam, bengkulu
Makam di sekitar makam Sentot Alibasya di Bengkulu. (Foto: Silvia Galikano, 2014)

Demikianlah sekilas tentang keturunan yang disebut Barisan Sentot. Yang banyak diketahui ialah tentang mereka yang berkedudukan penting. Kita tidak mempunyai keterangan-keterangan tentang mereka dari keturunan para prajurit biasa.

Pemimpinnya sendiri, Sentot Alibasya Prawirodirjo, tidak sempat menjadi raja kecil di Minangkabau. Seperti ditulis tadi, karena serangan di waktu fajar bulan Januari 1833. Dia meninggal di Bengkulu tanggal 17 April 1855.

Konon sewaktu wafat, Sentot meninggalkan 7 istri (4 tidak resmi) dan 28 anak (7 tidak resmi).

Baca juga Edhi Soenarso dalam Catatan Kuratorial Seni

Dengan demikian, berakhirlah riwayat pemuda flamboyan, pemberani dan ambisius. Andai kata tidak terjadi serangan fajar orang-orang Pidari dan andai kata Belanda masih berkuasa, sekarang di Minangkabau (di XII-Kota atau XX-Kota) mungkin berdiam seorang raja kecil keturunan Sentot dengan keraton dan tentara sendiri, dengan tugas terpenting, menyiapkan tentara bantuan bagi Belanda jika terjadi pemberontakan rakyat di sana.

Mungkin pula di Minangkabau kini berdiam sekelompok elit bangsa Jawa. Inilah tujuan Komisaris Jenderal Van den Bosch dahulu mengirim Sentot ke Sumatra Barat.

Memang harus diakui, suatu tindakan tepat untuk daerah seperti Minangkabau yang tidak henti-hentinya berontak melawan penjajah.

***

Ditulis oleh Beny Rusmawan, 23 November 2018
Sumber: buku Cerita-cerita Lama dalam Lembaran Sejarah karya Amran , terbitan Balai Pustaka (1997).

One Reply to “Sentot Alibasyah dalam Lingkaran Perang Padri”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.